BNPB Sebut Aktivitas Warga Normal: Ada yang Mengungsi, Ada yang Terpaksa Bertahan di Tengah Kabut Asap
KUBU RAYA, insidepontianak.com – Pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyebut aktivitas masyarakat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah tetap berjalan normal di tengah kabut asap karhutla mendapat gambaran berbeda dari pengalaman warga.
Bagi sebagian masyarakat, roda kehidupan memang tetap berjalan. Namun, cara menjalaninya telah berubah. Ada warga yang memilih membawa keluarganya keluar dari wilayah terdampak, sementara sebagian lainnya terpaksa tetap bertahan karena keterbatasan ekonomi.
Kondisi itu salah satunya dialami Doris Pardede, warga Kabupaten Kubu Raya. Kabut asap telah memengaruhi kehidupan keluarganya, mulai dari aktivitas pendidikan anak, kekhawatiran terhadap kesehatan, hingga keputusan membawa anak dan istrinya sementara waktu ke Kabupaten Landak.
Sebelumnya, Kepala BNPB Suharyanto melaporkan kondisi penanganan karhutla kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dalam laporan tersebut, Suharyanto menyebut roda kehidupan masyarakat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah tetap berjalan normal.
“Kami pastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal,” kata Suharyanto, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.
Ia juga menyebut kondisi lalu lintas, toko, rumah makan dan aktivitas masyarakat lainnya masih berjalan seperti biasa.
Namun, bagi Doris, tetap berjalannya aktivitas masyarakat tidak berarti dampak kabut asap tidak dirasakan.
Menurutnya, warga yang berada di kawasan terdampak tetap harus menjalankan kehidupan sehari-hari dengan berbagai penyesuaian.
“Warga tidak punya pilihan selain bertahan dari kabut asap ini. Mau tidak mau aktivitas tetap harus dijalankan,” kata Doris, Kamis (24/9/2026).
Di rumahnya, kabut asap bahkan telah mengubah aktivitas pendidikan anak.
“Karena dampak kabut asap karhutla, anak saya harus sekolah daring atau belajar dari rumah,” ujarnya.
Kekhawatiran juga muncul dari kondisi kesehatan keluarganya. Doris mengatakan anak dan istrinya sempat mengalami diare.
Ia juga mengeluhkan kondisi air PDAM di tempat tinggalnya yang menurutnya terasa asin. Kondisi tersebut akhirnya membuat Doris mengambil keputusan untuk membawa anak dan istrinya ke rumah mertuanya di Ngabang, Kabupaten Landak.
Menurut Doris, kondisi udara di Ngabang terasa lebih nyaman dibandingkan Kubu Raya dan Kota Pontianak.
“Di sana saya merasa keluarga lebih aman. Kualitas udaranya tidak separah di Kubu Raya dan Kota Pontianak,” ungkapnya.
Ia menyebut keberadaan pepohonan yang masih rindang di sekitar rumah mertuanya turut membuat udara terasa lebih segar.
“Di sana masih banyak pepohonan yang rindang, jadi udaranya masih terasa segar,” tuturnya.
Persoalan air juga menjadi pertimbangan. Doris mengatakan kebutuhan air di rumah mertuanya berasal dari sumber mata air gunung yang berada tidak jauh dari permukiman.
“Airnya juga tidak asin karena langsung diambil dari sumber mata air gunung yang tidak jauh dari rumah,” jelasnya.
Meski keluarganya memilih meninggalkan Kubu Raya sementara, Doris tetap berada di wilayah tersebut karena tuntutan pekerjaan.
Tak Semua Warga Bisa Mengungsi
Berbeda dengan Doris yang dapat membawa keluarganya ke daerah lain, Ivan (45), warga Kota Pontianak, memilih tetap bertahan bersama keluarganya di tengah kabut asap.
Keputusan tersebut bukan karena kondisi udara dianggap aman. Keterbatasan anggaran membuat Ivan tidak memiliki banyak pilihan untuk mencari tempat tinggal sementara di daerah lain.
Ia mengatakan, membawa keluarga keluar dari Pontianak berarti membutuhkan biaya tambahan untuk transportasi, tempat tinggal, hingga kebutuhan sehari-hari.
“Kami tetap bertahan di sini karena anggaran terbatas. Mau membawa keluarga ke tempat lain juga butuh biaya, sementara kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi,” kata Ivan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat ia dan keluarganya hanya bisa bertahan sambil menyesuaikan aktivitas dengan keadaan kabut asap.
“Kami sebenarnya khawatir dengan asap ini, tetapi mau bagaimana lagi. Tidak semua orang punya pilihan untuk pergi atau mengungsi,” ujarnya.
Bagi Ivan, bertahan di Pontianak merupakan pilihan yang harus diambil karena kemampuan ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk berpindah sementara ke daerah lain.
Kisah Doris dan Ivan memperlihatkan dua kondisi berbeda yang muncul di tengah kabut asap karhutla.
Ada warga yang memilih mengungsikan keluarganya demi mendapatkan udara yang dirasa lebih nyaman. Namun, ada pula warga yang tetap berada di tengah wilayah terdampak karena keterbatasan biaya.
Dengan demikian, aktivitas masyarakat yang masih terlihat berjalan tidak serta-merta menggambarkan seluruh kondisi yang dialami warga.
Sekolah tetap berlangsung, pekerjaan tetap dijalankan, dan kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Namun, di balik aktivitas tersebut, sebagian keluarga harus mengubah pola belajar, memindahkan anggota keluarga, hingga menanggung kekhawatiran terhadap kondisi udara dan kesehatan.
Bagi warga seperti Ivan, pilihan untuk meninggalkan wilayah terdampak bukan sesuatu yang mudah. Kabut asap bisa dihindari jika memiliki pilihan dan kemampuan untuk berpindah. Namun bagi mereka yang anggarannya terbatas, bertahan menjadi satu-satunya pilihan.
Sementara bagi Doris, kabut asap telah menunjukkan bahwa dampak karhutla bukan hanya terlihat dari pekatnya langit atau terganggunya perjalanan.
Dampaknya telah masuk ke rumah, mengubah aktivitas anak, memengaruhi keputusan keluarga, dan membuat udara serta air menjadi bagian dari pertimbangan untuk bertahan hidup sehari-hari. (Greg)
Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment