Hardiknas 2026 Dibayangi Krisis Guru, Sekolah di Landak Bertahan dengan Pengajar Seadanya

7 Mei 2026 10:52 WIB
Potret kegiatan belajar di salah satu SDN di Kabupaten Landak. (Insidepontianak.com/Wahyu)

LANDAK, insidepontianak.com — Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Kabupaten Landak, masih dibayangi persoalan mendasar: kekurangan guru yang belum juga teratasi.

Di SMP Negeri 2 Air Besar, misalnya. Ada lima mata pelajaran tak memiliki guru pengampu tetap. Guru Agama Islam, Agama Katolik, Seni Budaya, IPS, hingga Informatika, kosong.

Agar proses belajar mengajar tetap berjalan normal, sekolah terpaksa mencari jalan keluar sendiri.

“Akhirnya menggunakan guru yang tersedia,” ujar Kepala SMPN 2 Air Besar, Heru Wibisono, Kamis (7/5/2026).

Kondisi itu membuat sejumlah guru harus mengajar lebih dari satu mata pelajaran. Bukan karena sesuai bidang keahlian, melainkan agar tidak ada kelas kosong.

Situasi tersebut jelas tidak ideal. Namun sekolah tak memiliki banyak pilihan. Guru yang ada dipaksa menutup kekurangan agar seluruh mata pelajaran tetap diajarkan.

Di sisi lain, sekolah juga tidak bisa lagi merekrut tenaga honorer baru untuk menambal kekurangan tenaga pengajar.

“Bahkan kepala sekolah bisa terkena sanksi administratif kalau mengangkat guru honorer baru,” katanya.

Krisis guru di SMPN 2 Air Besar bukan kasus tunggal. Pemerintah Kabupaten Landak mengakui kekurangan tenaga pendidik masih cukup besar. Bahkan mencapai sekitar 1.100 guru.

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, mengatakan kondisi itu membuat pemerintah daerah berada dalam posisi sulit.

Di satu sisi kebutuhan pelayanan pendidikan terus mendesak. Namun di sisi lain, daerah juga dibatasi untuk melakukan rekrument.

“Saat ini kita dihadapkan pada kebijakan pembatasan belanja pegawai,” ujar Karolin pada 15 April 2026 lalu.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Landak, Samsul Bahri, menambahkan, kekurangan paling terasa terjadi pada guru agama tingkat SMP.

Berdasarkan analisis Dinas Pendidikan akhir 2025 hingga awal 2026, Landak masih kekurangan sekitar 64 guru Agama Islam, 61 guru Agama Katolik, dan 55 guru Agama Kristen.

“Ini memang masih menjadi kekurangan kita,” ujarnya.

Untuk sementara, sejumlah sekolah masih mengandalkan tenaga honorer lama yang sudah terdaftar di Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Sementara untuk jangka panjang, Pemkab Landak mengusulkan sekitar 100 formasi guru dalam penerimaan CPNS 2026.

“Untuk guru kelas, PAUD, dan guru mata pelajaran SMP. Tapi jumlah pastinya belum diketahui,” kata Samsul.

Di tengah pidato tentang kemajuan pendidikan dan peningkatan kualitas belajar, sebagian sekolah di Landak masih berjuang memastikan hal paling dasar: ada guru yang masuk ke kelas.***


Penulis : Wahyu
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar