BNPB Klaim Aktivitas Warga Normal, Doris di Kubu Raya Justru Mengungsi Gegara Asap Karhutla

24 September 2026 14:47 WIB
Kondisi kabut asap karhutla yang masih menyelimuti Kubu Raya. (insidepontianak.com/Greg)

KUBU RAYA, insidepontianak.com - Pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) soal aktivitas masyarakat yang disebut tetap normal di tengah kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbanding terbalik dengan pengalaman Doris Pardede di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Pasalnya, Doris mengungkapkan, dampak kabut asap sudah masuk ke aktivitas pendidikan anak, kesehatan keluarga, hingga membuat keluarganya terpaksa harus mengungsi sementara ke Ngabang, Kabupaten Landak.

Mengutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Kepala BNPB, Suharyanto sebelumnya melaporkan kondisi penanganan karhutla kepada Presiden, Prabowo Subianto.

Ia mengklaim, aktivitas masyarakat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah tetap berjalan normal.

“Kami pastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal," kata Suharyanto.

Ia mengungkapkan, bahwa kondisi lalu lintas, toko-toko, rumah makan dan lain sebagainya justru berjalan seperti biasa.

"Bapak Presiden, tidak ada yang terganggu. Hanya memang untuk keluar masuk khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat ini yang sedikit terganggu,” lanjutnya.

Namun, pengalaman Doris menunjukkan bahwa dampak asap tidak selalu terlihat dari tutup atau tidaknya toko, rumah makan maupun lalu lintas.

Di rumahnya, kabut asap membuat anak Doris harus mengubah pola belajar.

“Karena dampak kabut asap karhutla, anak saya harus sekolah daring atau belajar dari rumah,” kata Doris, Kamis (24/9/2026).

Tak hanya itu, Doris juga mengaku khawatir dengan kondisi kesehatan keluarganya. Sebab, anak dan istrinya sempat mengalami diare. 

Di sisi lain, ia mengeluhkan kondisi air PDAM di tempat tinggalnya yang menurutnya terasa asin.

“Anak dan istri saya sempat mengalami diare,” ujarnya.

Kondisi tersebut akhirnya membuat Doris memilih membawa anak dan istrinya ke rumah mertuanya di Ngabang.

Menurut Doris, kondisi udara di Ngabang terasa lebih nyaman dibandingkan Kubu Raya dan Kota Pontianak.

“Di sana saya merasa keluarga lebih aman. Kualitas udaranya tidak separah di Kubu Raya dan Kota Pontianak,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, banyaknya pepohonan di sekitar rumah mertuanya membuat udara terasa lebih segar.

“Di sana masih banyak pepohonan yang rindang, jadi udaranya masih terasa segar,” tuturnya.

Di samping itu, persoalan air juga menjadi pertimbangan. Doris mengatakan, kebutuhan air di rumah mertuanya berasal dari sumber mata air gunung yang berada tidak jauh dari permukiman.

“Airnya juga tidak asin karena langsung diambil dari sumber mata air gunung yang tidak jauh dari rumah,” jelas Doris

Sementara itu, Doris tetap berada di Kubu Raya, karena tuntutan pekerjaan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan sisi lain dari dampak karhutla. Roda kehidupan memang tetap berjalan, tetapi bagi sebagian warga, cara menjalaninya sudah berubah.

Anak belajar dari rumah. Keluarga berpindah sementara. Dan kebutuhan dasar seperti udara serta air ikut menjadi pertimbangan.

Bagi Doris, kabut asap bukan hanya sesuatu yang terlihat dari langit atau mengganggu perjalanan keluar-masuk Kalimantan Barat. Dampaknya sudah terasa sampai ke dalam rumah. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : Wati Susilawati

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar