Penanganan TBC di Landak Terkendala Deteksi Kasus dan Kepatuhan Pengobatan

24 April 2026 16:25 WIB
Ilustrasi - Penderita TBC

LANDAK, Insidepontianak.com - Penanganan tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Landak masih menghadapi tantangan serius, terutama dalam penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan pasien.

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, mengatakan TBC bukan penyakit yang mudah dikenali karena gejalanya tidak selalu khas.

“TBC itu tidak harus selalu batuk. Gejalanya bisa macam-macam, terutama pada anak-anak, sehingga memang cukup sulit untuk didiagnosis,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya capaian penemuan kasus di lapangan. Dari target 1.084 kasus, realisasi hingga saat ini baru mencapai 209 kasus atau sekitar 19 persen.

Angka ini menunjukkan masih lebarnya kesenjangan antara target dan capaian, sekaligus mengindikasikan masih banyak kasus TBC yang belum terdeteksi di masyarakat.

Selain itu, evaluasi penanganan juga menunjukkan belum optimalnya pelacakan dan pengobatan terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien. Padahal, langkah ini penting untuk memutus rantai penularan.

Dalam penanggulangan TBC, tingkat keberhasilan pengobatan atau success rate menjadi indikator utama. Namun, capaian Kabupaten Landak pada 2025 baru berada di angka 60,74 persen, masih di bawah target nasional.

Karolin menilai rendahnya angka tersebut berkaitan dengan masih adanya pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan.

“Yang sering terjadi itu putus minum obat. Ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kuman menjadi kebal terhadap obat,” katanya.

Pengobatan TBC sendiri membutuhkan waktu minimal enam bulan. Ketidakpatuhan dalam menjalani terapi tidak hanya menghambat kesembuhan pasien, tetapi juga meningkatkan risiko penularan serta resistensi obat.

Karolin menegaskan, penemuan kasus dan kepatuhan pengobatan harus berjalan beriringan agar penanganan TBC lebih efektif.

Ia juga meminta masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala yang mengarah pada TBC, serta mendukung anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan.

“Kalau ada keluarga atau teman yang terdeteksi TBC, obati sampai sembuh. Memang lama, tapi dengan pengobatan yang baik, TBC bisa disembuhkan,” ujarnya.

Dengan peningkatan penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan, diharapkan upaya pengendalian TBC di Kabupaten Landak dapat berjalan lebih optimal dan mampu menekan angka penularan di masyarakat. (*)


Penulis : Ya Wahyu
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar