Membaca Pesan Politik Maman Anti-Dinasti: Erlina Menghilang, Ichfany Aklamasi

8 Maret 2026 18:30 WIB
Maman Abdurrahman. (Istimewa)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kalimantan Barat memang berlangsung teduh. Nyaris tanpa tarik-menarik kekuatan. Tanpa duel terbuka.

Di panggung depan, calon tunggal disepakati. Bendahara Golkar Kalbar, Ichfany, melenggang mulus terpilih aklamasi sebagai Ketua DPD Golkar Kalbar periode 2026–2031.

Di permukaan, proses pemilihan ketua Golkar Kalbar kali ini tampak rapi. Narasi soliditas dan persatuan politik digaungkan dari mimbar Musda.

Namun di balik suasana yang tenang itu, Ketua DPD Golkar Kalbar sebelumnya, Maman Abdurrahman, justru seperti telah mengunci kontestasi lewat pesan politik yang tajam.

Pidatonya saat pembukaan Musda tegas menyatakan tak menghendaki politik dinasti menguasai partai beringin.

Dalam praktik politik modern, dinasti politik merujuk pada situasi ketika kekuasaan berputar di lingkar keluarga membuat kompetisi politik menjadi tidak sepenuhnya seimbang.

Jaringan kekuasaan, modal politik, serta pengaruh yang terbangun dalam keluarga sering kali membuat satu kelompok memiliki keunggulan dibanding kader lain dalam kontestasi politik.

Maman pun menyatakan, pemimpin yang lahir dari dinasti politik belum tentu membawa kemajuan bagi organisasi.

“Sering kali yang diprioritaskan bukan membesarkan partainya, tetapi membesarkan dinasti politiknya,” tegas Maman dengan suara lantang.

Tak berhenti di situ. Maman juga menilai praktik dinasti kerap menjadikan partai sekadar alat melanggengkan kekuasaan.

Hilang dari Gelanggang

Pernyataan Maman kontan memantik beragam tafsir. Sebab, di saat pesan anti-dinasti disampaikan, satu nama yang sebelumnya ramai disebut masuk dalam bursa calon ketua justru tak lagi muncul dalam gelanggang Musda.

Nama itu adalah Bupati Mempawah, Erlina. Ia kader senior. Kekuatan elektoralnya tak diragukan. Dua kali terpilih sebagai Bupati Mempawah.

Dalam peta politik Kalimantan Barat, posisi Erlina juga tak berdiri sendiri. Ia merupakan istri Gubernur Kalbar, Ria Norsan.

Norsan juga tokoh politik yang lama berkiprah di Golkar. Terakhir ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan DPD Golkar Kalbar.

Namun, pada September 2024, Norsan dipecat karena maju sebagai calon Gubernur yang diusung partai lain.

Sikapnya dianggap tak sejalan dengan keputusan partai yang sudah mengusung Sutarmijdi-Didi Haryono. Ia pun kini bergabung di Gerindra.

Jejak politik keluarga Erlina-Norsan juga menjangkau tingkat legislatif. Putra mereka, Arif Rinaldi, tercatat sebagai kader Golkar dan sudah dua periode duduk di DPRD Kalbar.

Kombinasi posisi eksekutif dan legislatif dalam satu keluarga itu membuat sebagian pengamat melihat adanya konsolidasi kekuatan politik keluarga dalam peta politik daerah.

Dalam konteks itu, pesan anti-dinasti yang disampaikan Maman menjelang Musda menjadi semakin menarik dibaca.

Apalagi dukungan mayoritas pemilik suara Musda yang mengalir kepada Ichfany—figur yang oleh sebagian kalangan disebut bukan pemain utama dalam peta politik daerah.

“Banyak yang bilang Fani ini pemain pinggiran. Tapi ketika pemain pinggiran diberi kesempatan memimpin partai, dia bisa membuktikan partai itu bisa besar,” kata Maman.

Bagi Maman, kepemimpinan Golkar ke depan harus menjadikan partai sebagai rumah perjuangan, bukan sekadar kendaraan politik.

Ichfany Jalan Tengah

Pengamat politik Universitas Tanjungpura Pontianak, Syarif Usmulyadi, menilai pesan Maman soal politik dinasti bukan sekadar retorika. Arahnya terukur.

Pernyataan itu dapat dibaca sebagai sinyal politik di tengah dinamika internal Golkar Kalbar menjelang Musda sebelum aklamasi tercapai.

“Sindiran Maman diduga mengarah ke Erlina. Bahasanya cukup jelas, mengarah pada figur yang memiliki latar belakang dinasti politik,” ujarnya.

Dalam situasi itu, kemunculan Ichfany sebagai calon tunggal dinilai mencerminkan upaya mencari titik temu di internal partai.

“Ia disetujui DPP sehingga Musda bisa berjalan. Artinya pusat tidak menghendaki tokoh lain seperti bupati, wakil bupati, atau anggota DPR memimpin,” kata Usmulyadi.

Ia juga melihat Maman memiliki kepentingan strategis menjaga basis politiknya di Kalimantan Barat.

Karena itu, Golkar Kalbar tak diingingkan dipimpin figur yang berpotensi memperkuat dinasti politik tertentu.

“DPD punya kepatuhan terhadap Maman. Itu yang membuat suara mayoritas mendukung Ichfany,” ujarnya.

Tradisi Baru

Usmulyadi juga menilai keputusan menjadikan tokoh muda memimpin Golkar Kalbar sekaligus menandai tradisi baru di tubuh partai beringin.

Ini membuktikan, ketua DPD tidak lagi harus berasal dari kepala daerah atau anggota DPR yang sedang menjabat.

Golkar ingin mulai membuka ruang bagi kader non-petahana untuk memimpin organisasi. Selain itu, Golkar juga dianggap tengah serius membidik pemilih muda.

“Segmentasi milenial benar-benar diperhitungkan. Dengan memasang Fany, Golkar tampaknya ingin membidik pemilih muda sekaligus kader baru,” katanya.

Sebab, sebagian kalangan menilai Ichfany bukan figur sekuat tokoh-tokoh senior yang ada. Namun Usmulyadi menilai anggapan itu terlalu sederhana. 

“Jangan melihat Ichfany sebagai figur lemah. Di belakangnya ada Maman yang kemungkinan besar menjadi mentor politiknya,” ujarnya.

Ia bahkan memprediksi langkah itu juga menjadi pertaruhan reputasi politik Maman di tingkat pusat. Termasuk menjaga kekuatan Golkar Kalbar pada pemilu legislatif mendatang.***


Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : Abdul Halikurrahman

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar