340 Titik Panas Terpantau, Lima Wilayah Terdampak, Karhutla di Kalbar Berpotensi Meluas Jelang Kemarau Panjang
PONTIANAK, insidepontianak.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai menunjukkan peningkatan.
Memasuki masa peralihan menuju musim kemarau, ratusan titik panas terpantau di berbagai wilayah dan kebakaran lahan sudah terjadi di sedikitnya lima daerah.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 340 titik panas terdeteksi di wilayah Kalbar. Peningkatan jumlah hotspot ini seiring dengan naiknya suhu udara serta mulai menurunnya potensi curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Terlebih lagi, BMKG memprediksi Kalbar akan mengalami kemarau panjang mulai April hingga Oktober 2026.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperparah kebakaran hutan dan lahan jika tidak diantisipasi sejak dini.
Adapun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi mencatat kebakaran lahan sudah terjadi di lima wilayah, yakni Kabupaten Sambas, Kubu Raya, Ketapang, Kayong Utara, dan Kota Pontianak.
Di Kabupaten Sambas, kebakaran lahan dilaporkan terjadi di Desa Teluk Kaseh dengan luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 30 hektare.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Kubu Raya, tepatnya di wilayah Mekar Sari, Sungai Asam, dan Sungai Raya dengan luas lahan terbakar mencapai puluhan hektare.
Di Kabupaten Ketapang, kebakaran terjadi di Desa Sungai Putri, Kecamatan Matan Hilir Utara, serta di Desa Bakau. Luas lahan yang terbakar di dua lokasi tersebut diperkirakan hampir satu hektare.
Sementara di Kabupaten Kayong Utara, kebakaran terjadi di beberapa titik, di antaranya Kecamatan Sukadana, Pulau Maya, Desa Kamboja, Desa Sutera, dan Desa Sejahtera dengan total luas lahan yang terbakar mencapai puluhan hektare.
Tak hanya di kabupaten, kebakaran juga mulai terjadi di Kota Pontianak. BPBD mencatat kebakaran lahan terjadi di Gang Purnama Sejahtera 7.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel mengatakan, kondisi kebakaran lahan sudah terjadi di Iima Kabupaten dan Kota.
"Beberapa diantaranya masih dalam penanggulan," kata Daniel.
Daniel memastikan, upaya penanggulangan melibatkan BPBD kabupaten dan kota, kepolisian, TNI, relawan pemadam kebakaran, PMI, hingga Masyarakat Peduli Api.
Namun, pemadaman di lapangan tidak mudah. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan sumber air.
“Petugas harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan pasokan air,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman berjalan lambat dan belum maksimal. Ia menyebut, saat ini sudah tujuh wilayah terdampak kebakaran lahan yang sudah menetapkan status siga darurat kabut asap. Diantaranya Ketapang, Kayong Utara, Sambas, Mempawah, Melawi dan Sanggau.
BPBD terus mengintensifkan patroli darat sebagai langkah pencegahan kebakaran lahan dan penanggulanga. Disamping itu mendorong modifikasi cuaca untuk membasahi lahan gambut.(Andi)
Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -
Tags :

Leave a comment