GAPKI Kalbar Ajak Pengusaha Sawit Kompak Hadapi Tantangan Global, Soliditas Kunci Menjaga Daya Saing

27 Februari 2026 21:19 WIB
Potong tumpeng menjadi simbol perayaan HUT GAPKI ke-45. (Istimewa)

PONTIANAK, insidepontianak.com — Di usia ke-45, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) terus meneguhkan soliditas para anggotanya. Sebab, kekompakan menjadi kunci menghadapi regulasi yang makin dinamis serta persaingan industri sawit global yang semakin ketat.

Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Barat, Aris Supratman, menegaskan sinergi antarpelaku usaha harus terus diperkuat. Tanpa kebersamaan, industri sawit akan sulit bergerak stabil dan menjaga daya saing.

“Pelaku usaha harus lebih kompak dan bersinergi agar semua berjalan baik, menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Aris saat buka puasa bersama media, Jumat (26/2/2026).

Menurutnya, selama ini sawit terbukti menjadi mitra strategis pemerintah. Saat pandemi COVID-19 menghantam, sektor ini tetap bertahan dan menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional melalui ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

Ke depan, tantangan industri semakin kompleks. Produktivitas kebun harus meningkat. Ketersediaan stok harus terjaga. Hal ini penting untuk mengimbangi tekanan perdagangan global, mulai dari kebijakan tarif ekspor, penerapan standar lingkungan yang semakin ketat, hingga kampanye negatif terhadap produk sawit di pasar internasional.

Di tengah situasi tersebut, GAPKI bersama pemerintah terus membuka dan mempertahankan akses pasar ekspor. Crude palm oil (CPO) dan berbagai produk turunannya masih menjadi penyumbang devisa negara yang signifikan, sekaligus bahan baku penting bagi industri pangan, energi, dan kosmetik.

Karena itu, GAPKI mendorong riset dan inovasi berkelanjutan, termasuk peningkatan produktivitas lahan dan efisiensi industri. Tujuannya jelas: menjaga pasokan, meningkatkan nilai tambah, dan memastikan industri sawit tetap relevan di masa depan.

“Sawit dan turunannya masih menjadi andalan ekonomi nasional,” tegas Aris.

Di Kalimantan Barat, sekitar 20 persen perusahaan sawit tercatat sebagai anggota GAPKI. Meski belum mayoritas, peran organisasi ini dinilai strategis sebagai wadah koordinasi antara pelaku usaha dan pemerintah daerah.

Melalui forum ini, berbagai regulasi dibahas dan dikomunikasikan. Iklim usaha dijaga agar tetap kondusif. Tujuannya menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah yang sehat dan berkelanjutan.

Terkait kebijakan ekspor 2026, Aris optimistis komoditas sawit masih memiliki peluang besar di pasar global. Perusahaan di Kalbar yang telah memiliki jaringan pasar diyakini akan terus menjaga kinerja dan kualitas produk.

Dengan modal itu, Kalbar diharap dapat terus menjadi salah satu kontributor utama produksi dan ekspor sawit nasional. Di sisi lain, GAPKI mendorong penuh penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Sertifikasi ini sangat penting untuk memastikan perusahaan mematuhi regulasi lingkungan dan ketenagakerjaan, sekaligus memperkuat sistem ketertelusuran (traceability) produk sawit.

Dengan penerapan ISPO, produk sawit Indonesia memiliki nilai tambah, meningkatkan kepercayaan pasar, dan memperluas penerimaan di tingkat global.

Untuk memastikan itu semua, industri sawit tidak cukup hanya besar. Industri ini harus berkelanjutan, transparan, dan solid dari hulu hingga hilir.***

 


Penulis : Abdul/ril/biz
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar