Tiga Dekade Mengabdi, Satiman Menyapu Jalan Pontianak hingga Berangkat Haji

3 Februari 2026 13:05 WIB
Satiman (54) penjaga kebersihan Kota Pontianak. (Istimewa)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Satiman (54) bukan sosok yang akrab dengan sorotan kamera. Namun selama 33 tahun, sejak fajar menyingsing hingga matahari meninggi, ia setia menjaga kebersihan jalan-jalan Kota Pontianak.

Sapu di tangannya hampir selalu lebih dulu menyentuh aspal, bahkan sebelum toko-toko membuka pintu. Panas, hujan, dan debu menjadi bagian dari rutinitasnya sebagai petugas penyapuan—pekerjaan yang kerap dipandang sederhana, namun menjadi fondasi kenyamanan kota yang terus bertumbuh.

Kesetiaan dan konsistensi itu mengantarkan Satiman meraih penghargaan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Terbaik dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak pada 2021.

“Saya sudah menyapu jalan sejak zaman Pak Majid Hasan jadi wali kota. Bagi saya, bekerja itu amanah. Selama masih sehat, tugas harus dijalankan sebaik mungkin,” ujar Satiman, yang kini dipercaya sebagai mandor penyapuan, Selasa (3/2/2026).

Di balik rutinitas itu, Satiman adalah seorang suami dan ayah dari dua anak yang tengah menempuh pendidikan tinggi. Setiap ayunan sapu adalah ikhtiar sunyi—demi keluarga, sekaligus pelayanan bagi warga kota.

“Kalau kota bersih, orang jadi nyaman. Itu sudah jadi kebanggaan,” katanya, mengenang masa awal bertugas di kawasan Pasar Tengah.

Tak banyak yang menyangka, dari pekerjaan menyapu jalan itulah Satiman mampu menunaikan ibadah haji.

“Alhamdulillah, penghasilan dari pekerjaan ini saya tabung sedikit demi sedikit. Dengan izin Allah, cukup untuk berangkat haji,” ucapnya lirih.

Kisah pengabdian seperti Satiman sejatinya berlangsung setiap hari. Sayangnya, apresiasi kerap datang belakangan, setelah puluhan tahun kerja dijalani tanpa sorotan. Padahal, manfaatnya dirasakan luas oleh masyarakat.

Saat ini, lebih dari 700 petugas PPSU menjadi mitra Pemerintah Kota Pontianak dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Salah satunya Wahideh (58). Selama 22 tahun, ia bekerja sebagai petugas penyapuan sambil membesarkan anak-anaknya seorang diri. Satu anak telah berkeluarga, satu lainnya masih duduk di bangku SMA.

“Yang penting datang tepat waktu, kerja rapi, pulang tanpa beban,” ujarnya, tersenyum. Wahideh merupakan penerima penghargaan PPSU Terbaik 2019.

Semangat serupa dijalani Parni (46). Lahir dan besar di Pontianak, ia telah 22 tahun menyapu jalan kota dan juga meraih penghargaan PPSU Terbaik.

“Kalau jalan bersih, rasanya kerja itu ada hasilnya,” ucap Parni singkat.

Esok pagi, sebelum kota benar-benar terjaga, mereka akan kembali menyusuri jalan yang sama—menjaga wajah Pontianak tetap bersih.

Kepala DLH Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, menjelaskan penghargaan kepada petugas PPSU rutin diberikan setiap tahun. Tujuannya sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi.

“Penghargaan diberikan atas prestasi, loyalitas, dan jasa petugas dalam menjaga kebersihan kota,” jelasnya.

Penilaian mencakup disiplin kerja, tanggung jawab, serta kepatuhan terhadap perjanjian kerja. Penghargaan berupa piagam yang ditandatangani wali kota dan uang tunai berdasarkan kinerja selama satu tahun.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan kerja para petugas PPSU—dari pagi hingga malam—merupakan fondasi kota yang bersih dan nyaman.

“Banyak yang datang ke Pontianak lalu memuji kebersihannya. Itu buah kerja petugas yang sering luput dari perhatian, tapi nyata hasilnya,” ujarnya.

Menurut Edi, tantangan kebersihan akan terus meningkat seiring pertambahan penduduk. Karena itu, pengelolaan sampah yang konsisten menjadi keharusan.

“Kami ingin seluruh pelosok kota terkelola dengan baik—di darat, parit, hingga sungai. Hasil kerja mereka terlihat setiap hari, dan itulah yang membuat Pontianak layak dibanggakan,” tutupnya.***


Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar