BDR di Tengah Kabut Asap, Sekolah Pedalaman Landak Hadapi Kendala Akses dan Pengawasan
LANDAK, Insidepontianak.com - Pembelajaran dari rumah (BDR) di tengah kabut asap tak sepenuhnya menjadi solusi bagi SMP Negeri 2 Air Besar, Desa Tenguwe, Kabupaten Landak.
Ketika pembelajaran tatap muka dihentikan karena kondisi udara yang belum memungkinkan, sekolah justru menghadapi persoalan baru. Tidak semua siswa dapat mengikuti BDR dengan pola yang sama.
Kepala SMP Negeri 2 Air Besar, Heru Wibisono, mengatakan sekolah memilih pola pemberian tugas secara langsung. Siswa diminta mengambil dan menyerahkan kembali tugas ke sekolah setiap Senin dan Jumat.
Pola tersebut dipilih karena akses terhadap perangkat komunikasi dan jaringan internet di wilayah pedalaman tidak merata.
Namun, sistem itu tetap menemui kendala. Sebagian siswa mengambil tugas, tetapi tidak mengembalikannya. Bahkan, ada siswa yang tidak datang sama sekali ke sekolah untuk mengambil tugas.
“Kadang ada anak yang mengambil tugas, tapi tidak mengumpulkan. Bahkan ada yang sama sekali tidak datang ke sekolah,” kata Heru, Senin (21/9/2026).
Kondisi itu membuat sekolah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan BDR sebagai pengganti pembelajaran tatap muka.
Di satu sisi, sekolah harus menghindari risiko bagi siswa akibat kondisi kabut asap.
Di sisi lain, ketika pembelajaran dipindahkan ke rumah, guru kehilangan kontrol langsung terhadap proses belajar siswa.
Artinya, keberhasilan BDR tidak hanya bergantung pada guru dan sekolah. Peran orang tua menjadi sangat penting untuk memastikan anak mengambil tugas, mengerjakannya, hingga mengembalikannya kepada guru.
“BDR itu memang orang tua yang pegang kunci,” ujar Heru.
Pada saat yang sama, sebagian orang tua mulai meminta agar anak-anak kembali belajar seperti biasa di sekolah.
Namun, Heru mengatakan pihak sekolah belum berani membuka kembali pembelajaran tatap muka secara penuh.
Keputusan itu harus mempertimbangkan kondisi kabut asap sekaligus edaran Bupati Landak yang menjadi pedoman sekolah selama situasi karhutla.
“Orang tua ingin anak masuk normal, tapi Bapak tidak berani ambil risiko,” katanya.
Dilema itu membuat sekolah harus berada di antara dua pilihan yang sama-sama memiliki persoalan.
Tatap muka memungkinkan guru memantau dan mendampingi siswa secara langsung, tetapi kondisi udara membuat keselamatan siswa harus dipertimbangkan.
Sementara BDR lebih aman dari paparan asap di lingkungan sekolah, tetapi tidak semua siswa memiliki akses, pendampingan, dan kedisiplinan belajar yang sama di rumah.
Bagi SMP Negeri 2 Air Besar, persoalan selama BDR bukan sekadar bagaimana memberikan tugas kepada siswa.
Tantangan yang lebih besar adalah memastikan tugas itu benar-benar sampai, dikerjakan, dan dikembalikan, ketika sekolah tidak bisa bertemu langsung dengan anak-anak di ruang kelas. (*)
Penulis : Ya Wahyu
Editor : -

Leave a comment