TBS Anjlok Parah, APKASINDO Sambas Desak Kebijakan Pro Petani
SAMBAS, insidepontianak.com – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Barat, mengalami penurunan drastis pasca pidato Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto terkait rencana ekspor crude palm oil (CPO) yang akan dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk negara.
Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Kabupaten Sambas, Abelnus, mengatakan harga TBS di tingkat pabrik per Senin masih berada di kisaran Rp2.300 hingga Rp2.500 per kilogram.
Namun, kondisi berbeda terjadi di tingkat RAM atau pengepul. Harga TBS disebut turun sangat tajam dibanding sebelumnya.
“Sedangkan harga di RAM atau pengepul, harga TBS turun drastis. Sebelumnya mencapai Rp2.700 per kilogram, tetapi sejak 19 Mei 2026 menjadi Rp1.300 hingga Rp1.800 per kilogram,” ujarnya Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, harga tersebut menjadi yang terendah dalam tiga tahun terakhir. Padahal sebelumnya harga TBS di tingkat pengepul sempat menyentuh angka Rp2.700 per kilogram.
Abelnus menilai anjloknya harga TBS memberikan dampak besar terhadap kehidupan petani kelapa sawit, khususnya petani swadaya yang tidak memiliki kemitraan dengan pabrik kelapa sawit.
“Harga pupuk, pestisida dan biaya perawatan masih tinggi. Kalau harga TBS terus rendah seperti ini, petani dipastikan merugi apabila tidak segera ada penyesuaian kebijakan,” jelasnya.
Ia meminta pemerintah, terutama Presiden RI Prabowo Subianto, segera mengambil langkah konkret yang berpihak kepada petani sawit swadaya.
Selain penyesuaian harga TBS, APKASINDO juga berharap pemerintah dapat menekan harga pupuk dan pestisida agar beban petani tidak semakin berat.
“Harapan kami petani swadaya kelapa sawit bisa sejahtera. Karena yang paling terdampak dari turunnya harga ini adalah petani kecil,” katanya.
Abelnus menambahkan, penurunan harga TBS berpotensi memicu efek domino terhadap ekonomi masyarakat. Mulai dari menurunnya pendapatan petani, melemahnya daya beli masyarakat, hingga ancaman bagi pelaku UMKM akibat berkurangnya aktivitas belanja warga.
“Harga TBS merosot sementara harga pupuk, pestisida dan biaya perawatan terus meroket. Kami berharap pemerintah dapat membuat formulasi kebijakan yang tepat dan berpihak kepada petani swadaya demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendukung visi kemandirian ekonomi Indonesia,” pungkasnya. (*)
Penulis : Antonia Sentia
Editor : -

Leave a comment