Surfaktan dan Bioenergi IPB Dorong Karbonisasi Tandan Kosong Sawit untuk Pupuk Tanah

10 Juli 2024 10:05 WIB
Kepala Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi IPB, Eliza Hambali. (Istimewa)

PONTIANAK, insidepontianak.com - Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi, Institut Pertanian Bogor mendorong karbonisasi tandan kosong sawit untuk pemanfaatan sebagai soil conditioner. 

Sebab, biochar hasil dari karbonisasi diyakini meningkatkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan kesuburan tanah. Metode ini juga telah dilakukan PT Bumitama Gunajaya Agro atau BGA. 

Agronomist Head Kalbar dan Riau, PT BGA, Husni Batubara mengatakan, ada berbagai hal yang melatarbelakangi BGA menggunakan metode karbonisasi atau biochar. Salah satunya harga pupuk yang mahal. 

"Karena harga pupuk yang mahal melatarbelakangi kita mencoba metode ini. BGA sudah punya alatnya dari china namanya beston. Produksinya 1-2 ton per jam," kata Huani Batubara, saat kegiatan workshop sosialisasi karbonisasi tandan kosong sawit dan pemanfaatan soil conditioner untuk meningkatkan kesuburan tanah, Selasa (9/7/2024).

Kegiatan ini digelar Surfaktan dan Bioenergi, Institut Pertanian Bogor dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit di Pontianak. 

Husni bilang, metode tersebut sudah dibuat di Kalteng dan sudah diaplikasikan ke kebun kelapa sawit. 

Dari hasil pengamatan sementara, biochar hasil dari proses karbonisasi diyakini bisa meningkatkan KTK tanah dan retensi air. 

 "Jadi dia bukan pupuk. Tapi bisa meningkatkan kinerja pupuk karena tidak muda tercuci. Jadi hasil sementara analisa tanah dirasa cukup bagus," terangnya. 

Kepala Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi, Eliza Hambali mengatakan, workshop ini bertujuan untuk mendorong karbonisasi tandan kosong kelapa sawit untuk meningkatkan kesuburan tanah. 

Menurutnya, selama ini pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit baik oleh pabrik kelapa sawit dan masyarakat masih sangat terbatas. Bahkan, di pabrik kelapa sawit masih menjadi masalah lingkungan karena tak boleh dibakar. 

"Oleh sebab itu, salah satu solusi yang dapat dilakukan dengan melakukan karbonisasi," kata Eliza Hambali. 

Proses karbonisasi kelapa sawit tersebut dapat menghasilkan soil conditioner, yang baik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan efisiensi pemupukan pada perkebunan kelapa sawit. 

Sebab, biochar yang dihasilkan dari proses tersebut berfungsi menahan air, dan menyerap unsur hara. 

"Jika unsur hara ini terserap, maka tanaman makin lama-lama makin subur, memperbanyak mikroba tanah, setelah itu menghindari licing sehingga pupuk tidak hanyut terkena hujan," terangnya. 

Menurutnya, pengamatan PT BGA penggunaan biochar dari tandan kosong sawit dapat mengurangi jumlah pupuk NPK yang digunakan sebesar 20 persen. 

Efektif di tengah mahalnya harga pupuk kimia, adapun proses karbonisasi tandan kosong kelapa sawit menggunakan teknologi karbonisasi yang membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit, dengan rendemen sekitar 30 persen, dengan catatan kadar air TKKS dibawah 15 persen.

Sementara itu, Wakil Rektor Untan, Rustamaji mengatakan, kunci keberhasilan tersebut terletak di karbonisasi. Tujuannya, agar pupuk bisa bekerja optimal dan efisien. Tidak lost dan hilang.

"Kita berharap ada kesempatan di waktu mendatang dengan apa yang sudah diinisiasi Surfaktan para dosen Untan bisa bekerja sama dengan pelaku asosiasi dan petani kelapa sawit untuk bisa mendesiminaiskan metode ini lebih luas," pungkasnya.***


Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment