Merawat Warisan Budaya dan Asa yang Ditinggalkan
KUBU RAYA, insidepontianak.com – Di Jalan Wonodadi I, Kabupaten Kubu Raya, sebuah rumah betang menyimpan cerita panjang tentang kecintaan seorang seniman terhadap kebudayaan Dayak.
Di dalamnya, gong, sapek, mandau, tombak, tempayan, hingga patung tradisional tersimpan rapi sebagai jejak tradisi yang dirawat dengan tangannya sendiri.
Seniman itu adalah Christian Mara. Ia telah berpulang. Tetapi rumah betang yang dibangunnya masih berdiri kokoh. Sarat filosofi.
Benda-benda yang dikumpulkan pun tetap utuh, sementara cerita tentang kebudayaan Dayak terus diwariskan oleh keluarga yang ditinggalkan.
David Fernandes, sang cucu, kini menjadi garda terdepan yang memastikan peninggalan tersebut tak sekadar menjadi kenangan. Bagi David, setiap benda di rumah betang itu memiliki jiwa.
Ada pengetahuan tentang musik tradisional, keterampilan membuat alat musik, hingga nilai-nilai leluhur yang tidak bisa dipelajari hanya dari buku.
Karena itu, ia ingin rumah betang tersebut tetap hidup sebagai ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin datang, melihat, bertanya, dan belajar.
“Teman-teman yang ingin belajar, tinggal datang saja ke sini,” kata David kepada Insidepontianak.com, Sabtu (24/10/2026).
Kalimat itu merangkum tekadnya. Rumah betang tersebut bukan sekadar milik keluarga, melainkan simpul persinggahan bagi siapa pun yang ingin mengenal lebih dekat kebudayaan Dayak.
Karya Perjuangan
Cerita rumah betang ini bermula pada masa pandemi Covid-19. Saat itu, Christian Mara berinisiatif membangun ruang khusus untuk menampung koleksi budaya sekaligus mengenalkan tradisi kepada masyarakat luas.
Menurut David, bangunan itu berdiri murni dari biaya dan keringat sang kakek tanpa bantuan pemerintah. Sebelum membangunnya, Christian sempat berupaya mencari dukungan resmi, namun tak membuahkan hasil.
Ia pun memilih berjalan sendiri demi mewujudkan niat luhurnya. Kini, setelah sang seniman tiada, rumah itu memikul makna yang jauh lebih dalam.
Bangunannya bukan lagi sekadar fisik arsitektur, melainkan simbol tanggung jawab moral keluarga untuk menjaga warisan yang ditinggalkan.
David menyadari, mempertahankan rumah betang beserta denyut aktivitas kultural di dalamnya bukan perkara mudah. Ia berharap upaya keluarganya tidak berjalan sendirian.
Ia mendambakan perhatian dari pemerintah daerah agar rumah betang ini semakin dikenal sebagai pusat edukasi budaya. Meski demikian, ia tidak ingin berpangku tangan atau menggantungkan seluruh asa pada bantuan negara.
“Saya tidak anti pemerintah. Saya juga tidak menolak jika ada bantuan,” ujarnya.
Bagi David, yang terpenting adalah esensi perjuangan sang kakek tidak padam. Ia ingin pemerintah melihat rumah betang ini sebagai aset kolektif daerah yang bernilai tinggi untuk generasi masa depan.
Gong Istimewa
Di antara sekian banyak koleksi, ada satu benda yang paling istimewa bagi Christian Mara: gong tradisional. Bagi orang awam, gong mungkin tampak sekadar alat musik pukul berbahan logam. Namun, kata David, ada identitas dan karakter bunyi yang menjadi pembeda tegas.
Ia menjelaskan, gong tradisional Kalimantan Barat memiliki karakteristik suara yang khas jika disandingkan dengan gong dari daerah lain, seperti Jawa atau Bali.
"Perbedaannya bukan hanya pada bentuk, tetapi juga pada bunyi dan karakter yang dihasilkan," jelas David.
Lewat benda-benda itu, David ingin publik memahami bahwa kebudayaan Dayak memiliki kekhasan tersendiri yang tidak boleh dipandang seragam.
Selain gong, rumah betang ini memajang sapek, tempayan, mandau, tombak, perisai, hingga patung tradisional. Setiap artefak menyimpan babak sejarah kehidupan masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Belajar dan Memahami
David tidak tumbuh dengan menerima seluruh pengetahuan budaya secara instan dari keluarganya. Dalam tradisi yang dianutnya, ada batasan kultural di mana seorang ayah kerap mewariskan keahlian bukan lewat ceramah, melainkan teladan langsung.
Prosedur belajar itu ia jalani secara otodidak. Ia tekun mengamati ayahnya membuat alat musik, merekam setiap proses dalam ingatan, dan meresapi keterampilan yang jarang diungkapkan lewat kata-kata.
“Saya cuma bisa melihat bapak saya bagaimana membuatnya,” tuturnya.
Dari proses panjang itulah ia belajar bahwa pengetahuan tradisional meresap melalui ketekunan mengamati dan menjalani ritmenya secara perlahan. Pengalaman ini pula yang mendorongnya membuka pintu seluas-luasnya bagi generasi muda hari ini.
Karya Abadi
Christian Mara, seniman berdarah Dayak asal Jangkang, Kampung Rosak, Desa Pisang, Kabupaten Sanggau, berpulang di usia 62 tahun pada 19 Agustus 2026.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni dan masyarakat adat Kalimantan Barat. Ia meninggalkan seorang istri, dua anak, dan empat cucu.
Bagi keluarga, kehilangan ini diiringi tekad kuat untuk tidak membiarkan karya sang kakek tinggal sebagai kenangan. Rumah betang di Kubu Raya kini menjadi saksi hidup bagaimana semangat itu diteruskan oleh David dan keluarganya.
Di tengah deretan gong, mandau, dan tempayan tua, warisan Christian Mara terus menunggu untuk disuarakan kembali—bukan hanya kepada mereka yang mengenal sang maestro, tetapi juga kepada generasi masa depan yang tak sempat mengenal.
Sebab, ketika seorang seniman berpulang, napas karyanya tidak harus ikut mati. Selama masih ada tangan yang merawat dan mau belajar, kebudayaan akan selalu menemukan jalan untuk hidup.***
Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment