PLTMH Tenguwe Landak Raih ASEAN Energy Awards 2026: Sistem Energi Tanpa Tergantung Diesel

9 Oktober 2026 17:08 WIB
PLTMH Tenguwe, Kabupaten Landak raih ASEAN Renewable Energy Award 2026 di Filipina/IST

MANILA, Insidepontianak.com – Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Tenguwe di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, meraih ASEAN Energy Awards 2026 kategori National Strategic Excellence.

Pembangkit berkapasitas 200 kilowatt (kW) ini mendapat pengakuan atas pengembangan energi terbarukan yang melibatkan masyarakat dalam pengelolaan dan pemeliharaannya.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam Gala Dinner and Awarding Ceremony ASEAN Energy Awards 2026 di Philippine International Convention Center, Manila, Filipina.

PLTMH Tenguwe kini memasok listrik selama 24 jam bagi 617 sambungan rumah di sembilan dusun.

Keberadaan pembangkit ini mengurangi ketergantungan warga terhadap generator diesel yang membutuhkan bahan bakar mahal, sekaligus membuka peluang kegiatan ekonomi yang memerlukan pasokan listrik.

Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengatakan, penghargaan tersebut berkaitan dengan upaya membangun sistem energi yang tidak hanya mengandalkan infrastruktur, tetapi juga memastikan masyarakat terlibat dalam pengelolaannya.

Menurut Karolin, pengembangan PLTMH Tenguwe berangkat dari persoalan akses listrik di wilayah pedalaman.

Pembangkit berkapasitas awal 50 kW yang dibangun pada 2015 itu rusak berat akibat banjir bandang pada 2019 hingga berhenti beroperasi.

Pemulihan fasilitas tersebut menghadapi kendala kewenangan karena pemerintah kabupaten tidak memiliki dinas khusus yang menangani pertambangan dan energi.

Sementara itu, pemeliharaan pembangkit skala desa membutuhkan pengelolaan rutin yang dapat dilakukan langsung oleh masyarakat.

“Kondisi saat itu cukup dilematis karena Pemkab tidak memiliki Distamben dan kewenangan energi ada di tingkat provinsi dan pusat, sementara Kementerian ESDM tidak mungkin mengurus pemeliharaan harian di tingkat desa," kata Karolin, Jumat (9/10/2026).

Pemkab Landak kemudian mengawal usulan pembangunan kembali PLTMH Tenguwe kepada Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM pada 2024–2025.

Pembangkit dibangun kembali di kawasan Air Terjun Stiin, aliran Sungai Pade, dengan kapasitas yang ditingkatkan menjadi 200 kW.

Salah satu aspek yang dikembangkan adalah pola pengelolaan berbasis masyarakat melalui BUMDes Maju Bersama, khususnya unit usaha kelistrikan.

Warga dilibatkan dalam perawatan turbin, pembersihan endapan air, dan pengawasan jaringan distribusi.

Masyarakat juga menyepakati iuran listrik sekitar 7 sen per kWh untuk membiayai operasional dan pemeliharaan pembangkit.

Di luar itu, warga bergotong royong menjaga kawasan hutan tutupan dan daerah aliran Sungai Pade untuk mempertahankan ketersediaan air sebagai sumber energi.

“Kunci utama keberhasilan PLTMH Tenguwe terletak pada partisipasi dan kemandirian masyarakat. Warga bukan lagi sekadar konsumen pasif, melainkan pemilik dan pengelola aktif yang menjaga mesin sekaligus melestarikan hutan di sekitarnya,” ujar Karolin.

Hemat Solar dan Tekan Emisi

Berdasarkan data proyek, operasional PLTMH Tenguwe mengurangi konsumsi solar sekitar 68.036 liter per tahun dan menekan emisi gas rumah kaca sebesar 183,7 ton setara karbon dioksida (CO2e) per tahun.

Dari sisi ekonomi, pengeluaran warga untuk kebutuhan listrik yang sebelumnya diperkirakan mencapai 80.000 dollar AS per tahun melalui penggunaan solar dan generator diesel turun menjadi sekitar 31.000 dollar AS melalui skema iuran PLTMH.

Penghematan diperkirakan mencapai 49.000 dollar AS atau setara Rp 750 juta–800 juta per tahun.

Ketersediaan listrik juga mendukung kegiatan produktif warga, seperti penggilingan padi dan usaha yang menggunakan mesin pendingin, serta membantu anak-anak belajar pada malam hari.

Karolin mengatakan, penghematan biaya bahan bakar membuat lebih banyak uang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan kegiatan ekonomi di desa.

“Efisiensi dari penghematan biaya BBM ini langsung berputar di dalam desa untuk menopang ekonomi keluarga dan usaha produktif warga,” katanya.

Karolin mengatakan, penghematan biaya bahan bakar membuat lebih banyak uang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan kegiatan ekonomi di desa.

“Efisiensi dari penghematan biaya BBM ini langsung berputar di dalam desa untuk menopang ekonomi keluarga dan usaha produktif warga,” katanya.

Karolin juga mengatakan keberlanjutan dan kondisi fasilitas tersebut akan bergantung pada pemeliharaan, kemampuan pembiayaan operasional, dan perlindungan lingkungan di sekitar sumber air. (*)


Penulis : Ya Wahyu
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar