Beralih dari Cabai ke Melon, Petani di Jawai Sambas Raup Puluhan Juta Sekali Panen

13 Mei 2026 14:42 WIB
Petani di Desa Semperuk, Kecamatan Jawai Selatan, Kabupaten Sambas, sukses membudidayakan buah melon. (Istimewa)

SAMBAS, insidepontianak.com – Hamparan tanaman melon kini mendominasi lahan milik Suryono, di Desa Semperuk, Kecamatan Jawai Selatan, Kabupaten Sambas.

Beberapa tahun lalu, lahan itu masih ditanami cabai. Namun, harga yang sering naik turun membuat Suryono mulai mencari alternatif lain yang lebih menjanjikan.

“Akhirnya saya coba beralih ke melon,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).

Awalnya, pria yang akrab disapa Jono itu sempat ragu. Sebab, budidaya melon membutuhkan modal lebih besar.

Selain itu, perawatannya juga tidak mudah. Melon sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. Kalau sudah musim hujan, hama kerap menyerang.

"Seperti jamur trotol, kresek, embun tepung, dan kutu kebul. Yang paling parah kalau banjir, bisa gagal panen,” katanya.

Namun perlahan, ia mulai mencoba menanam melon secara bertahap. Hasilnya mulai terlihat. Dari situ, Jono mantap mengembangkan tanaman tersebut menggantikan cabai.

Untuk menjaga panen tetap rutin, Jono membagi pola tanam di lahannya menjadi tiga tahap. Tahap pertama sekitar 1.500 bibit melon ditanam. Begitu seterusnya.

Tujuannya? Agar panen bisa dilakukan berkesinambungan. Dengan begitu, lahan selalu produktif.

“Jadi sekitar 20 hari sekali bisa panen,” katanya.

Jika cuaca mendukung melon tumbuh subur. Hasil panen bisa mencapai 4,5 ton. Dari satu kali panen, omzet yang diperoleh berkisar Rp30 juta hingga Rp40 juta.

“Tapi itu tergantung harga pasar juga,” ujarnya.

Melon hasil panen biasanya dijual kepada penampung sebelum didistribusikan ke berbagai daerah seperti Pontianak, Ketapang, wilayah kepulauan, hingga dikirim ke Malaysia.

Bagi Jono, budidaya melon sejauh ini lebih menjanjikan dibanding cabai. Meski begitu, berbagai kendala tetap harus diantisipasi. Terutama kondisi lahan tak boleh tergenang.

Karena itu, ia berharap ada dukungan pemerintah berupa bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk petani hortikultura.

“Kami juga berharap harga melon tetap bagus,” lanjutnya.

Di tengah cuaca yang sulit diprediksi, Jono tetap memilih bertahan merawat kebun melonnya. Dari lahan itu, ia menemukan harapan baru di tengah harga cabai yang tak menentu.***


Penulis : Antonia Sentia
Editor : Abdul Halikurrahman

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar