Perayaan Imlek di Ngabang, Harmoni Budaya Merawat Kemajemukan
LANDAK, insidepontianak.com — Langit Ngabang, Kabupaten Landak, berpendar oleh cahaya lampion yang menggantung di antara riuh warga, Kamis (26/2/2026) malam. Merahnya menyala hangat. Memberi harapan baru.
Sementara itu, jalanan berubah menjadi lautan manusia. Anak-anak bertengger di pundak ayahnya agar bisa melihat panggung. Remaja sibuk merekam suasana dengan ponsel.
Sedangkan para lansia berdiri tenang, sesekali tersenyum melihat keramaian yang jarang hadir selengkap ini.
Malam itu, puncak perayaan Imlek di Ngabang bukan sekadar ajang merayakan pergantian tahun bagi masyarakat Tionghoa. Ia menjelma menjadi pesta rakyat yang terbuka, tanpa sekat.
Lampu panggung utama menyala perlahan. Musik mulai mengalun kencang memecah percakapan. Satu per satu pertunjukan budaya tampil, menarik perhatian ribuan pasang mata.
Regu penari dari empat etnis bergantian naik panggung: Tionghoa, Melayu, Dayak, dan Jawa. Masing-masing tampil dengan ciri khas sendiri. Mereka tampil bukan untuk saling menandingi. Tetapi untuk saling melengkapi.
Tarian Tionghoa membuka perayaan. Busana merah berkilau diterpa lampu. Kipas-kipas bergerak serempak, lembut dan presisi. Formasi berubah cepat, memukau penonton, dan tepuk tangan pun pecah serentak.
Irama cepat berganti. Musik Melayu yang rancak mengalun. Penari berkostum cerah melangkah lincah. Suasana makin meriah. Beberapa penonton ikut menggoyangkan bahu, tersenyum tanpa sadar.
Saat giliran regu penari Dayak tampil, panggung semakin berdenyut. Warna merah berpadu selendang kuning mencuri perhatian.
Gerakan energik dan tegas memancarkan kekuatan sekaligus kebanggaan identitas. Setiap hentakan membawa cerita tentang akar dan tanah yang dijaga.
Tarian Jawa dengan tema cerita Rama–Sinta menutup rangakaian pesat. Kisah penculikan Sinta oleh Rahwana dipentaskan lewat gerak dramatik dan penuh ketegangan.
Lenggok tangan dan sorot mata para penari membuat penonton terpaku, seolah ikut masuk ke dalam cerita.
Ketua Majelis Adat dan Budaya Tionghoa Kabupaten Landak, Bernadinus Mariadi, menyampaikan apresiasinya atas keterlibatan seluruh masyarakat dalam perayaan Imlek tahun ini.
“Malam ini kita menyaksikan bersama pagelaran budaya yang sudah dirancang untuk memeriahkan Imlek,” ujarnya.
Menurutnya, setiap etnis diberi panggung secara bergantian sebagai bentuk penghormatan atas identitas masing-masing. Bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk dirayakan bersama.
“Antusias masyarakat sangat luar biasa. Budaya yang ada di Landak kita satukan untuk kemajuan bersama,” katanya.
Antusiasme warga menjadi bukti bahwa perayaan ini lebih dari sekadar tradisi Tionghoa. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas budaya. Perbedaan tampil apa adanya, tanpa dilebur, namun tetap berdiri dalam satu bingkai kebersamaan.
Di bawah cahaya lampion yang mulai redup menjelang tengah malam, warga perlahan meninggalkan lokasi. Anak-anak masih membicarakan tarian yang paling mereka sukai. Para orang tua berjalan santai, meninggalkan panggung yang mulai sepi.
Yang mereka bawa pulang bukan hanya kenangan pertunjukan. Tetapi juga rasa bangga. Di tanah Landak, perbedaan tidak dipertentangkan. Ia dirawat. Dihidupkan. Dan dirayakan bersama.***
Penulis : Wahyu
Editor : -

Leave a comment