Jelang Piala Dunia 2026, Penjualan Jersey di Pontianak Menggeliat

29 Mei 2026 13:39 WIB
Zaki, pemilik toko olahraga Basmah Shop, memamerkan jersey tim nasional favoritnya di Piala Dunia, Jumat (29/5/2026). (Insidepontianak.com/Greg)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Euforia menyambut perhelatan akbar Piala Dunia 2026, mulai terasa di Kota Pontianak.

Semarak turnamen sepak bola empat tahunan ini ditandai dengan mulai menggeliatnya penjualan jersey tim nasional (timnas) para peserta Piala Dunia yang akan berlaga di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Geliat pasar tersebut dirasakan langsung oleh Zaki—pemilik toko olahraga Basmah Shop di Jalan Parit Haji Husein 1, Pontianak.

“Pembelian jersey sekarang sudah lumayan banyak meski harus bersaing dengan market online shop,” ujarnya saat ditemui, Jumat (29/5/2026).

Meski permintaan mulai naik, Zaki menilai antusiasme warga belum mencapai puncak. Lonjakan pembeli biasanya baru terjadi saat mendekati hari pembukaan dan kick-off turnamen.

Menurut Zaki, untuk saat ini, jersey Timnas Portugal berwarna hitam dan jersey putih milik Timnas Jerman menjadi produk yang paling diburu.

Harga jersey terbaru di tokonya dibanderol mulai dari Rp110 ribu ke atas, tergantung jenis dan kualitas bahan.

Zaki memprediksi harga ini akan ikut melambung seiring meningkatnya demam Piala Dunia. Ia berkaca pada edisi sebelumnya. Saat Argentina keluar sebagai juara, harga jerseynya melonjak drastis di pasaran.

“Terakhir Argentina juara itu naiknya luar biasa, bisa sampai 700–800 persen,” jelasnya.

Di balik bisnisnya, Zaki menekuni usaha berjualan jersey berakar dari kecintaan masa kecil pada sepak bola.

“Dari kecil memang suka jersey. Dulu pengen punya tapi enggak kesampaian, sekarang malah jadi sumber penghasilan,” tuturnya bernostalgia.

Inspirasi membuka usaha ini didapatnya saat merantau ke Yogyakarta. Kala itu, ia melihat kesuksesan temannya yang lebih dulu berbisnis jersey. Melihat modal dan keuntungan yang menjanjikan, Zaki pun nekat mencoba memanfaatkan ruang kosong di rumahnya.

Hingga kini, Zaki memilih mengelola tokonya secara mandiri dengan cara konvensional. Tanpa karyawan, tanpa sistem online penuh.

“Masih gaya lama lah. Orang datang, orang nanya. Kadang-kadang promosi lewat Instagram saja,” pungkasnya.***

 


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar