Program SimPel Ajarkan Pelajar Pontianak Menabung dan Mengolah Sampah Jadi Rupiah

3 November 2026 13:20 WIB
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengecek rekening tabungan pelajar. (Istimewa)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Sebanyak 49.351 siswa di Kota Pontianak kini tercatat sudah memiliki rekening tabungan pelajar.

Gerakan menabung pun terus didorong lewat program Simpanan Pelajar (SimPel) yang dikemas unik: mengintegrasikan rekening sekolah dan bank sampah mini.

Lewat kolaborasi ini, para siswa tak sekadar diajarkan berhemat. Mereka juga dilatih mengelola sampah rumah tangga menjadi rupiah.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan sosialisasi program SimPel terus digencarkan ke sekolah-sekolah.

Terbaru, sosialisasi menyasar SMP Negeri 22 dan SD Negeri 15 Pontianak. Kegiatan itu digelar bersama Bank Kalbar.

"Kami mengajak sekolah dan guru untuk meningkatkan akses keuangan bagi pelajar," ujar Edi, Senin (2/11/2026).

Menabung sejak dini adalah bagian dari pendidikan karakter. Kebiasaan ini melatih kedisiplinan, rasa tanggung jawab, serta kejelian anak dalam menetapkan prioritas keuangan.

"Jumlahnya akan terus kita tingkatkan. Kalau bisa semuanya ikut, tidak hanya sekolah negeri, tetapi juga swasta, madrasah, hingga pesantren," tegasnya.

Gerakan pelajar menabung pun turut mengantarkan Pemkot Pontianak meraih TPAKD Award 2026 kategori TPAKD Terbaik Tingkat Kota Wilayah Kalimantan.

Untuk memperluas dampaknya lagi, Pemkot menggandeng Bank Kalbar dan OPD terkait melalui mekanisme tabungan berbasis pemilahan sampah.

Siswa diminta membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah ke sekolah. Sampah tersebut lalu ditimbang dan dinilai harganya. Uang hasil penjualan langsung masuk ke rekening SimPel masing-masing siswa.

"Lewat program ini, mereka belajar bahwa sampah punya nilai ekonomi," jelas Edi.

Ia menekankan, pendidikan keuangan tidak harus dimulai dari nominal besar. Yang terpenting adalah konsistensi menyisihkan uang untuk masa depan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, mencatat dari 141 sekolah Adiwiyata, sebanyak 35 sekolah sudah mengoperasikan bank sampah mini.

DLH memberikan pembinaan berjenjang sebelum sistem tabungan diterapkan. Setelah pemilahan sampah sudah dipahami, pihak sekolah bekerja sama dengan Bank Sampah Rosella sebagai pembeli penampung.

"Lalu hasilnya dikonversi menjadi saldo tabungan SimPel," terangnya.

Usmulyono memaparkan, sampah plastik tertentu memiliki harga jual sekitar Rp4.000 per kilogram.

Selain menghasilkan uang, plastik terpulih nantinya diolah fasilitas daur ulang menjadi barang berdaya guna seperti meja hingga batako.

Langkah ini diproyeksikan dapat menekan volume sampah yang terbuang ke Tempat Penampungan Sementara (TPS).

"Pengembangan bank sampah mini ini memperkuat program Adiwiyata sesuai edaran Wali Kota. Target kami adalah perubahan perilaku. Harapannya, kesadaran memilah sampah ini terbawa sampai mereka dewasa," pungkasnya.***


Penulis : REDAKSI
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar