Produksi Perikanan Kubu Raya Diklaim Terus Naik di Tengah Penurunan Armada dan Nelayan
KUBU RAYA, insidepontianak.com – Sektor perikanan laut di Kabupaten Kubu Raya menunjukkan tren menarik dalam tiga tahun terakhir.
Pasalnya, di tengah armada dan jumlah nelayan semakin menurun, produksi tangkapan justru diklaim terus naik.
Data Dinas Perikanan Kubu Raya tahun 2024 mencatat 7.145 unit sarana penangkapan ikan.
Angka ini turun dari 7.237 unit pada 2023 dan 7.332 unit pada 2022.
Penurunan juga terjadi pada jumlah nelayan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kubu Raya, Tri Indriastuty, menyebut faktor sosial menjadi penyebab utama.
Menurut dia, banyak nelayan sudah lanjut usia, meninggal, atau beralih profesi.
Sebagian lainnya memilih berhenti karena kondisi ekonomi keluarga sudah lebih mapan.
“Penurunan itu karena kondisi eksisting nelayan sendiri,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Armada yang paling banyak berkurang berasal dari perahu motor 0–5 Gross Ton (GT).
Jenis ini selama ini menjadi tulang punggung nelayan tradisional di Padang Tikar, Batu Ampar, hingga kawasan muara.
Meski begitu, produktivitas justru meningkat. Produksi ikan laut pada 2022 tercatat 25.244,90 ton. Tahun 2023 naik menjadi 25.612,28 ton. Pada 2024 meningkat lagi menjadi 25.997,98 ton.
Kenaikan produksi berdampak langsung pada nilai ekonomi. Sepanjang 2024, nilai produksi mencapai lebih dari Rp611,6 miliar.
Sektor ini tetap menjadi penopang utama ekonomi masyarakat pesisir Kubu Raya. Potensi perairannya dinilai masih kuat.
Gulama Jadi Dandalan
Dari sisi komoditas, tangkapan ikan gulama atau tigawaja paling dominan pada 2024.
Total produksinya mencapai 3.471,82 ton.
Permintaan pasar stabil. Ketersediaannya di perairan Kubu Raya juga relatif melimpah. Selain gulama, sejumlah komoditas lain mencatat angka besar. Ikan duri 3.190,85 ton.
Kemudian, udang wangkang sekitar 1.934 ton. Ikan gembrang atau pupat 1.778,83 ton. Ikan manyung 1.325 ton. Kepiting 1.006,26 ton.
Dominasi komoditas demersal dan pesisir ini mencerminkan karakter perairan Kubu Raya.
Wilayahnya masih produktif bagi nelayan skala kecil dan menengah.
Pemerintah daerah kini melakukan verifikasi ulang data nelayan bersama pemerintah desa dan Disdukcapil. Langkah ini untuk memastikan basis data akurat.
“Data tersebut selanjutnya diserahkan ke BPS untuk diolah,” kata Tri.
Pengaruh Musim
Tri menjelaskan, produksi perikanan sangat dipengaruhi musim. Cuaca, angin, dan intensitas melaut menentukan hasil tangkapan.
“Produksi meningkat, tapi sangat dipengaruhi musim. Kalau musim tidak baik, angka bisa berubah,” ujarnya.
Dalam beberapa periode sampel, produksi ikan bahkan diperkirakan mendekati 27 ribu ton.
Artinya, potensi masih terbuka.
Untuk memperkuat sektor ini, dinas mempercepat pendataan melalui kartu pelaku usaha kelautan dan perikanan. Kartu ini menjadi akses berbagai fasilitas pemerintah.
Nelayan bisa memperoleh pembiayaan perbankan, rekomendasi BBM bersubsidi, hingga program bantuan.
Pemkab juga menggandeng perbankan, pemerintah desa, camat, dan OJK untuk mendorong inklusi keuangan.
“Kami ingin nelayan mudah mendapat layanan, baik kolektif maupun melalui skema bank,” jelasnya.
Diversifikasi dan Pengawasan
Pemkab Kubu Raya pun mendorong nelayan tidak hanya bergantung pada tangkapan laut.
Diversifikasi usaha menjadi strategi menghadapi musim buruk.
Nelayan diarahkan mengembangkan pengolahan hasil perikanan dan budidaya.
Tujuannya menjaga pendapatan tetap stabil.
Ke depan, Pemkab menyiapkan pengembangan kampung nelayan berbasis program pusat dan provinsi. Pendataan lokasi kampung nelayan aktif sedang dilakukan.
Program ini diharapkan memperkuat infrastruktur, fasilitas usaha, dan kualitas permukiman pesisir. Pemerintah juga menekankan pencegahan illegal fishing melalui pembinaan.
“Yang bisa kita lakukan adalah sosialisasi dan edukasi agar nelayan patuh aturan,” tegas Tri.
Nelayan didorong memakai alat tangkap ramah lingkungan. Di antaranya pancing ulur, pancing rawai, jaring insang, dan pukat cincin.
Pengawasan turut melibatkan Pokmaswas atau Kelompok Masyarakat Pengawas. Kelompok ini bermitra dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Anggotanya terdiri dari nelayan, pembudidaya, tokoh masyarakat, dan akademisi. Mereka menjadi mata dan telinga aparat di lapangan.
Dengan tren produksi yang terus naik, prospek perikanan laut Kubu Raya dinilai tetap kuat.
Modernisasi alat tangkap, akses pembiayaan, dan penguatan distribusi menjadi kunci keberlanjutan sektor ini.***
Penulis : Gregorius
Editor : -
Tags :

Leave a comment