Kasus Avsec Supadio Terlibat Narkoba, Pengamat Singgung Rekrutmen hingga Pengawasan Amburadul
KUBU RAYA, insidepontianak.com - Pengamat transportasi udara Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani Alqadrie, menilai dugaan keterlibatan oknum Aviation Security (Avsec) Bandara Internasional Supadio Pontianak, Kubu Raya dalam penyelundupan narkotika jenis etomidate cair tak hanya ulah personal.
Namun melainkan, cerminan rusaknya sistem rekrutmen dan pembinaan petugas keamanan bandara.
“Kalau saya katakan, ini sudah lama menjadi antisipasi saya,” kata Usmulyani kepada insidepontianak.com, Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, penyelundupan narkoba melalui jalur bandara tidak mungkin terjadi tanpa adanya celah serius dalam sistem pengawasan internal.
“Semua itu ada sebabnya. Mulai dari sistem perekrutan, pembinaan sampai implementasi pengawasannya,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, kasus tersebut sebelumnya terungkap setelah Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Timur menangkap seorang kurir berinisial FP di Hotel Horison Balikpapan pada 13 April 2026.
Dari tangan FP, polisi menemukan 115 cartridge vape mengandung etomidate seberat sekitar 230 gram.
Dalam pengembangan kasus, polisi kemudian menangkap MH (28), oknum Avsec Bandara Supadio yang diduga membantu meloloskan FP saat pemeriksaan di bandara.
Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim, Kombes Pol Romylus Tamtelahitu menyebut, MH memanfaatkan posisinya untuk memalsukan identitas penumpang di manifes penerbangan agar tidak terdeteksi.
Usmulyani menyoroti, status MH yang disebut merupakan tenaga outsourcing (alih daya) bukan pegawai tetap.
Ia menilai, pola kerja tersebut berpotensi memunculkan lemahnya loyalitas dan pengawasan terhadap personel.
“Itu pegawai kontrak outsourcing. Kalau gajinya kecil, peluang mencari jalan lain untuk dapat uang itu terbuka,” ujarnya.
Ia bahkan mengkritik sistem pembinaan keamanan penerbangan pasca penggabungan BUMN aviasi dalam holding InJourney.
Menurutnya, perubahan struktur justru membuat pembinaan personel semakin tidak jelas.
“Sekarang pembinaannya perlu dipertanyakan. Hirarkinya tidak jelas, tanggung jawabnya ke siapa juga tidak jelas,” sindirnya.
Usmulyani mengatakan, keamanan bandara semestinya dijaga melalui evaluasi rutin dan pengujian berkala terhadap kesiapan petugas.
Ia mengaku, saat masih aktif di dunia penerbangan kerap melakukan simulasi diam-diam untuk menguji ketahanan sistem keamanan bandara.
“Saya dulu sering buat skenario uji coba untuk mengetes apakah pertahanan bandara bisa ditembus atau tidak,” ungkapnya.
Ia menilai pemerintah dan pengelola bandara harus segera melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem rekrutmen, pembinaan mental, hingga kesejahteraan petugas keamanan penerbangan.
“Kalau sumber daya manusianya sudah rusak dari awal, sistem pengamanannya pasti ikut rusak,” pungkasnya. (Greg)
Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment