Penyalur Ungkap Alasan BBM Langka di Batu Ampar: Bukan Stok, Tapi Distribusi Tersendat
KUBU RAYA, insidepontianak.com - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi akhir-akhir ini banyak dikeluhkan warga pesisir di Kubu Raya, khusus Kecamatan Batu Ampar.
Usut punya usut, persoalan ini ternyata bukan disebabkan oleh kekosongan stok, melainkan tersendatnya distribusi dari SPBU ke desa-desa.
Fakta itu diungkap oleh penyalur BBM di Kecamatan Batu Ampar, Sultan Syahrir, yang selama ini menjadi perantara pasokan ke wilayah pesisir.
Ia menyebut, pasokan sebenarnya masih tersedia di SPBU, namun sulit diakses oleh penyalur.
“BBM itu ada, bukan kosong. Tapi kami tidak bisa ambil,” kata Syahrir saat ditemui insidepontianak.com, Selasa (17/3/2026).
Selama ini, distribusi BBM ke Batu Ampar mengandalkan pengisian menggunakan jeriken dengan rekomendasi resmi dari camat.
Dalam kondisi normal, Syahrir mampu menyalurkan sekitar 48 jeriken per hari untuk memenuhi kebutuhan lima desa, yakni Tasik Malaya, Sungai Besar, Sungai Jawi, Tanjung Harapan, dan Padang Tikar Satu.
Namun, situasi berubah sejak adanya pengetatan pengawasan di SPBU. Yang katanya untuk mencegah aksi penimbunan BBM dikarenakan fenomena panic buying.
Menurutnya, pengawasan yang melibatkan aparat kepolisian hingga pihak Pertamina membuat petugas SPBU tak berani melayani pengisian BBM menggunakan jeriken, meskipun telah dilengkapi dokumen resmi.
“Sekarang dijaga ketat. Jadi mereka tidak berani melayani kami, walaupun sudah ada rekomendasi,” jelasnya.
Kondisi ini memicu terhentinya distribusi ke desa-desa yang selama ini bergantung penuh pada penyalur.
Padahal, kebutuhan harian mencapai sekitar 50 jeriken agar aktivitas masyarakat tetap berjalan normal.
Akibatnya, kelangkaan mulai terasa di tingkat warga. Bahkan dalam kondisi tertentu, masyarakat kesulitan mendapatkan BBM untuk kebutuhan mendesak, seperti pelayanan kesehatan.
“Pernah ada warga mau melahirkan, tapi BBM tidak ada sama sekali,” ungkap Syahrir.
Tak hanya itu, Syahrir juga merasa kebingungan, sebab adanya ketidaksinkronan informasi antara pihak Pertamina dan SPBU.
Di mana, terdapat pernyataan bahwa pengisian BBM menggunakan jeriken diperbolehkan selama memiliki rekomendasi. Namun di lapangan, kebijakan tersebut tidak berjalan.
“Di atas katanya boleh, tapi di bawah tidak ada yang berani. Ini yang bikin kami bingung,” tuturnya.
Dengan kondisi tersebut, Syahrir menegaskan bahwa jika distribusi dari SPBU tidak segera kembali normal, maka wilayah pesisir Batu Ampar, khususnya Padang Tikar, berpotensi mengalami kelangkaan total, terlebih menjelang Lebaran.
“Kalau tidak ada solusi, bisa lumpuh total,” tegasnya. (Greg)
Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment