Ritual Balala Dimulai, Kampung Dayak Kanayant di Landak Menyepi Tiga Hari
LANDAK, insidepontianak.com – Menjelang petang, suasana di kampung-kampung Dayak Kanayatn di Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, perlahan menyepi, Kamis (28/5/2026).
Jalanan yang biasanya ramai berangsur lengang. Tak banyak suara kendaraan lalu lalang. Anak-anak pun berhenti bermain di luar. Warga wajib pulang lebih awal. Pintu-pintu rumah ditutup rapat sebelum gelap menyambut.
Situasi ini menandai dimulainya ritual Balala Pantang Nagari: tradisi turun-temurun yang mengharuskan warga menahan diri dari berbagai aktivitas selama tiga hari.
Prosesi ritual dimulai pukul 18.00 WIB. Dipusatkan di Desa Keranji Paidang. Sebelum matahari terbenam, tetua adat lebih dulu memimpin ritual baremah di kawasan keramat: Panyugu Saleh, Dusun Kalime.
Dupa dibakar. Asap tipis melayang menembus langit. Sesaji dipersembahkan. Doa-doa adat warisan leluhur dirapalkan.
Mereka memohon izin kepada penguasa alam, meminta keselamatan bagi kampung, serta memohon dijauhkan dari penyakit, bencana, dan segala mara bahaya.
Balala bukan sekadar adat. Bagi masyarakat Dayak Kanayatn, ritual ini menjadi cara menjaga hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta, setelah masa bertani atau berladang selesai.
Selama masa pantang, warga dilarang bekerja di ladang dan kebun. Tidak boleh memetik tumbuhan. Tidak boleh membunuh hewan.
Bahkan, menggoreng makanan dan membuat kebisingan juga dihindari. Kampung benar-benar dijaga tetap tenang.
“Nah, itu pantang kami. Memang setiap bulan lima tanggal 28 kami mengikuti aturan nenek moyang,” ujar tokoh adat Desa Keranji Paidang, Arin.
Aturan itu juga berlaku bagi pendatang. Warga luar yang datang ke kampung tidak diperbolehkan langsung kembali sebelum masa pantang selesai.
“Kalau orang datang dari jauh, harus bermalam. Tidak bisa langsung pulang,” katanya.
Bagi masyarakat adat, pelanggaran terhadap pantang dipercaya bisa membawa akibat buruk. Karena itu, aturan dijalankan dengan penuh kesadaran moral.
Arin menyebut ritual Balala dilakukan sebagai ikhtiar menjaga kampung dari musibah dan wabah penyakit.
“Supaya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti sampar atau penyakit,” ucapnya singkat.
Imam adat, Udan, mengatakan doa-doa dalam ritual Balala dipanjatkan untuk meminta perlindungan bagi seluruh warga dan tanah tempat mereka hidup.
“Kami menghormati keramat air dan tanah. Minta dilindungi, minta dijaga supaya semua sehat,” katanya.
Pelaksanaan Balala di kampung-kampung Dayak Kanayatn berbeda-beda. Ada yang hanya sehari, ada pula yang tiga hari penuh.
Di wilayah Binua Sapiu Raya, Dusun Bintang, Desa Pahauman, seluruh aktivitas luar rumah dihentikan total selama tiga hari.
Pertokoan, bengkel, dan warung sembako ikut tutup. Namun, aktivitas ibadah di gereja dan masjid tetap diperbolehkan, sementara layanan publik seperti puskesmas dan rumah sakit juga berjalan terbatas.
Sementara di Desa Sidas, ritual Balala berlangsung satu hari penuh, mulai 28 Mei pukul 18.00 WIB hingga 29 Mei 2026 pukul 18.00 WIB.
Di tengah kehidupan modern yang terus bergerak cepat, masyarakat adat di Sengah Temila masih menjaga warisan leluhur itu dengan khidmat.
Saat tradisi adat Balala Pantang Nagari digelar, kampung-kampung kompak memberi penghormatan. Aktivitas berhenti sejenak.
Saat malam, hanya terdengar suara serangga dari balik pohon-pohon dan angin yang pelan menyapu halaman rumah.
Tiga hari itu, masyarakat patuh menenangkan kampung, menjaga alam, dan merawat hubungan yang mereka percaya telah diwariskan sejak lama.***
Penulis : Wahyu
Editor : -

Leave a comment