Akui Banyak Petani Beralih ke Sawit, Pemkab Kubu Raya Perkuat Pendampingan dan Lindungi Lahan Pangan
KUBU RAYA, insidepontianak.com - Bagi sebagian petani di Kubu Raya, menanam padi kini tak lagi menjadi pilihan yang menjanjikan.
Apa alasannya?
Tekanan kebutuhan ekonomi membuat sebagian dari mereka beralih mengelola kebun kelapa sawit yang dinilai mampu memberikan penghasilan lebih pasti bagi keluarga.
Fenomena itu menjadi perhatian Bupati Kubu Raya, Sujiwo, saat menghadiri panen raya padi gadu di lahan Kelompok Tani (Poktan) Tunas Harapan I, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Selasa (13/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan petani terhadap sektor pertanian melalui pendampingan, bantuan sarana produksi, dan perlindungan lahan pangan.
Sujiwo mengatakan, dalam empat tahun terakhir sektor pertanian di Kubu Raya mengalami kemunduran, termasuk berkurangnya lahan pertanian produktif.
Salah satu penyebabnya adalah banyak petani yang beralih ke komoditas lain, terutama kelapa sawit.
“Kalau petani beralih ke sawit karena lebih menguntungkan dan bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga, kita tidak bisa menyalahkan mereka," kata Sujiwo.
Ia tak menampik, pemerintah selama ini belum sepenuhnya hadir di tengah petani. Karena itu, dirinya meminta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kubu Raya memperkuat pendampingan kepada kelompok tani serta memastikan berbagai kebutuhan petani dapat dipenuhi.
“Kita harus hadir, tanyakan apa persoalan mereka. Apakah butuh pupuk, pestisida, alsintan atau dukungan lainnya. Jangan sampai petani merasa berjalan sendiri,” ujarnya.
Sujiwo juga meminta para penyuluh pertanian lapangan lebih banyak berada di lapangan untuk memberikan edukasi dan pendampingan kepada petani.
Selain itu, ia menginstruksikan dinas terkait segera memetakan lahan pertanian produktif yang harus dipertahankan, termasuk kelompok tani yang masih aktif agar program bantuan lebih tepat sasaran.
Menurutnya, langkah tersebut penting mengingat Kubu Raya sebagai daerah penyangga Kota Pontianak menghadapi tekanan alih fungsi lahan untuk kawasan permukiman maupun pergudangan.
“Mana lahan produktif yang harus dipertahankan, mana kelompok tani yang perlu perhatian, itu harus dipetakan dengan baik,” tegasnya.
Di samping itu, Sujiwo juga merespons permintaan Kelompok Tani Tunas Harapan I terkait bantuan hand traktor rotary (alat pembajak sawah).
Ia memastikan, bantuan tersebut akan direalisasikan melalui APBD Perubahan dan ditargetkan diserahkan pada September mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kubu Raya, Agus Siswandi, mengatakan lahan padi gadu yang dipanen memiliki luas sekitar enam hektare dengan produktivitas mencapai lebih dari empat ton per hektare, lebih tinggi dibanding rata-rata produktivitas padi di Kubu Raya.
Selain meningkatkan produksi, pihaknya juga tengah menyiapkan konsep pengembangan kawasan pertanian tersebut menjadi destinasi agrowisata.
“Kami ingin kawasan ini tidak hanya menghasilkan padi, tetapi juga memberikan nilai tambah melalui sektor wisata sehingga pendapatan petani bisa meningkat,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah juga menyerahkan bantuan rodentisida untuk pengendalian hama tikus dan mengalokasikan bantuan hand traktor rotary pada APBD Perubahan tahun ini.
Ketua Kelompok Tani Tunas Harapan I, Suyono, mengaku petani masih menghadapi berbagai kendala mulai dari serangan tikus, gulma hingga burung yang mengganggu tanaman padi.
Karena itu, pihaknya berharap dukungan pemerintah terus berlanjut, terutama untuk bantuan alat pertanian, pupuk, benih, dan sarana pengendalian hama.
“Alhamdulillah selama ini sudah ada bantuan dari pemerintah, meski belum maksimal. Kami berharap ke depan perhatian terhadap petani semakin besar,” harapnya. (Greg)
Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment