Perayaan Cap Go Meh di Pontianak: 14 Naga, Satu Irama yang Mempersatukan
PONTIANAK, insidepontianak.com – Gendang ditabuh keras. Membentuk satu irama. Sore pun bergetar di halaman Mega Mall Pontianak, Senin (2/3/2026).
“Dung-dung ce...”
Suara itu mengiringi kepala naga merah-emas terangkat perlahan. Matanya menyala. Tubuh panjangnya meliuk, lalu menghentak mengikuti tempo yang kian cepat.
Sorak penonton pecah. Perayaan Cap Go Meh dimulai. Satu naga tampil. Lalu disusul satu lagi. Hingga genap 14 naga bergantian menguasai arena. Tubuh panjangnya naik-turun. Berputar. Melayang rendah.
Para pemain bergerak kompak menjaga ritme. Presisi. Anak-anak terpaku di ujung barikade. Orang dewasa mengangkat ponsel tinggi-tinggi merekam kemeriahan. Momen setahun sekali itu tak ingin hilang begitu saja.
Atraksi ini menjadi pembuka Cap Go Meh 2026 yang jatuh pada Selasa, 3 Maret. Di Kalimantan Barat, perayaan terpusat di Pontianak dan Singkawang—dua kota yang setia merawat tradisi hingga masuk agenda wisata budaya nasional.
Di balik semarak itu, ada kerja panjang. Koordinator Lapangan Yayasan Borneo Nusantara, Jan Fui, menyebut persiapan dilakukan selama delapan bulan. Perlengkapan dibuat lebih dulu. Dua bulan terakhir, pendaftaran pemain dibuka.
“Kami siapkan sekitar delapan bulan,” ujarnya.
Seleksi dilakukan berdasarkan usia. Anak-anak. Remaja. Dewasa. Regenerasi dijaga. Tradisi tak boleh putus. Tahun ini menjadi kali pertama Yayasan Borneo Nusantara ambil bagian dalam perayaan Cap Go Meh Pontianak. Bagi Jan Fui, atraksi naga bukan sekadar hiburan, tapi cara merawat warisan.
“Harapannya budaya ini terus hidup. Bukan hanya tontonan. Kalau ada rezeki lebih, kami ingin berbagi,” katanya.
Di antara riuh penonton, Afifa awalnya hanya melintas. Warga Pontianak itu tak berniat berhenti. Namun dentuman gendang membuatnya mendekat. Gerak naga menarik perhatiannya.
“Seru banget,” ujarnya singkat.
Ia menilai kemeriahan atraksi naga di Khatulistiwa tak kalah dari Singkawang—kota yang lekat dengan pusat perayaan Cap Go Meh di Indonesia.
“Sama serunya. Semoga makin dikenal,” katanya.
Sore merambat malam. Irama belum reda. Sorak belum usai. Pertunjukan 14 naga semakin meriah. Menjadi tanda tradisi masih hidup. Cap Go Meh pun kembali menyatukan Pontianak—dalam warna, dalam suara, dan dalam kegembiraan.***
Penulis : Gregorius
Editor : -
Tags :

Leave a comment