Klaim BNPB 'Ngawur' Tak Sesuai Fakta di Lapangan: Warga Beraktivitas karena Tak Punya Pilihan dan Biaya!

24 September 2026 15:08 WIB
Seorang wanita tampak menggunakan masker akibat kabut asap yang makin mengganggu aktivitas warga/IST

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Klaim pemerintah bahwa aktivitas masyarakat di Kalimantan Barat tetap berjalan normal di tengah kepungan kabut asap karhutla berbanding terbalik dengan kondisi yang dirasakan warga di lapangan.

Aktivitas memang masih berlangsung. Warga tetap bekerja, berbelanja, memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga menjalankan rutinitas sehari-hari. Namun, kondisi itu bukan berarti kabut asap tidak berdampak atau udara yang mereka hirup berada dalam kondisi aman.

Bagi sebagian warga, tetap beraktivitas merupakan pilihan yang terpaksa dijalani karena tidak semua memiliki kemampuan untuk berhenti bekerja, meninggalkan rumah atau mengungsi ke daerah lain.

Gambaran tersebut terlihat dari pengalaman warga di Kubu Raya, Kota Pontianak hingga Kabupaten Kayong Utara.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan kondisi penanganan karhutla kepada Presiden Prabowo Subianto.

Dalam laporan tersebut, Suharyanto menyebut roda kehidupan masyarakat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah tetap berjalan normal.

“Kami pastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal,” kata Suharyanto, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.

Ia menyebut lalu lintas, toko, rumah makan dan berbagai aktivitas masyarakat masih berjalan seperti biasa.

Namun, pengalaman warga menunjukkan bahwa aktivitas yang masih berlangsung tidak serta-merta menggambarkan kondisi normal.

Doris Pardede, warga Kabupaten Kubu Raya, misalnya, mengatakan dampak kabut asap bahkan sudah masuk ke lingkungan rumahnya. Kondisi udara membuat anaknya harus mengubah pola belajar dan mengikuti sekolah secara daring dari rumah.

“Karena dampak kabut asap karhutla, anak saya harus sekolah daring atau belajar dari rumah,” kata Doris, Kamis (24/9/2026).

Doris juga mengaku khawatir terhadap kondisi keluarganya. Ia mengatakan anak dan istrinya sempat mengalami diare. Persoalan lain muncul dari kebutuhan air untuk rumah tangga yang menurutnya turut berubah di tengah kondisi tersebut.

Kondisi itu membuat Doris membawa anak dan istrinya sementara waktu ke rumah mertuanya di Ngabang, Kabupaten Landak.

Menurut Doris, udara di Ngabang terasa lebih nyaman dibandingkan Kubu Raya dan Kota Pontianak.

“Di sana saya merasa keluarga lebih aman. Kualitas udaranya tidak separah di Kubu Raya dan Kota Pontianak,” ungkapnya.

Ia menyebut lingkungan yang masih banyak pepohonan membuat udara terasa lebih segar. Selain itu, kebutuhan air di rumah mertuanya berasal dari sumber mata air gunung yang berada tidak jauh dari permukiman.

Meski keluarganya mengungsi sementara, Doris tetap berada di Kubu Raya karena tuntutan pekerjaan.

Menurutnya, warga yang masih berada di wilayah terdampak pada akhirnya hanya bisa bertahan dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kabut asap.

“Warga tidak punya pilihan selain bertahan dari kabut asap ini. Mau tidak mau aktivitas tetap harus dijalankan,” katanya.

Persoalan air juga dirasakan Maryan, warga Kota Pontianak. Ibu tiga anak itu mengaku sudah tiga hari mengalami diare hingga akhirnya terpaksa pergi ke dokter karena kondisinya tidak kunjung membaik.

Maryan meyakini gangguan kesehatan yang dialaminya berkaitan dengan air galon eceran yang dikonsumsi keluarganya. Ia mengatakan rasa air berubah sejak membeli air galon secara eceran dan setelah itu dirinya serta keluarganya mengalami gangguan pencernaan.

“Saya sudah tiga hari diare. Karena tidak tahan lagi, akhirnya saya ke dokter,” kata Maryan.

Kondisi tersebut membuat Maryan harus lebih berhati-hati memenuhi kebutuhan air minum keluarganya. Ia mengaku terpaksa membeli air galon maupun air kemasan, meski pengeluaran untuk kebutuhan tersebut menjadi lebih besar.

Bagi warga, persoalan yang dihadapi di tengah kabut asap akhirnya bukan hanya udara yang semakin tidak nyaman, tetapi juga kebutuhan dasar seperti air minum dan biaya untuk menjaga keluarga tetap aman.

Kondisi serupa dialami Ivan (35), warga Kota Pontianak. Ia tetap bertahan bersama keluarganya di tengah kabut asap bukan karena menganggap kondisi udara aman, melainkan karena keterbatasan biaya.

Ivan mengatakan, membawa keluarga ke daerah lain membutuhkan biaya tambahan, mulai dari transportasi hingga kebutuhan selama berada di tempat tujuan.

“Kami tetap bertahan di sini karena anggaran terbatas. Mau membawa keluarga ke tempat lain juga butuh biaya, sementara kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi,” kata Ivan.

Ia mengaku tetap khawatir dengan kondisi kabut asap.

“Kami sebenarnya khawatir dengan asap ini, tetapi mau bagaimana lagi. Tidak semua orang punya pilihan untuk pergi atau mengungsi,” ujarnya.

Bagi Ivan, kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi. Karena itu, aktivitas sehari-hari tetap dijalankan meski kondisi udara tidak nyaman.

Hal yang sama dilakukan Fauzi, warga Kabupaten Kayong Utara. Meski kabut asap membuat udara di wilayahnya pekat, ia tetap bekerja seperti biasa.

Menurut Fauzi, pekerjaan tidak bisa begitu saja dihentikan karena kebutuhan hidup dan keluarga tetap berjalan.

“Kalau ditanya aman atau tidak, tentu kami khawatir. Tapi kami tetap harus bekerja. Kebutuhan hidup tidak bisa berhenti hanya karena kabut asap,” kata Fauzi.

Ia menegaskan, warga yang masih bekerja bukan berarti menganggap kondisi udara aman.

“Kami tetap bekerja bukan berarti udara di sini aman. Mau tidak mau harus tetap jalan karena ada kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Pengalaman Doris, Maryan, Ivan dan Fauzi memperlihatkan sisi lain dari aktivitas masyarakat di tengah kabut asap.

Ada warga yang memilih mengungsikan keluarganya demi mendapatkan udara yang dirasa lebih nyaman. Ada yang tetap bertahan karena keterbatasan biaya. Ada pula yang terus bekerja karena pekerjaan merupakan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Anak harus belajar dari rumah. Keluarga harus berpindah sementara. Warga harus membeli air minum dengan pengeluaran tambahan. Sementara sebagian lainnya tetap bekerja meski harus berhadapan dengan udara yang pekat.

Karena itu, aktivitas masyarakat yang masih terlihat di jalan, tempat kerja, toko maupun rumah makan tidak selalu berarti kondisi benar-benar normal.

Bagi warga, tetap beraktivitas bukan karena kabut asap tidak berdampak. Mereka tetap bergerak karena kebutuhan hidup tidak bisa dihentikan.

Di tengah keterbatasan pilihan, sebagian warga akhirnya hanya bisa bertahan, menyesuaikan diri dan menanggung sendiri risiko dari kondisi lingkungan yang mereka hadapi. (*)


Penulis : Gregorius
Editor : Wati Susilawati

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar