Di Balik Sepiring Nasi: Perempuan Desa dan Garis Depan Ketahanan Pangan
Waktu menunjukan pukul 07.00 WIB, masih cukup pagi memulai aktivitas. Dentingan logam disertai bau khas makanan setempat tercium samar di udara. Percakapan lirih dan tawa sesekali terdengar di luar pintu rumah. Aktivitas warga Dusun Sekabuk, Desa Sekabuk, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah pun dimulai.
Oleh Wati Susilawati
Langkah pelan lalu lalang terdengar di rumah sederhana tak jauh dari bentangan sawah hijau. Di sana, tampak Teresiayati (44) masih berjibaku di dapur kecilnya. Kata Yati, makanan untuk suami dan anak-anaknya. Yati punya dua orang anak, keduanya masih sekolah. Jadi, sebelum ke sawah atau ladang, ia harus menyiapkan makanan pagi mereka.
Tak sulit bagi Yati memegang peran ganda itu. Tak menyurutkan tekad untuk keluarga dan masa depan mereka. Sebagai perempuan yang bekerja, memastikan suami dan anak-anaknya tercukupi jadi hal rutin yang wajib ia lakukan, meski hanya makanan pokok saja.
Usai ‘berjibaku' di dapur, Yati pun mulai beranjak ke luar pintu. Pagi itu, ia bertemu dengan sejumlah warga setempat. Ia bermaksud membuka lahan sawah miliknya yang sudah siap ditanami padi.
Membuka lahan, menggemburkan tanah, menggunakan tractor hingga pembibitan dan penyemaian bukan hal baru bagi Yati. Meski menggunakan jasa orang lain untuk membuka lahan, tapi ia bertanggung jawab atas semua pengelolaan 13 hektar lahan sawahnya itu.
Ia mengaku tak mampu mengelola hektaran sawahnya itu. Waktu terkuras, lahan yang luas belum lagi aktivitasnya sebagai penyuluh dusun harus bertemu warga menjadi alasan utama mengapa ia bekerjasama dengan pihak lain dalam pengelolaan lahannya.
Tak Sekedar Dedikasi
Dusun Sekabuk masuk wilayah Desa Sekabuk yang memiliki luas 12.386 Hektar, atau 81,4 Km persegi. Desa Sekabuk dibagi menjadi empat dusun, salah satunya Dusun Sekabuk yang memilik 2 RT atau sekitar 374 Jiwa.
Dengan luas tersebut, tercatat dalam catatan desa bahwa Dusun Sekabuk sebanyak 28 hektar dari luas wilayahnya adalah persawahan dan perkebunan degan luas mencapai 44 hektar.
Sejauh mata memandang, suguhan alam dengan hamparan hijau membentang luas. Makin masuk pedalaman dusun, kamu akan dimanjakan banyaknya perkebunan buah. Pastinya membuat ‘ngiler’ untuk sekedar mencicipi.

Teresiayati dan sawah miliknya yang tampak hijau nan subur di Dusun Sekabuk, Desa Sekabuk, Kecamatan Sadaniang, Mempawah/IST
Hamparan sejuk persawahan dan kebun-kebun subur bukan tanpa kerja keras, ada tangan-tangan perempuan terampil untuk bisa menciptakan pemandangan hijau nan asri itu.
Sebagai tokoh perempuan, Yati dikenal sangat aktif. Ia memberikan edukasi kepada para perempuan di sana, terutama dalam sektor pertanian, mengingat dominasi Dusun Sekabuk adalah sektor ini. Mulai dari pencegahan hama, baik ulat, tikus, burung hingga walang sangit. Begitu juga soal penggunaan herbesida. Tak ketinggalan juga pembibitan ikan gabus dan nila.
Dengan banyaknya penyuluhan dengan target para perempuan ini, Yati hanya ingin mereka paham satu hal, untuk lebih bisa maju dan berkembang. Ia ingin, perempuan bisa menjadi mandiri dan tak hanya berdikari sendiri tapi juga menjadi tiang ekonomi dalam keluarganya.
Meski sang suami bekerja, tapi Yati tak pernah berpangku tangan. Ia ikut membantu perekenomian keluarga dengan bekerja. Keluarga mendukung, terutama suaminya tak pernah mengeluh, apalagi marah dengan aktivitas Yati yang menggunung.
Perempuan di Dusun Sekabuk tak hanya jago dalam hal pertanian dan perikanan tapi juga jaga berjualan, apalagi area tempatnya sudah dibuka lahan investasi. Tak pernah lelah dalam mengajarkan para perempuan, meski terkadang cukup pusing dengan beberapa tingkah warganya yang selalu berhenti di tengah jalan, tapi tak menyurutkan langkahnya untuk terus bermanfaat.
“Ibu-ibu suka berhenti di tengah jalan. Kita selalu kasi saran dan mau tidak mau kitanya yang lebih aktif lagi. Itu tantangan kita sebagai penyuluh,” katanya.

Teresiayati dan para perempuan Dusun Sekabuk Desa Sekabuk, Sadaniang, Mempawah saat diberi penyuluhan soal pertanian/IST
Namun, tantangan terberat bagi perempuan pemilik sawah adalah harga gabah yang tak stabil. Tak hanya tak stabil tapi juga cenderung naik hingga membuat petani rugi. Tempo lalu, harga gabah mencapai harga tertinggi dalam rentang beberapa tahun ini yaitu mencapai 6.000 per 1 kg. Naik Rp800 dari harga sebelumnya Rp5.200 per 1 Kg.
Tak hanya itu, tantangan cuaca, perawatan kurang diperparah dengan kemarau yang lama membuat kondisi panen berubah drastis. Apalagi untung, balik modal petani di sana sudah bersyukur.
Kondisi panen gagal ini cenderung membuat Yati dan perempuan petani Dusun Sekabuk patah arang, sempat tak mau lagi bertani musim berikutnya karena takut gagal.
"Cuman kami terus saja berusaha. Membagikan banyak ilmu perawatan pertanian, saling menyemangati dan terus berupaya terbaik saja," ujar Yati dengan senyum manisnya yang menular.
Ada tantangan tapi juga ada kemudahan yang didapati Yati dan para perempuan di sana, salah satunya ada pupuk subsidi pemerintah yang meringankan beban mereka.
Imbasnya, jika hasil panen bagus, maka keuntungan hingga Rp20 juta pun masuk kantong Yati, sebaliknya jika panen kurang bagus, hasil pun pas-pasan untuk makan atau malah rugi.
Bagi Yati, berbagai ilmu dan pengalaman kepada warga, terutama kalangan perempuan tak sekedar bertukar cerita inspiratif tapi memperkuat jaringan antar kelompok masyarakat.
Menciptakan sesuatu yang baik, meningkatkan kesejahteraan bersama hingga meningkatkan kualitas kelompok adalah tujuan dirinya terlibat dalam tim penyuluhan, apalagi sejak kelompok Rembulan didirikan, semangat untuk lebih menempa diri makin tinggi.
Menjadi perempuan aktif, tak hanya fokus soal pertanian sekitar tapi juga dengan menjaga pertanian sehat, otomatis para perempuan Dusun Sekabuk terlibat juga dalam menjaga lingkungan.
“Kita mengajak anak dan keluarga menjaga lingkungan di sekitar kita sehingga dampaknya bisa dirasakan untuk anak cucu kita. Membagikan cerita motivasi positif bisa diajarkan kepada warga biar juga hasilnya bagus. Saya harap ini bisa dirasakan semua perempuan di sini,” paparnya.
Perempuan dan Peran Besarnya
Faktanya, saat ini para petani di Dusun Sekabuk mengalami perubahan pola sistem pertanian. Praktik pertanian modern berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, petani makin bergantung pada proses dan hasil instan. Berbeda dengan pertanian lokal dulu yang masih tradisional dan memanfaatkan bahan alami dari hutan.
Saat menemui Kepala Dusun Pak Nungkat, Desa Sekabuk, Izhar, membenarkan hal itu. Ia berujar jika pertanian modern, terutama di tanah kawasan industri memiliki beberapa persoalan. Dari mulai masyarakat sangat tergantung penggunaan mesin hingga bahan kimia.
Ia juga menyoroti peran besar perempuan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa, terutama dalam aktivitas pertanian dan pengelolaan rumah tangga.
“Perempuan sebenarnya pelaku utama dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengurus anak, bertani, sekaligus membantu mencari penghasilan keluarga. Waktu mereka banyak dihabiskan di ladang, bahkan sejak pagi sampai sore,” ujarnya.
Menurut Izhar, peran perempuan dalam sektor pertanian sering kali belum diakui secara formal dalam kebijakan, padahal mereka memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan keluarga.
Faktanya, kehidupan dan keberlanjutan keluarga di desa tak lepas dari perjuangan perempuan. Kehidupan desa dan keluarganya banyak menyimpan cerita panjang tentang perubahan lingkungan, pangan, hingga kehidupan perempuan.

Para perempuan Desa Sekabuk, Sadaniang, Mempawah menanam padi/IST
Kisah ini diabadikan dalam paparan hasil riset Feminist Participatory Action Research (FPAR) yang dilakukan di Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah pada Jumat (13/3/2026) lalu.
Riset FPAR yang mengangkat tema “Advokasi Sepiring Nasi: Membaca Pengetahuan Lokal Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis dan Isu Ekstraktif” ini difasilitasi oleh Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM Indonesia) dengan dukungan Gemawan, yang selama ini mendampingi masyarakat di kedua desa tersebut.
Caroline, Perwakilan FAMM Indonesia di Kalimantan Barat, berujar penelitian dilakukan menggunakan pendekatan FPAR yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama dalam proses riset.
Melalui proses FPAR, perempuan diajak merefleksikan pengalaman mereka dan mengenali persoalan yang dihadapi.
“Dari situ kita bisa melihat bahwa perempuan sebenarnya memiliki pengetahuan dan kekuatan yang besar untuk memperjuangkan kehidupan mereka,” katanya.
Filosofi Sepiring Nasi
Metode FPAR tidak hanya menjadi alat penelitian, tetapi juga ruang bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman hidup mereka.
Arniyanti, pegiat sosial Gemawan yang terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan, FPAR sebenarnya bisa dilihat sebagai bentuk perjuangan perempuan untuk mempertahankan pengetahuan, hak, dan nilai yang mereka miliki.
Melalui proses ini, perempuan tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga menjadi subjek yang menceritakan realitas hidup mereka sendiri.
Penelitian yang dilakukan pada Januari 2026 ini melibatkan sekitar 28 perempuan dari Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan.
Dalam berbagai sesi diskusi dan refleksi bersama, para peserta berbagi pengalaman mengenai perubahan lingkungan serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari mereka.
Menurut Arniyanti, aktivitas ekstraktif tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga mengubah hubungan masyarakat dengan sumber penghidupan mereka.

Petani Desa Sekabuk, Sadaniang, Mempawah saat ini menjadi petani modern yang sangat tergantung mesin dan pupuk kimia/IST
Di Desa Sekabuk, misalnya, masyarakat mulai kesulitan mengelola ladang dan sawah, hasil panen menurun, serta meningkatnya ketergantungan pada bibit baru dan pupuk kimia.
Sementara di Desa Suak Barangan, masyarakat masih mempertahankan sistem ladang padi gunung dengan pola rotasi lahan alami sehingga kesuburan tanah relatif terjaga.
Selain itu, perubahan sistem pangan lokal juga mulai terlihat dari isi “sepiring nasi” keluarga. Ternyata ada filosofi dibalik itu.
Jika sebelumnya makanan keluarga berasal dari hasil kebun dan sungai seperti padi sendiri, ikan segar, dan sayur dari kebun, kini semakin banyak keluarga yang bergantung pada beras beli, ikan asin, hingga makanan kemasan.
Hal sama junga diungkap Ageng, pegiat sosial Gemawan yang juga mendampingi masyarakat di Desa Sekabuk dan Suak Barangan.
Tak bisa dipungkiri jika perubahan lanskap dan aktivitas ekonomi di desa turut memengaruhi kehidupan perempuan.
Ia mencontohkan kondisi di Desa Suak Barangan yang kini berada di sekitar wilayah perkebunan sawit. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat harus menyesuaikan pola ekonomi mereka.
Di Suak Barangan, kehadiran perusahaan sawit membuat masyarakat perlahan mengubah cara mereka bertani dan memenuhi kebutuhan ekonomi.
“Awalnya saya mengira ekstraktivisme hanya terkait pertambangan, tetapi ternyata lebih luas,” katanya.
Perubahan tersebut juga berdampak pada pola konsumsi dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat banyak mengandalkan hasil kebun dan sungai, kini sebagian kebutuhan pangan mulai bergantung pada pasar.
“Dulu setelah berladang, masyarakat masih bisa mencari ikan di sungai atau sayur di kebun. Sekarang kebiasaan itu mulai berubah. Bahkan sayur kadang menunggu pedagang yang lewat,” ujarnya.
Meski demikian, Ageng menilai perempuan desa menunjukkan daya tahan yang kuat dalam menghadapi berbagai perubahan tersebut.
Perempuan sebenarnya memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Ketika kondisi ekonomi berubah, mereka mencoba berbagai cara, termasuk berjualan atau mencari sumber penghasilan lain untuk membantu keluarga.
Melalui diseminasi hasil riset ini, para peserta juga membahas bagaimana pengalaman perempuan dapat menjadi sumber pengetahuan penting dalam membaca perubahan lingkungan serta memperkuat advokasi di tingkat desa.
Riset tak hanya soal perempuan terlibat dalam pemberdayaan keluarga tapi bagaimana perempuan menjadi pribadi tangguh bertahan hidup dan menjaga ketahanan pangan keluarga. (*)
Penulis : REDAKSI
Editor : Wati Susilawati
Tags :

Leave a comment