Markuat, Tulang Punggung Keluarga yang 'Gugur' Usai Jatuh dari Lift Proyek Masjid Agung Awwaluddin Kubu Raya

16 April 2026 13:09 WIB
Suasana pemakaman Markuat, korban insiden jatuh dari lift proyek Masjid Agung Awwaluddin, Kubu Raya, Rabu (15/4/2026). (insidepontianak.com/Greg)

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Di usia 60 tahun, saat kebanyakan orang mulai mengurangi aktivitas berat, Markuat justru masih memilih bekerja keras. 

Setiap hari ia menantang lelah demi satu tujuan sederhana: memastikan anak bungsunya tetap bisa melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.

Namun takdir berkata lain. Markuat, pekerja proyek pembangunan Masjid Agung Awwaluddin Kubu Raya, meninggal dunia usai beberapa hari menjalani perawatan akibat insiden jatuh dari lift proyek.

Kepergian Markuat menyisakan duka mendalam bagi keluarganya. Di mata anak-anaknya, ia bukan sekadar ayah melainkan tulang punggung keluarga yang tak pernah berhenti berjuang.

“Bapak kami satu-satunya yang kami harapkan. Tulang punggung keluarga,” ujar anak sulung Markuat, Nur Halimah, saat ditemui di rumah duka, Rabu (15/4/2026).

Markuat meninggalkan tiga orang anak. Dua di antaranya telah berkeluarga, sementara anak bungsunya masih menempuh pendidikan di Pondok Pesantren.

Menurut Nur Halimah, itulah alasan sang ayah tetap bekerja keras meski usia tak lagi muda.

“Sampai umur 60 tahun ini bapak masih terus kerja keras, karena masih ada anak yang ditanggung di pondok,” katanya sembari menahan tangis.

Bagi keluarga, Markuat dikenal sebagai sosok pekerja keras yang nyaris tak pernah mengeluh. 

Dalam kesehariannya, ia disebut penyayang, ramah, dan selalu mengutamakan keluarga.

“Dia itu penyayang. Kerja keras orangnya. Tak pernah ngeluh,” tutur Nur Halimah dengan mata berkaca-kaca.

Bahkan di lingkungan kerja, Markuat dikenal sebagai pekerja yang rajin dan disenangi rekan-rekannya. 

Ia telah terlibat dalam proyek pembangunan Masjid Agung Awwaluddin sejak awal pembangunan sekitar enam tahun lalu.

“Dari awal sekali bapak saya kerja di proyek itu. Dibawa langsung sama kepala proyeknya. Sudah enam tahun kurang lebih,” ungkapnya.

Diketahui, insiden kecelakaan kerja di proyek perbaikan Masjid Agung Awwaluddin itu melibatkan enam pekerja.

Tiga di antaranya mengalami luka berat, yakni Samiri, Markuat, dan Mistuki.

Samiri mengalami patah rahang serta cedera berat di bagian kepala, sementara Mistuki mengalami patah rahang dan cedera pada tulang belakang.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Markuat sempat menyampaikan pesan kepada anak sulungnya dari ruang perawatan rumah sakit. 

Dalam kondisi sadar, ia meminta keluarganya mengurus segala persoalan yang timbul akibat musibah yang menimpanya.

“Bapak sempat bilang ke saya, suruh urus masalah bapak ini. Beliau juga berharap ada pihak yang bertanggung jawab atas musibah ini,” kata Nur Halimah.

Pesan itu bukan tanpa alasan. Markuat tahu, jika dirinya tak lagi ada, keluarga akan kehilangan penopang utama kehidupan mereka.

Kini, keluarga berharap ada perhatian dan tanggung jawab dari pihak terkait, terutama terhadap keberlangsungan pendidikan anak bungsu Markuat yang masih menjadi tanggungan keluarga.

“Harapan kami, terutama untuk adik saya yang masih mondok itu bisa diperhatikan. Karena saya juga sudah punya keluarga sendiri, hanya bisa bantu sebisanya,” ujar Nur Halimah.

Kepergian Markuat bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga kekosongan besar bagi keluarga yang selama ini bergantung pada kerja keras seorang ayah yang tak pernah mengeluh. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar