Kubu Raya Matangkaan Strategi Cegah Stunting
KUBU RAYA, insidepontianak.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya mematangkan strategi pencegahan stunting untuk 2026.
Mitigasi fokus diarahkan sejak remaja hingga ibu hamil. Pendekatan berbasis keluarga diperkuat. Intervensi langsung menyasar kelompok rentan.
Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Wan Iwansyah, mengatakan langkah yang disiapkan tidak hanya mengacu pada angka survei.
Intervensi dilakukan berbasis data riil melalui sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM).
“Di EPPGBM jelas data anak, lokasi posyandu, hingga wilayahnya. Jadi intervensi bisa langsung dilakukan,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, pencegahan stunting harus dilakukan menyeluruh. Tidak hanya pada anak yang sudah lahir, tetapi sejak remaja.
Dinkes Kubu Raya menjalankan dua pendekatan utama. Intervensi sensitif dan intervensi spesifik.
Intervensi sensitif melibatkan lintas sektor. Fokusnya pada air bersih, sanitasi, dan lingkungan sehat.
Sementara intervensi spesifik menyasar layanan kesehatan. Mulai dari pemeriksaan ibu hamil, persalinan, imunisasi, hingga pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri.
“Program kesehatan ini kami maksimalkan karena dampaknya langsung pada pencegahan stunting,” jelasnya.
Dinkes Kubu Raya juga menyiapkan program pemberian makanan tambahan (PMT) lokal bagi kelompok berisiko.
Sasarannya bayi dengan gizi kurang, bayi yang berat badannya tidak naik, serta ibu hamil dengan kekurangan energi kronis.
“Ini bukan program makanan bergizi gratis. Ini PMT lokal yang ditujukan khusus bagi anak dan ibu hamil dengan masalah gizi,” tegasnya.
Program dijalankan melalui posyandu dan fasilitas kesehatan agar pemantauan bisa dilakukan berkelanjutan.
“Stunting dicegah jauh sebelum bayi lahir. Remaja sehat, kehamilan terpantau, risiko bisa ditekan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan kehamilan minimal enam kali. Serta pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin di posyandu. Meski program terus diperkuat, tantangan terbesar masih pada perubahan perilaku masyarakat.
“Kuncinya edukasi. Orang tua harus rutin memeriksakan kehamilan, membawa anak ke posyandu, dan memahami pola asuh yang benar,” pungkasnya.***
Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment