Warga Desa Jawa Tengah, Kubu Raya Protes Proyek Pembangunan Koperasi Merah Putih Dinilai Persempit Parit

30 Maret 2026 16:24 WIB
Pembangunan Koperasi Merah Putih di Desa Jawa Tengah, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya yang dikomplain warga karena dinilai menutupi alur parit, Senin (30/3/2026). (insidepontianak.com/Greg)

KUBU RAYA, insidepontianak.com - Suara seorang ibu paruh baya pecah di tengah deru pekerjaan bangunan Koperasi Merah Putih di Desa Jawa Tengah, Dusun Karya II, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya, Senin (30/3/2026).

Dengan wajah tegang, ia menunjuk tiang beton yang berdiri di bibir parit sambil memarahi para pekerja yang tetap melanjutkan aktivitas pembangunan.

“Parit kami ini jalur air, jangan ditutup!” teriaknya, disaksikan warga yang mulai berkumpul di sekitar lokasi.

Momen itu menggambarkan memuncaknya kekecewaan warga yang merasa saluran drainase lingkungan mereka dipersempit akibat pembangunan yang telah berjalan kurang lebih tiga bulan itu.

Warga khawatir, proyek yang seharusnya membawa manfaat justru berpotensi menimbulkan banjir di permukiman mereka.

Salah satu warga terdampak, Haryono, mengatakan masyarakat sebenarnya mendukung program Koperasi Merah Putih. 

Namun dukungan itu, kata dia, memiliki batas selama tidak merugikan warga sekitar.

“Kami bangga ada koperasi dekat rumah. Tapi jangan sampai hak warga dikorbankan, apalagi parit yang jadi jalur pembuangan air,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tiang terakhir bangunan berdiri hingga memakan sebagian badan parit yang sebelumnya memiliki lebar lebih dari 80 sentimeter. 

Saluran itu, selama ini menjadi akses utama aliran air limbah rumah tangga warga.

Menurut Haryono, warga telah beberapa kali menyampaikan keberatan dan mengikuti mediasi bersama pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta unsur TNI pada pertengahan Februari lalu.

Dalam mediasi itu, disebutkan adanya kesepakatan untuk menggeser posisi tiang bangunan sekitar 50 sentimeter agar aliran drainase tetap terbuka.

“Kami setuju pembangunan lanjut. Tapi kesepakatannya tiang digeser supaya parit tidak tertutup,” ujarnya.

Namun, warga mengaku terkejut ketika pekerjaan kembali dilanjutkan tanpa perubahan posisi bangunan.

“Setelah mediasi, sempat berhenti. Tapi pagi tadi kami lihat sudah dicor lagi. Kami merasa kesepakatan diabaikan,” ungkapnya.

Warga menilai penyempitan parit akan berdampak serius ketika musim hujan tiba. Sebab, kawasan tersebut masih kerap tergenang meski ukuran parit tergolong besar.

“Parit lebar saja masih banjir. Kalau diperkecil, pasti lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya,” tuturnya.

Selain itu, warga juga khawatir air cucuran atap bangunan yang terlalu dekat dengan batas lahan akan mengalir langsung ke pekarangan rumah mereka.

Ia menambahkan, warga sekitar tidak pernah diajak musyawarah sebelum pembangunan dimulai. 

Mereka baru mengetahui proyek tersebut setelah aktivitas pembangunan berjalan.

“Kami kira itu kantor desa karena dulu ada rencana pembangunan di situ. Ternyata koperasi, tapi kami tidak pernah diajak bicara,” katanya.

Di sisi lain, mandor proyek, Jainal Arifin, mengatakan dirinya hanya menjalankan pekerjaan sesuai perintah yang diterima sebagai pelaksana lapangan.

Ia mengaku, mulai bekerja setelah menerima instruksi pemasangan awal bangunan dan menganggap persoalan teknis telah diselesaikan sebelumnya.

“Saya hanya menjalankan perintah kerja. Kalau ada keputusan baru, kami siap mengikuti,” ujarnya.

Ia juga menyebut sempat ada rencana pemasangan gorong-gorong sebagai solusi agar aliran air tetap lancar. 

Namun hingga kini, belum ada keputusan final dari hasil mediasi antara warga dan pihak terkait.

Sementara itu, warga berharap pemerintah segera turun tangan menyelesaikan persoalan agar pembangunan Koperasi Merah Putih tetap berjalan tanpa mengorbankan lingkungan permukiman mereka. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar