Komisi II DPRD Kalbar Kunjungi PT KAN, Dorong Investasi Dongkrak Ekonomi dan Serap Tenaga Kerja Lokal
PONTIANAK, insidepontianak.com – Komisi II DPRD Kalimantan Barat melakukan kunjungan kerja ke PT Kalimantan Alumina Nusantara (KAN) pada Rabu (11/3/2026).
Kunjungan ini bertujuan melihat langsung perkembangan investasi serta potensi dampak ekonomi dari pembangunan industri pengolahan bauksit menjadi alumina di Kabupaten Sanggau.
Rombongan dipimpin Ketua Komisi II DPRD Kalbar, Fransiskus Ason, didampingi Wakil Ketua Komisi II Alexander serta anggota Komisi II Martin Luther, Yuhilda Harahap dan Roby Nazarudin.
Fransiskus Ason mengatakan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan dan dukungan terhadap investasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat.
Menurutnya, keberadaan industri pengolahan seperti PT KAN diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan di daerah, sekaligus memperkuat posisi Kalbar sebagai pusat agroindustri perkebunan dan pertambangan.
“Sekarang PT KAN dan beberapa perusahaan lain sudah mulai beroperasi. Jika dikelola dengan baik, investasi ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Kalbar hingga lima sampai sepuluh persen, bahkan bisa melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Legislator Partai Golkar Kalbar itu.
Ia mencontohkan daerah seperti Maluku yang mengalami lonjakan pertumbuhan ekonomi setelah hadirnya industri smelter nikel.
“Kita berharap Kalbar juga demikian. Selain meningkatkan ekonomi, investasi ini juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” katanya.
Fransiskus juga berharap adanya transfer teknologi dari tenaga ahli luar negeri kepada sumber daya manusia lokal sehingga ke depan putra-putri daerah dapat mengambil peran lebih besar dalam industri tersebut.
Soroti Kendaraan Berplat Luar Daerah
Anggota Komisi II DPRD Kalbar, Martin Luther, menyoroti potensi pendapatan daerah dari sektor pajak kendaraan bermotor dan alat berat yang digunakan perusahaan.
Ia berharap kendaraan operasional perusahaan dapat menggunakan pelat nomor dari Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Sanggau, agar pajaknya masuk ke daerah.
“Kalau plat kendaraan dari luar daerah, maka pajaknya juga masuk ke daerah asal kendaraan tersebut. Kita minta kendaraan yang beroperasi di sini bisa didaftarkan di Sanggau agar menambah pendapatan daerah,” jelasnya.
Martin menyebut sekitar 60 persen penerimaan pajak kendaraan akan masuk ke pemerintah kabupaten sehingga berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
CSR Harus Berdampak ke Masyarakat
Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Kalbar Yuhilda Harahap mengingatkan agar perusahaan benar-benar menjalankan program tanggung jawab sosial atau CSR yang berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.
Ia menilai banyak perusahaan yang pada awal berdiri memiliki komitmen baik, namun dalam pelaksanaannya tidak sepenuhnya dirasakan masyarakat.
“Kita minta CSR benar-benar menyentuh masyarakat, terutama di bidang pendidikan, kesehatan dan pembukaan lapangan kerja bagi warga sekitar,” tegasnya.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalbar Alexander juga menekankan pentingnya prioritas tenaga kerja lokal serta pengelolaan limbah industri yang harus diperhatikan dengan serius.
“Kami ingin investasi yang masuk benar-benar memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah. Prioritaskan tenaga kerja lokal dan pastikan pengelolaan limbah sesuai aturan,” katanya.
Target Produksi 2 Juta Ton Alumina
Direktur PT KAN, Gusti Fauzi, menjelaskan bahwa pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina yang dibangun perusahaan tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga dua juta ton per tahun.
Menurutnya, keberadaan industri ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas bauksit yang selama ini menjadi salah satu potensi besar Kalimantan Barat.
“Sekitar 40 persen cadangan bauksit nasional berada di Kalimantan Barat. Dengan adanya industri pengolahan ini, nilai tambahnya bisa dinikmati di dalam negeri,” jelasnya.
Ia menyebut alumina yang dihasilkan nantinya akan dipasok ke industri peleburan aluminium.
PT KAN juga menargetkan operasional penuh pabrik dapat tercapai secara bertahap hingga tahun 2027.
Dalam operasionalnya nanti, perusahaan diperkirakan membutuhkan sekitar 2.000 tenaga kerja dengan prioritas bagi masyarakat lokal.
“Kami berharap bisa menyerap sebanyak mungkin tenaga kerja lokal. Selain itu, proyek ini juga melibatkan vendor sehingga pelaku usaha lokal bisa ikut terlibat,” katanya.
Gusti menambahkan, teknologi pemurnian bauksit yang digunakan berasal dari China karena dinilai memiliki efisiensi tinggi dan biaya yang lebih kompetitif.
Terkait pengelolaan limbah, pihaknya memastikan telah menyiapkan sistem pengolahan limbah yang saat ini masih dalam tahap pengurusan perizinan.
“Secara umum pembangunan proyek berjalan baik. Kendala utama biasanya hanya faktor cuaca saat hujan yang dapat memperlambat pekerjaan,” pungkasnya.(Andi)
Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -
Tags :

Leave a comment