Rp8,5 Miliar Dana Nasabah BMT BUS Mandor Tak Bisa Dicairkan, Janji Tinggal Janji

18 April 2026 17:42 WIB
Mediasi antara nasabah dan manajemen BMT BUS Cabang Mandor tentang kejelasan pengembalian dana nasabah BMT BUS/IST

LANDAK, Insidepontianak.com - Ketidakjelasan nasib dana simpanan masyarakat di BMT Bina Ummat Sejahtera (BMT BUS) Cabang Mandor kian memicu keresahan.

Total dana yang diperkirakan mencapai sekitar Rp8,5 miliar hingga kini tidak dapat dicairkan, sementara aktivitas kantor disebut sudah berhenti beroperasi.

Lebih dari 3.000 nasabah terdampak dalam persoalan ini. Sejumlah nasabah mengaku tidak bisa menarik dana mereka sejak beberapa hari terakhir, tanpa adanya kepastian yang jelas dari pihak pengelola.

Salah satu nasabah, Debi Kurniawati, juga mengaku baru menyadari persoalan ini saat hendak melakukan penarikan dana pada awal pekan lalu.

“Masalah ini belum seminggu. Saya mau tarik tabungan hari Senin kemarin, ternyata tidak bisa karena kantor sudah tutup total, tidak beroperasi lagi,” katanya, Sabtu (18/4/2026).

Pengakuan tersebut memperkuat kekhawatiran nasabah. Dana yang selama ini mereka simpan tidak bisa diakses, sementara operasional kantor cabang Mandor justru berhenti.

"Pegawainya bilang tutup sementara, belum ada kepastian," ucapnya.

Sementara itu Perwakilan Nasabah, Evi Yusmayadi mendesak manajemen segera menyelesaikan pengembalian dana yang telah disimpan masyarakat.

“Saya mewakili seluruh nasabah KSPPS BMT BUS yang berada di Kecamatan Mandor dan Kecamatan Toho, menyatakan agar supaya terjadi penyelesaian untuk biaya nasabah yang telah disimpan di KSPPS BMT BUS,” ujarnya.

Ia menegaskan, apabila tidak ada langkah konkret dari manajemen pusat, para nasabah akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan persoalan ini kepada aparat penegak hukum.

Di sisi lain, pihak pengelola mengakui bahwa dana nasabah tidak lagi berada di kas cabang. Dana disebut telah dikelola secara terpusat dan sebagian disalurkan dalam bentuk pembiayaan.

Perwakilan BMT BUS wilayah Kalbar, Ahmad Agus Setiawan, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berdampak langsung pada keterbatasan likuiditas di tingkat cabang.

“Dana yang dihimpun dari cabang selama ini dikelola terpusat. Saat ini memang kas di Mandor tidak tersedia dalam bentuk tunai, karena sebagian sudah dialokasikan untuk operasional dan pembiayaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihak manajemen tetap berkomitmen untuk menyelesaikan kewajiban kepada seluruh nasabah, meskipun prosesnya tidak dapat dilakukan secara sekaligus.

“Kami bertanggung jawab atas dana nasabah. Saat ini kami sedang melakukan pendataan ulang dan menyiapkan langkah penyelesaian, termasuk rencana penjualan aset agar pengembalian bisa dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

BMT BUS sendiri merupakan koperasi keuangan berbasis syariah yang menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan, kemudian menyalurkannya kembali melalui pembiayaan dengan sistem bagi hasil. 

Dalam praktiknya, dana nasabah diputar untuk berbagai kebutuhan usaha dan operasional.

Namun, sistem tersebut sangat bergantung pada kelancaran arus kas. Ketika pembiayaan macet dan dana terpusat tidak tersedia dalam bentuk tunai, kemampuan untuk memenuhi penarikan nasabah menjadi terganggu.

Saat ini, pihak manajemen disebut berencana menghadirkan pengurus pusat untuk memberikan penjelasan lebih lanjut kepada nasabah.

Meski demikian, belum ada kepastian waktu terkait pengembalian dana. Sementara itu, nasabah hanya bisa menunggu tanpa kejelasan, dengan harapan simpanan mereka benar-benar dapat kembali. (*)


Penulis : Ya Wahyu
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar