Ketika Ranking TKA Dirayakan, Apakah Kita Juga Merayakan Tujuan Pendidikan?
Oleh: Deni Ariyadi
Guru SMPN 2 Air Besar Landak
___________________________________
BELAKANGAN ini, linimasa media sosial dipenuhi unggahan sekolah yang mengucapkan selamat kepada para peraih nilai tertinggi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Foto-foto siswa berprestasi ditampilkan dengan bangga, disertai ucapan selamat dan apresiasi dari sekolah maupun masyarakat.
Tentu saja, tak ada yang salah dengan hal itu. Prestasi memang layak dirayakan. Kerja keras, kedisiplinan, dan ketekunan yang telah ditunjukkan para siswa pantas mendapat penghargaan.
Namun di balik berbagai ucapan selamat itu, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: apa yang dirasakan oleh siswa lain yang tidak berada di posisi teratas?
Dalam teori Social Comparison yang diperkenalkan oleh psikolog Leon Festinger, manusia memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya dengan membandingkan diri terhadap orang lain.
Dalam konteks pendidikan, ketika ruang publik dipenuhi oleh perayaan terhadap mereka yang memperoleh nilai tertinggi, sebagian siswa mungkin tanpa sadar menarik kesimpulan bahwa nilai adalah satu-satunya ukuran keberhasilan.
Muncul pertanyaan dalam benak mereka: “Jika nama saya tidak ada di sana, apakah berarti saya tidak cukup baik?”
Pertanyaan semacam ini penting untuk dipahami karena tujuan pendidikan sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan siswa dengan nilai akademik tinggi.
Kebijakan pendidikan Indonesia saat ini menegaskan bahwa Standar Kompetensi Lulusan tidak hanya berfokus pada aspek akademik.
Melalui 8 Dimensi Profil Lulusan, pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, kreatif, serta sehat jasmani dan rohani.
Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan tidak dapat direduksi hanya menjadi angka hasil tes.
Seorang siswa yang selalu jujur saat mengerjakan ujian, meskipun nilainya tidak tertinggi, sesungguhnya sedang menunjukkan karakter yang sangat berharga.
Siswa yang terus berusaha meskipun menghadapi berbagai keterbatasan juga sedang menunjukkan ketangguhan yang merupakan bagian penting dari profil lulusan yang diharapkan.
Begitu pula siswa yang senang membantu teman yang kesulitan belajar, aktif berkontribusi dalam kegiatan sekolah, atau mampu bangkit setelah mengalami kegagalan.
Semua itu merupakan capaian pendidikan yang tidak selalu tercermin dalam lembar hasil TKA.
Film 3 Idiots pernah menyampaikan pesan yang sangat relevan dengan dunia pendidikan. Salah satu kutipan yang terkenal berbunyi, “Pursue excellence, and success will follow.”
Keunggulan tidak selalu identik dengan peringkat. Setiap anak memiliki kekuatan, potensi, dan jalur pertumbuhannya masing-masing.
Berbagai penelitian yang dirangkum oleh American Psychological Association (APA) juga menunjukkan bahwa budaya kompetisi yang terlalu berpusat pada peringkat dapat meningkatkan kecemasan akademik dan menurunkan kepercayaan diri sebagian peserta didik.
Ketika penghargaan hanya diberikan kepada mereka yang berada di posisi puncak, ada risiko munculnya persepsi bahwa kontribusi dan perjuangan siswa lain menjadi kurang berarti.
Karena itu, yang perlu kita evaluasi bukanlah praktik memberikan apresiasi kepada siswa berprestasi.
Apresiasi tetap penting dan perlu dilakukan. Yang perlu direnungkan adalah keseimbangan dalam memberikan penghargaan.
Sudahkah kita juga mengapresiasi siswa yang menunjukkan integritas? Sudahkah kita memberikan pengakuan kepada mereka yang gigih berjuang? Sudahkah kita merayakan kreativitas, kepedulian, tanggung jawab, dan semangat belajar yang ditunjukkan oleh banyak siswa lainnya?
Pendidikan seharusnya tidak hanya membuat sebagian anak merasa berhasil, tetapi membantu setiap anak menemukan nilai dirinya.
Maka ketika hasil TKA diumumkan, mari kita mengucapkan selamat kepada para peraih nilai terbaik.
Namun pada saat yang sama, jangan lupa menyampaikan pesan kepada seluruh siswa bahwa mereka tetap berharga, tetap memiliki potensi, dan tetap memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar menemukan siapa yang memperoleh nilai tertinggi.
Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang utuh, yang memiliki karakter, kompetensi, dan kesejahteraan untuk menjalani kehidupan serta berkontribusi bagi masyarakat.
Nilai mungkin akan dikenang untuk beberapa waktu. Namun karakter, ketangguhan, dan kepedulian adalah bekal yang akan menemani seseorang sepanjang hidupnya.***
Penulis : Deni Ariyadi/Opini
Editor : -
Tags :

Leave a comment