Dinkes Sanggau Evaluasi AKI dan AKB, Kematian Ibu Turun pada 2026
SANGGAU, insidepontianak.com -- Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau terus mengevaluasi upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Evaluasi dilakukan untuk memastikan setiap kasus menjadi bahan perbaikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi di Kabupaten Sanggau.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, Najori, mengatakan berdasarkan data tahun 2025 terdapat 10 kasus kematian ibu dengan angka kematian ibu sebesar 112,56 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara itu, angka kematian bayi pada 2025 tercatat sebanyak 41 kasus atau sebesar 4,61 per 1.000 kelahiran hidup.
Menurut Najori, capaian tersebut masih berada di bawah target nasional. Pada 2025, target nasional AKI berada pada angka 122 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan target AKB sebesar 12,62 per 1.000 kelahiran hidup.
“Untuk Kabupaten Sanggau tahun 2025, AKI dan AKB tidak melebihi target nasional,” kata Najori, Selasa (6/10/2026).
Memasuki 2026, jumlah kasus kematian ibu di Kabupaten Sanggau tercatat enam kasus, dengan angka kematian ibu sebesar 67,53 per 100.000 kelahiran hidup.
Namun, angka kematian bayi mengalami peningkatan. Pada 2026 tercatat 51 kasus kematian bayi, dengan angka kematian bayi sebesar 5,74 per 1.000 kelahiran hidup.
Najori menyebut, meskipun angka tersebut masih berada di bawah target nasional 2026, peningkatan kasus kematian bayi tetap menjadi perhatian dan perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Target nasional 2026 untuk AKI berada pada angka 109 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 11,63 per 1.000 kelahiran hidup.
Karena itu, Dinkes Sanggau meminta seluruh puskesmas dan rumah sakit memperkuat kualitas pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Penguatan terutama dilakukan dalam deteksi dini faktor risiko, penanganan kegawatdaruratan, sistem rujukan, hingga tindak lanjut terhadap pasien.
“Puskesmas dan rumah sakit perlu memperkuat koordinasi, khususnya dalam deteksi dini risiko, penanganan kegawatdaruratan, sistem rujukan, dan tindak lanjut kasus,” ujarnya.
Najori menegaskan, penurunan angka kematian ibu dan bayi tidak bisa hanya mengandalkan satu fasilitas kesehatan. Dibutuhkan komitmen, kolaborasi, dan kesinambungan pelayanan dari seluruh fasilitas kesehatan serta tenaga kesehatan.
Menurutnya, setiap kejadian kematian ibu maupun bayi harus menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran bersama untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
“Kita harus memastikan setiap risiko dapat dideteksi lebih awal, ditangani dengan tepat, dan dirujuk secara cepat apabila membutuhkan pelayanan lebih lanjut,” katanya.
Melalui evaluasi tersebut, Najori mendorong agar setiap temuan di lapangan tidak berhenti sebagai data, tetapi diterjemahkan menjadi langkah perbaikan yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.
“Melalui pertemuan ini, kami mendorong agar hasil evaluasi dapat diterjemahkan menjadi langkah perbaikan yang nyata, terukur, dan berkelanjutan, sehingga kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi semakin meningkat,” pungkasnya. (*)
Penulis : Ansar
Editor : -

Leave a comment