Rumah Dibedah, Hasan Tersenyum
PONTIANAK, insidepontianak.com — Suara seng berderak setiap kali hujan turun sudah lama menjadi “musik” sehari-hari bagi Hasan.
Di sebuah gang sempit di Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, ia bertahan hidup bersama keluarga dalam rumah kayu yang nyaris roboh.
Dindingnya mulai lapuk. Lantainya rapuh. Ruangannya sempit untuk dihuni banyak orang. Hasan menyebut rumah itu “dagan”—istilah warga untuk bangunan yang sudah jauh dari kata layak.
Namun kehidupan tetap berjalan. Hasan membesarkan empat anak di sana. Kini, bersama satu anak perempuan, menantu, dan anggota keluarga lain, ia masih bertahan di ruang yang terbatas.
Setiap hari, Hasan mencari nafkah dengan berjualan es, air tebu, dan kelapa. Penghasilannya tak menentu. Kadang cukup. Kadang hanya bisa memenuhi kebutuhan makan setengah hari.
“Yang penting bisa makan dulu,” ucapnya pelan.
Harapan datang ketika namanya masuk dalam program bedah rumah Pemerintah Kota Pontianak. Bagi Hasan, ini bukan sekadar bantuan, tetapi kesempatan mengubah hidup.
“Kalau dapat bantuan, kita kerjakan yang benar. Ini untuk keluarga,” katanya dengan mata berbinar usai menerima bantuan simbolis, Senin (20/4/2026).
Tak menunggu lama, Hasan bersama keluarga langsung bergerak. Tanpa kontraktor. Tanpa kemewahan. Mereka membangun dengan tenaga sendiri. Gotong royong, siang dan malam.
Selama proses perbaikan, mereka tetap tinggal di rumah yang sedang dibangun ulang.
“Di situ juga kami tinggal. Semua ikut bantu,” ujarnya.
Meski bantuan belum mencukupi seluruh kebutuhan, Hasan tidak menyerah. Ia berusaha menambah sebisanya, meski kondisi ekonomi terbatas.
“Kalau kurang, ya kita usahakan sendiri,” katanya.
Kisah Hasan hanyalah satu dari ratusan cerita serupa di Kota Pontianak. Terutama di kawasan padat dan bantaran sungai, di mana rumah tidak layak huni masih menjadi persoalan nyata.
Membangun Masa Depan
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan program bedah rumah bukan sekadar membangun fisik, tetapi juga masa depan.
“Tahun ini kita bantu 217 rumah, masing-masing Rp30 juta, dan 135 unit WC. Total anggaran sekitar Rp4,6 miliar,” jelasnya.
Menurutnya, rumah layak huni berdampak langsung pada kesehatan dan produktivitas warga.
“Kalau rumah sehat, ventilasi baik, tidak lembap, risiko penyakit bisa ditekan. Ini penting untuk kualitas hidup,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya sanitasi dan air bersih, mengingat kondisi lingkungan yang masih menghadapi tantangan pencemaran.
Program ini dijalankan dengan semangat gotong royong. Warga menjadi pelaku utama pembangunan, didampingi tenaga teknis dari pemerintah.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pontianak, Derry Gunawan, menyebut nilai bantuan tahun ini meningkat dari Rp20 juta menjadi Rp30 juta per unit.
“Kita sesuaikan dengan kenaikan harga material, supaya hasilnya benar-benar layak huni,” katanya.
Secara keseluruhan, sekitar 500 unit rumah dan sanitasi ditangani tahun ini, termasuk bantuan dari pemerintah pusat.
Meski menghadapi kendala seperti legalitas lahan dan ekspektasi masyarakat, program ini terus diperbaiki agar tepat sasaran.
Bagi Hasan, perubahan itu kini mulai terlihat. Dari rumah “dagan” yang nyaris roboh, perlahan berdiri harapan baru.
Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -
Tags :

Leave a comment