Kalbar Jadi Kandidat Kuat Lokasi Pemanfaatan Energi Nuklir Pertama di Indonesia

18 April 2026 17:44 WIB
Anggota Dewan Energi Nasional, Muhammad Kholid Syeirazi saat menjadi pemateri dalam Seminar Nasional Energi Terbarukan di Hotel Golden Tulip Pontianak, Sabtu (18/4/2026). (insidepontianak.com/Greg)

PONTIANAK, insidepontianak.com - Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi kandidat kuat sebagai lokasi pemanfaatan energi nuklir pertama di Indonesia, dengan skema Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Pasalnya, selain masuk dalam kajian nasional, daerah ini juga ditopang potensi sumber daya yang telah lama diteliti.

Anggota Dewan Energi Nasional, Muhammad Kholid Syeirazi, menegaskan Kalbar sudah masuk dalam studi tapak pembangunan PLTN. 

Bahkan, kajian tersebut tak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga melibatkan pihak pengembang dari luar negeri, seperti Amerika.

“Kalbar ini salah satu yang sangat potensial. Studi tapaknya sudah ada," kata Kholid usai Seminar Nasional Energi Terbarukan di Hotel Golden Tulip Pontianak, Sabtu (18/4/2026).

Ia mengungkapkan, salah satu kekuatan Kalbar terletak pada ketersediaan bahan baku nuklir yang berada di Kabupaten Melawi. Cadangan itu disebut sudah melalui penelitian panjang.

“Cadangan uranium itu sekitar 24 ribu ton di Melawi dan sudah proven. Bukan spekulasi. Sudah diteliti sejak tahun 1970-an oleh BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional),” tegasnya.

Dengan dasar tersebut, Kalbar dinilai sangat layak bersaing menjadi lokasi PLTN pertama, bersama kandidat lain seperti Bangka Belitung.

“Jadi memang peluangnya besar. PLTN pertama itu bisa saja antara Kalbar dan Bangka Belitung,” katanya.

Dalam perencanaan pemerintah, energi nuklir sendiri telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dengan target operasi komersial pada 2035.

“Sudah ada rencana tahun 2035. Kapasitasnya sekitar 2x250 megawatt. Bisa saja dibagi, Kalbar 250 dan Bangka Belitung 250,” jelasnya.

Di sisi lain, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalbar, Prof. Sukino, menilai energi nuklir menjadi opsi rasional untuk menjawab kebutuhan energi jangka panjang, khususnya di daerah dengan potensi sumber daya besar.

“Tenaga nuklir ini harapannya menjadi pilihan ke depan karena relatif hemat dan mampu menopang kebutuhan energi,” ujarnya.

Namun, ia menekankan bahwa isu nuklir masih menjadi perdebatan di masyarakat. Karena itu, edukasi dinilai menjadi kunci utama.

“Masih banyak pro dan kontra. Ini perlu proses. Kampus siap memfasilitasi agar ada pemahaman yang utuh tentang nuklir,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, menyebut Indonesia secara umum memiliki potensi besar dari sisi bahan baku energi nuklir.

“Indonesia punya uranium sekitar 90 ribu ton. Ini potensi besar untuk pembangkit listrik,” ujarnya.

Ia menilai, energi nuklir juga memiliki keunggulan dari sisi lingkungan, namun penerimaan masyarakat tetap menjadi tantangan.

“Ini butuh edukasi. Sama seperti kendaraan listrik, awalnya juga diragukan. Tapi kalau sudah terbukti, kepercayaan itu akan muncul,” katanya.

Bahasan memastikan, pemerintah daerah pada prinsipnya siap mendukung kebijakan pusat, termasuk jika Kalbar ditetapkan sebagai lokasi pembangunan PLTN.

“Kalau kebijakan pusat sudah melalui kajian, tentu daerah siap melaksanakan. Tinggal bagaimana implementasinya di lapangan,” pungkasnya. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar