UNISMA Dampingi Guru SD di Lombok Utara Susun Modul Ajar Berbasis Kearifan Lokal Sasak

3 Juni 2026 15:40 WIB
Tim peneliti Universitas Islam Malang (UNISMA) melaksanakan pendampingan kepada guru-guru dari lima Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB)/IST

MALANG, insidepontianak.com – Tim peneliti Universitas Islam Malang (UNISMA) melaksanakan pendampingan kepada guru-guru dari lima Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk menyusun modul ajar berbasis pembelajaran proyek yang mengintegrasikan kearifan lokal Lumbung Commoning Sasak. Kegiatan berlangsung pada 19–23 Mei 2026 dan diikuti oleh 50 peserta.

Program ini merupakan bagian dari penelitian internasional bertajuk “Transformative Learning in NTB: A Project-Based Collaborative Model for Primary Education Grounded in Lumbung Commoning” yang dipimpin Mohammad Yunus bersama tim peneliti Mahayu Woro Lestari, Siti Asmaniyah Mardiasih, Ari Ambarwati, Hamiddin, Imam Wahyudi Karimullah, dan Durrotun Nasihah. Riset tersebut didanai melalui skema kemitraan Indonesia-Australia, KONEKSI, untuk periode 2026–2027.

Pendampingan dikemas dalam bentuk Workshop Training of Trainers (ToT) yang melibatkan guru kelas serta guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Pancasila, dan Pendidikan Agama.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta didampingi menyusun modul ajar terintegrasi berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), dengan memanfaatkan nilai-nilai budaya lokal masyarakat Sasak sebagai sumber pembelajaran.

Co-investigator penelitian, Prof. Ania Lian, Ph.D., menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan emosional peserta didik. Menurutnya, guru perlu memastikan siswa memahami alasan dan tujuan mempelajari suatu materi sebelum menyajikan konten pembelajaran.

“Guru seharusnya memastikan betul murid memahami mengapa ia belajar materi tersebut, daripada sibuk menyusun materi ajar terlebih dulu,” ujarnya dalam sesi pendalaman pembelajaran.

Program pendampingan ini dilaksanakan di lima sekolah, yakni SDN Anyar 1, SDN Anyar 2, SDN Mumbulsari 2 di Kecamatan Bayan, SDI Terpadu Al Maarif Darussalam di Kecamatan Gangga, serta SDI Hidayaturrahman NW di Kecamatan Pemenang.

Materi yang diintegrasikan ke dalam modul ajar berasal dari pengetahuan budaya Sasak yang telah dihimpun pada fase pertama penelitian pada April 2026 melalui diskusi bersama budayawan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat.

Guru SDN Anyar 1, Munasir, mengaku pendampingan tersebut memberinya perspektif baru dalam menyusun modul ajar. Selama ini, kata dia, fokus pembelajaran lebih banyak tertuju pada penyampaian materi. Namun melalui program ini, guru diajak merefleksikan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada siswa serta memastikan siswa memahami manfaat dari materi yang dipelajari.

“Pendampingan fase dua ini membuat saya dan guru lainnya lebih mampu merefleksi nilai-nilai apa yang akan disampaikan kepada murid dan memastikan mereka memahami alasan mengapa materi tersebut perlu dipelajari,” katanya.

Hal senada disampaikan Raehanun, guru SDI Terpadu Al Maarif Darussalam. Ia mengaku lebih percaya diri dalam menyusun bahan ajar untuk siswa kelas II setelah mengikuti pendampingan.

“Saya jadi tidak terburu-buru mengejar target pembelajaran atau sekadar menyelesaikan tugas dan mencapai KKM. Saya menyadari bahwa membantu murid memahami tujuan mempelajari suatu materi jauh lebih penting,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti UNISMA, Mohammad Yunus, mengungkapkan bahwa fase kedua penelitian menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait jarak antarsekolah yang cukup berjauhan. Bahkan, sebagian peserta dari Kecamatan Bayan harus menempuh perjalanan hingga 1,5 jam menuju lokasi pelatihan.

Meski demikian, semangat para guru untuk menyelesaikan penyusunan modul ajar dinilai menjadi modal penting bagi keberhasilan program.
“Keteguhan para guru dalam menuntaskan modul ajar di tengah berbagai keterbatasan membangkitkan optimisme kami. 

Kami yakin mereka mampu menghasilkan modul ajar transformatif yang berlandaskan pembelajaran mendalam dan nilai-nilai budaya Sasak seperti Mewaran dan Begibung yang masih dipraktikkan di Lombok Utara,” ujar Yunus. (*)


Penulis : Fauzi
Editor : -
Tags :

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar