Kasus Campak di Sambas Siaga, Dinkes Ingatkan Warga Waspada
SAMBAS, insidepontianak.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas mencatat sebanyak 12 kasus suspek campak terjadi di wilayah Kabupaten Sambas sepanjang tahun 2026.
Meski belum ditemukan kasus kematian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan agar penyebaran penyakit tersebut dapat dicegah sejak dini.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, Ganjar Eko Prabowo, mengatakan campak merupakan penyakit menular yang masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Campak merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut yang sangat menular yang disebabkan oleh virus morbillivirus. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak dengan gejala demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta muncul ruam merah di seluruh tubuh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara global penyakit campak masih menjadi penyebab utama kematian anak. Pada tahun 2023 tercatat sekitar 107.500 kematian anak di dunia akibat campak, terutama pada kelompok balita.
Sementara di Indonesia, kasus campak dilaporkan mengalami peningkatan pada periode 2025 hingga 2026, khususnya di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah sehingga memicu sejumlah Kejadian Luar Biasa (KLB).
Untuk Kabupaten Sambas sendiri, hingga saat ini tercatat 12 kasus suspek campak tanpa kematian dengan rincian usia penderita, yakni 1 kasus pada usia di atas 1 tahun, 3 kasus usia 1–4 tahun, 5 kasus usia 5–9 tahun, dan 3 kasus usia 10–14 tahun.
Menurut Ganjar, meski jumlah kasus tersebut belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB), namun kondisi ini tetap harus menjadi perhatian agar tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih luas.
“Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius. Walaupun belum masuk kategori KLB, kita tetap harus mewaspadai dan melakukan langkah pencegahan sejak dini,” katanya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Sambas melalui Dinas Kesehatan juga mengimbau seluruh masyarakat untuk berperan aktif dalam mencegah penyebaran penyakit campak dengan meningkatkan koordinasi lintas sektor serta menerapkan pola hidup sehat.
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat antara lain melengkapi imunisasi campak pada anak, memberikan ASI pada bayi, mengurangi aktivitas anak terlalu banyak di luar rumah, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti rajin mencuci tangan.
Selain itu masyarakat juga diimbau menghindari kontak erat dengan penderita, menggunakan masker saat keluar rumah, serta meningkatkan daya tahan tubuh anak melalui asupan gizi seimbang dan waktu istirahat yang cukup.
“Peran keluarga sangat penting untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap dan menjaga pola hidup sehat agar risiko penularan dapat ditekan,” pungkasnya. (*)
Penulis : Antonia Sentia
Editor : -
Tags :

Leave a comment