Kenaikan BBM Non-Subsidi Picu Lonjakan Harga Bapok, DPRD Kalbar Minta Dikaji Ulang

22 April 2026 12:46 WIB
Ketua DPRD Kalbar, Aloysius. (Istimewa)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Kenaikan harga BBM non-subsidi yang ditetakan pemerintah pusat mendorong biaya transportasi naik.

Dampaknya mulai terasa di pasar. Harga sembako merangkak naik. Emak-emak mulai mengeluh. Pasalnya, kenaikan terjadi di hampir semua komoditas.

“Beras premium ada yang sampai Rp87 ribu per kilo, dari harga normal Rp80 ribu. Asam jawa kemasan kecil dari seribu jadi dua ribu,” keluh Putri, ibu rumah tangga di Pontianak.

Pedagang pun serba salah. Harga naik, pembeli terbebani. Namun penyesuaian tetap dilakukan agar tidak merugi.

“Sekarang semua serba naik,” ujar salah satu pedagang di Pasar Ampera.

Harga BBM non-subsidi yang mengalai kenaikan di antaranya; Pertamax Turbo ditetapkan Rp19.850 per liter, Dexlite Rp24.150 per liter, dan Pertamina Dex mencapai Rp24.450 per liter.

Di sisi lain, pembelian kuota BBM subsidi terbatas. Sejumlah kendaraan angkutan, seperti mobil boks, terpaksa beralih ke BBM non-subsidi agar tetap beroperasi.

Ketua DPRD Kalbar, Aloysius, mengingatkan pemerintah untuk tidak membiarkan kondisi ini berlarut.

“Biaya transportasi naik. Distribusi barang ikut terdorong. Dampaknya langsung ke harga di pasar,” ujarnya.

Ia pun meminta inflasi harus segera ditekan. Pengendalian pasar perlu dilakukan agar tidak memicu gejolak sosial.

“Kita khawatir harga barang tidak terkendali,” katanya.

Selain itu, ia juga mewaspadai potensi antrean panjang BBM subsidi di SPBU, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

“Kami harap pemerintah pusat mengkaji kembali kebijakan meniakkan BBM non-subsidi ini,” tegasnya.***


Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar