Air PDAM Asin, Tagihan Tetap Normal, Warga Kubu Raya Harap Ada Diskon
KUBU RAYA, insidepontianak.com – Dedek mulai beradaptasi dengan air asin yang mengalir dari pipa PDAM. Kemarau membuat sumber air baku terintrusi air laut.
Sementara, urusan mandi tak bisa ditunda, meski air tak lagi membuat tubuh segar. Juga tak enak digunakan menggosok gigi. Apalagi menyiram tanaman. Air asin bisa bikin tanaman mati.
Namun, di saat pelayanan air bersih PDAM tak maksimal, tagihan bulanan tetap saja dibayar dengan harga normal. Tidak ada kompensasi sama sekali.
Padahal, air yang dijual bukan lagi air tawar. Hanya bisa dipakai untuk mandi. Terpaksa digunakan, karena tidak ada pilihan lain.
“Setiap bulan saya tetap bayar Rp200 ribu. Sementara pemakaian tidak maksimal,” keluh warga yang tinggal di Jalan Parit Haji Muksin itu, Senin (21/9/2026).
Baginya, Perumda Air Minum Tirta Raya sebagai pihak yang mendistribusikan air PDAM sudah tidak adil. Layanan yang diberikan tak diimbangi dengan produk yang dijual.
“Saya merasa tidak ikhlas membayar dengan harga yang sama seperti air tawar,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap perusahaan pelat merah milik pemerintah daerah ini bisa lebih bijak. Lebih manusiawi. Setidaknya memberikan diskon sebagai kompensasi atas layanan yang tidak normal.
Berdampak Cash Flow
Direktur Perumda Air Minum Tirta Raya, Harmawan, memahami keluhan pelanggan. Intrusi air laut ke Sungai Kapuas tak dapat dihindari akibat kemarau panjang.
Akibatnya, distribusi air tawar terdampak. Kendati demikian, tuntutan kompensasi atau diskon tarif belum bisa dipenuhi.
Alasannya? Tarif dasar pelanggan yang berlaku saat ini, masih berada di bawah biaya pokok produksi.
Sementara, perusahaan memiliki sekitar 35 ribu sambungan pelanggan. Sekitar 85 persen di antaranya merupakan pelanggan rumah tangga yang disubsidi.
Karena itu, pemberian diskon dinilai akan berdampak langsung terhadap arus kas perusahaan. Jika kompensasi diberlakukan, subsidi akan membengkak.
“Karena itu kami belum bisa memberikan diskon karena akan mengganggu cash flow,” ujarnya.
Sebagai gantinya, Perumda Tirta Raya memilih memberikan bantuan dalam bentuk air bersih gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Skemanya bukan diberikan kepada pelanggan secara perorangan, melainkan secara komunal. Warga dapat mengambil air menggunakan tangki atau toren di instalasi pengolahan yang disediakan Perumda.
“Untuk kepentingan komunal, kami berikan air bersih secara gratis,” tambahnya.
Dilema Air Baku Asin
Di samping itu, Harmawan mengatakan, ketika air laut masuk ke Sungai Kapuas, Perumda berada dalam posisi harus tetap menjalankan pelayanan sekaligus menghadapi kualitas air baku yang berubah. Air tidak bisa begitu saja dihentikan karena kadar garam meningkat.
“Kami tetap harus beroperasi 24 jam,” katanya.
Menurut Harmawan, kadar garam air baku saat ini masih naik turun. Kadang berada di bawah 1.000 miligram per liter, tetapi bisa kembali naik hingga 2.000 bahkan 3.000.
Kondisi itu juga berdampak pada peralatan. Karena kandungan garam dapat mempercepat korosi. Di sisi lain, teknologi untuk mengubah air payau menjadi air tawar bukan perkara sederhana.
Perumda memang bisa menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO). Tetapi, biaya pengolahan dan perawatannya tinggi. Semakin tinggi kadar garam air baku, semakin cepat pula membran RO harus diganti.
“Biayanya sangat besar,” jelasnya.
Karena itu, penggunaan teknologi RO lebih realistis untuk penyediaan air bersih secara komunal, bukan langsung menggantikan seluruh sistem perpipaan pelanggan.
Meski demikian, skema itu tetap dihitung. Setidaknya bisa diterapkan untuk menghadapi kondisi serupa di masa mendatang.***
Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment