Tarian Nimang Padi dan Nyanyian Amboyo: Ayunan Kasih Dayak Kanayatn untuk Sang Padi
Suasana khidmat terasa saat ritus dimulai. Ringan, penuh makna di tengah riuh pesta panen padi (Baroah) di Kabupaten Landak. Ritus menggambarkan keintiman mendalam antara masyarakat Dayak dan sumber kehidupannya, yaitu padi.
Melalui tarian nimang padi dan lagu Amboyo, padi tak sekadar dianggap sebagai komoditas pangan, melainkan sesosok anak yang harus ditimang dan dijaga jiwanya.
LANDAK
Suara tabuhan musik tradisional berdentum, mengiringi langkah-langkah ritmis para penari. Tangan mereka bergerak gemulai, mengayun pelan ke depan dan ke belakang, menirukan gerakan menimang seorang bayi.
Di sela gerak-gerak, terdengar lantunan suara yang mendayu, sebuah nyanyian yang membawa pesan magis sekaligus puitis.
Itulah Tari Nimang Padi, sebuah warisan leluhur yang hingga kini masih hidup dan biasanya dipertunjukkan setiap perayaan panen padi di kalangan masyarakat Dayak Kanayatn.
"Memang tarian nimang padi ini biasanya dibawakan saat naik dango (pesta panen padi) dan diiringi dengan Amboyo," ujar Ketua Sanggar Rinyuakng, Tebo.
Bagi masyarakat Dayak, padi memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Ia bukan sekadar ditanam, dipanen, dan dimakan.
Padi diyakini memiliki sumangat atau roh kehidupan, layaknya manusia. Filosofi inilah yang menjadi akar dari Tari Nimang Padi.
Tarian Nimang Padi memvisualisasi padi sebagai anak kecil. Layaknya seorang bayi yang rentan dan membutuhkan perawatan, padi pun membutuhkan perhatian penuh dari sang petani, mulai dari penanaman sebibit semai hingga bulir-bulir menguning siap panen.
Gerakan menimang dalam tarian ini adalah simbol dari kasih sayang, perlindungan, dan rasa syukur yang tulus dari masyarakat Dayak terhadap anugerah pangan yang diberikan oleh Sang Pencipta melalui alam.
Menjaga Ruh Padi agar Tak Berpaling
Keterikatan emosional dan spiritual yang kuat ini semakin dipertegas dengan adanya lagu Amboyo, yang menjadi ruh dari tarian tersebut.
Lagu ini berfungsi sebagai pengantar tidur atau 'nyanyian lullaby' yang ditujukan khusus untuk sang padi. Tebo menjelaskan, penamaan "Amboyo" sendiri merefleksikan fungsi tersebut.
Ia menjelaskan Amboyo berasal dari perpaduan kata "Ambo" yang berarti anak kecil, dan "Yo" yang merujuk pada lantunan atau alunan musik.
"Lagu ini menceritakan tentang anak kecil yang susah tidur. Nah, itu adalah melambangkan padi," kata Tebo, dengan nada suara yang penuh penghayatan.
Ada kepercayaan jika sumangat atau roh padi merasa tidak nyaman atau tidak dihargai, ia bisa pergi meninggalkan masyarakat.
Kepergian roh padi ini ditakuti akan berdampak pada kegagalan panen di masa mendatang atau berkurangnya keberkahan dari padi yang telah dipanen.
Oleh karena itu, lagu Amboyo dilantunkan sebagai upaya untuk menenangkan dan membujuk roh padi agar tetap merasa nyaman dan berada di tengah-tengah masyarakat.
"Sehingga tahun-tahun ke depan padi tetap dekat dengan manusia. Agar berladang tetap mendapat padi yang melimpah," jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Sanggar Rinyuakng, Lanyo menjelaskan bait pantun dalam nyanyian Amboyo, padi disimbolkan sebagai anak kecil yang harus ditimang atau dimanja, hal ini bertujuan untuk menjaga roh padi agar tetap hidup berdampingan dengan masyrakat.
"Padi ini agar sumangat atau rohnya tetap berada dengan kita, dia harus dilantunkan dan dinyanyikan dengan lagu Amboyo ini tadi. Jadi seperti itu," tutur Lanyo,
Meskipun nuansa lagu dan gerakannya sangat feminin, mengingatkan pada sosok seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya.
Lanyo menegaskan, tarian dan nyanyian ini tidak bersifat eksklusif untuk perempuan saja. Laki-laki pun diperbolehkan, bahkan didorong, untuk membawakannya.
Hal ini menunjukkan tanggung jawab untuk menjaga dan menghormati padi adalah tugas seluruh masyarakat, tanpa memandang gender.
"Namun memang pendekatan lagunya memang seperti wanita yang menggendong dan menidurkan anaknya," tambah Lanyo.
Pelestarian di Luar Batas Sanggar
Di tengah arus modernisasi, pertanyaan mengenai keberlangsungan tradisi ini pun mengemuka. Beruntung, semangat untuk melestarikan Nimang Padi dan Amboyo masih terasa kuat.
Warisan budaya ini tidak hanya terkungkung di dalam sanggar-sanggar seni atau komunitas tertentu, tetapi telah menyatu dengan perayaan pesta panen padi yang digelar oleh masyarakat Dayak.
Pementasan Nimang Padi tidak melulu harus dibawakan oleh kelompok penari formal atau organisasi kemasyarakatan.
"Kalau yang bawakan itu ya terserah juga sih siapa yang siap. Kalau mungkin dari masyarakat tertentu yang siap untuk nampil, diperbolehkan," jelas Tebo.
Keterbukaan ini memungkinkan siapa saja, selama memiliki kemampuan dan kemauan untuk melantunkan lagu dengan benar serta mengikuti irama musik yang khas, dapat ikut serta.
Hal ini menjadi angin segar bagi upaya pelestarian, karena seni ini tetap hidup dan relevan di hati masyarakat akar rumput, bukan sekadar menjadi tontonan yang dipentaskan pada momen-momen tertentu saja.
Interaksi yang terus-menerus ini juga memastikan bahwa keaslian inti dari lagu Amboyo tetap terjaga.
Meskipun dinyanyikan oleh berbagai individu dan kelompok yang berbeda di berbagai lokasi—baik saat Naik Dango di Landak, Mempawah, maupun di daerah Ambawang di Kubu Raya—isi dan esensi dari lagu tersebut tetap konsisten.
"Kalau untuk isi dari lagu Amboyo tadi sama sih ya. Karena tadi lagu Amboyo, atau juga biasa dikenal dengan judul Tingkakok Nimang Padi," tegas Tebo.
Konsistensi vokal dan musikal ini menjadi penjaga identitas budaya Dayak Kanayatn agar tidak tergerus zaman.
Tari Nimang Padi dan Lagu Amboyo adalah lebih dari sekadar pertunjukan seni.
Ia adalah manifestasi dari kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk hidup harmonis dengan alam, menghargai setiap bulir makanan sebagai anugerah yang bernyawa, dan merawatnya dengan penuh kasih sayang layaknya merawat buah hati sendiri.
Di bawah ayunan kasih dalam tarian Amboyo, masyarakat Dayak Kanayatn terus menenun harapan untuk masa depan yang penuh keberkahan dan keberlanjutan. (*)
Penulis : Ya Wahyu
Editor : -

Leave a comment