DPRD Kubu Raya Ingatkan Wacana Penggabungan Sekolah Tak Dipukul Rata, Perlu Kajian dan Pemetaan
KUBU RAYA, insidepontianak.com - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kubu Raya mewacanakan regrouping atau penggabungan sekolah di tingkat SD dan SMP.
Langkah itu disebut sebagai solusi mengatasi krisis tenaga pendidik akibat ratusan guru memasuki masa pensiun, sementara rekrutmen belum bisa dilakukan.
Namun, DPRD Kubu Raya mengingatkan agar kebijakan itu tidak diterapkan gegabah. Perlu pemetaan terlebih dahulu. Agar regrouping tidak menimbulkan persoalan baru.
“Kalau sekolah yang siswanya sedikit dan jaraknya berdekatan, regrouping mungkin memang bisa dilakukan,” kata Ketua DPRD Kubu Raya, Johan Saimima kepada Insidepontianak.com, Jumat (8/5/2026).
Ia pun menegaskan, kondisi sekolah di Kubu Raya berbeda-beda karena wilayahnya luas. Ada sekolah dengan jumlah murid minim, tetapi berada dekat dengan sekolah lain yang kapasitasnya lebih besar.
Ia mencontohkan sekolah yang hanya memiliki lima hingga 10 siswa per kelas dan berada dalam radius sekitar 500 meter hingga dua kilometer dari sekolah lain.
Dalam kondisi itu, regrouping dinilai bisa membantu pemerataan guru sekaligus membuat proses belajar akar lebih efektif dan maksimal.
“Kalau tidak digabung, sebaran gurunya makin terbatas. Tapi kalau dipusatkan di satu sekolah, tentu bisa membantu kebutuhan guru,” ujarnya.
Meski begitu, Johan menegaskan regrouping tidak bisa diterapkan secara menyeluruh, terutama pada sekolah dengan jumlah siswa besar.
“Kalau satu sekolah 500 murid, satunya lagi 400 murid lalu digabung, tentu harus dipikirkan lagi,” ungkapnya.
Menurutnya, penggabungan dua sekolah besar justru berpotensi membuat proses belajar mengajar tidak optimal karena jumlah siswa terlalu padat.
“Jangan sampai proses belajar mengajar jadi tidak maksimal,” tegas Ketua DPD NasDem Kubu Raya itu.
Karena itu, DPRD Kubu Raya meminta Disdikbud melakukan kajian mendalam sebelum menerapkan kebijakan regrouping sekolah dimulai.
Selain regrouping, Johan juga menilai opsi mutasi guru belum tentu efektif untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar di Kubu Raya.
Pasalnya, banyak sekolah saat ini sama-sama mengalami kekurangan guru. Karena itu, mutasi harus mempertimbangkan kebutuhan masing-masing sekolah.
“Kalau memang ada sekolah yang gurunya berlebih tentu bisa dimutasi, tapi itu juga harus dikaji lagi,” pungkasnya.***
Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment