Meriahnya Lomba Sampan Tajur Tuah Raye di Serimbu: Tradisi Baru yang Mengalirkan Kebersamaan
LANDAK, Insidepontianak.com - Perlombaan sampan Tajur Tuah Raye untuk pertama kalinya digelar di Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar. Meski baru perdana dilaksanakan, suasananya langsung menjelma menjadi pesta rakyat yang hangat dan penuh kegembiraan.
Sejak pagi, warga sudah memadati tepian sungai. Mereka berdiri berderet di bantaran, sebagian duduk di batang kayu atau berteduh di bawah pepohonan, menunggu dimulainya perlombaan.
Sungai yang biasanya tenang mendadak hidup oleh suara tawa anak-anak, seruan para penonton, serta bunyi dayung yang memukul permukaan air. Di atas air, beberapa sampan mulai diturunkan.
Bentuknya ramping dan memanjang, mengapung ringan mengikuti arus. Para pendayung bersiap di dalamnya dengan wajah penuh semangat.
Begitu aba-aba terdengar, dayung-dayung segera menghantam air, memercikkan butiran kecil yang berkilau di bawah cahaya matahari pagi. Sorak-sorai penonton pun pecah dari tepian.
Ketua Panitia Lomba Sampan Bidar Tajur Tuah Raye, Gery, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari upaya masyarakat Desa Serimbu untuk memeriahkan suasana Hari Raya Idulfitri sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.
“Kegiatan kami pada hari ini adalah kegiatan masyarakat Desa Serimbu untuk memeriahkan Hari Raya Idulfitri, yaitu lomba sampan bidar lintas RT,” ujar Gery di lokasi acara, Senin (23/3/2026).
Antusiasme warga terlihat dari jumlah peserta yang cukup banyak, bahkan untuk lomba yang baru pertama kali digelar.
Menurut Gery, perlombaan dibagi menjadi tiga kategori. Kategori umum diikuti oleh 23 tim peserta, kategori perempuan diikuti oleh delapan tim, sementara kategori anak-anak usia di bawah 15 tahun diikuti oleh empat tim.
Di antara riuh perlombaan kategori umum, suasana berubah semakin ceria ketika giliran anak-anak turun ke sungai.
Dengan tubuh kecil dan dayung yang hampir sebesar mereka, anak-anak itu mengayuh sampan dengan semangat yang tak kalah besar.
Kadang sampan mereka sedikit oleng, bahkan ada yang melenceng dari lintasan. Namun justru di situlah letak keseruannya. Penonton tak henti tertawa dan bertepuk tangan.
Dari tepian sungai, orang tua berseru memberi semangat, sementara anak-anak lain berteriak memanggil nama teman-temannya.
Kemeriahan kembali memuncak saat para ibu-ibu ikut berlomba. Dengan wajah penuh canda, mereka naik ke sampan sambil disambut gelak tawa warga. Begitu perlombaan dimulai, suasana berubah menjadi riuh rendah.
Ada yang mendayung dengan penuh tenaga, ada pula yang tertawa karena sampannya berputar arah.
Sesekali terdengar suara anak-anak memanggil ibu mereka dari tepian, membuat suasana terasa hangat dan akrab.
Bagi panitia dan warga, perlombaan ini memang bukan sekadar adu cepat di atas air. Lebih dari itu, ia menjadi ruang berkumpul bagi seluruh masyarakat desa.
“Tujuan kegiatan kita saat ini, selain menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Desa Serimbu, ini juga sebagai bentuk semangat persatuan masyarakat,” kata Gery.
Menjelang siang, matahari mulai meninggi. Namun riuh di tepian sungai belum juga reda. Sampan-sampan masih sesekali meluncur memecah arus, sementara tawa warga terus mengalir di sepanjang bantaran.
Bagi masyarakat Serimbu, hari itu bukan sekadar perlombaan sampan. Ia menjadi momen ketika seluruh warga desa, dari anak-anak hingga orang tua, berkumpul, berbagi kegembiraan, dan merayakan kebersamaan.
Dan dari riuh tepian sungai itulah, sebuah tradisi baru mulai lahir. Sebuah tradisi yang tidak hanya tentang lomba, tetapi tentang kebersamaan yang mengalir seperti arus sungai di Desa Serimbu. (*)
Penulis : Ya Wahyu
Editor : -

Leave a comment