PTPN IV PalmCo, Rumah bagi 69 Ribu Pekerja yang Majemuk

17 Februari 2026 09:53 WIB
Ilustrasi - Karyawan PTPN IV PalmCo. (Istimewa)

JAKARTA, insidepontianak.com – Industri kelapa sawit kerap dikenal lewat angka ekspor dan produk minyak gorengnya. Namun di balik jutaan ton produksi tersebut, tersimpan kisah tentang harmoni keberagaman yang menjadi fondasi produktivitas.

Sebagai salah satu perusahaan perkebunan sawit terbesar di dunia, PTPN IV PalmCo kini menaungi 69.455 tenaga kerja dari 55 suku bangsa berbeda. 

Komposisi ini menjadikan perusahaan tersebut layaknya “miniatur Indonesia” yang hidup dan bekerja dalam satu ekosistem industri modern. Data demografi per Desember 2025 menunjukkan tidak ada dominasi tunggal dalam struktur SDM.

Mulai dari suku Jawa, Batak, Melayu, Dayak, Minang, Bugis, hingga perwakilan Indonesia Timur seperti Ambon, Flores dan Papua, seluruhnya berbaur dalam denyut operasional kebun dan pabrik sawit yang tersebar di berbagai pelosok.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan bahwa kemajemukan ini bukan sekadar konsekuensi geografis, melainkan kekuatan strategis yang dikelola secara sadar.

“PTPN IV PalmCo ini benar-benar seperti Miniatur Indonesia. Kebun sawit lokasinya banyak di pelosok. Karena penduduk lokal terbatas, datang saudara-saudara kita dari berbagai pulau. Di sinilah pertemuan budaya itu terjadi,” ujarnya, Senin (16/02/2026).

Menurutnya, keberagaman justru melahirkan sinergi karakter dan etos kerja. Ketekunan, ketegasan, keramahan, serta kearifan lokal berpadu dalam nilai-nilai perusahaan (AKHLAK), membentuk budaya kerja yang solid dan produktif.

Ia mencontohkan praktik toleransi yang telah menjadi tradisi. Saat Hari Raya Idulfitri, operasional pabrik didukung karyawan non-Muslim. Sebaliknya, saat Natal, karyawan Muslim mengambil peran serupa.

 “Operasional tidak pernah berhenti, dan persaudaraan makin kuat,” tambahnya.

Adapun komposisi pekerja PTPN IV PalmCo usia produktif 31-40 ada 27 persen dan 41 persen pada usia 41–50 tahun—PTPN IV PalmCo.

Sawit Pemersatu

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menyebut industri sawit sebagai agen pemerataan ekonomi.

Menurutnya, sawit menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru yang mendorong migrasi lintas provinsi, membentuk struktur sosial multikultur yang jika dikelola baik akan menciptakan keseimbangan sosial sekaligus meningkatkan kinerja berbasis kompetensi.

Gagasan tersebut sejalan dengan konsep Sistem Agribisnis Modern yang digaungkan tokoh perkebunan nasional, Bungaran Saragih. Ia menekankan, daya saing agribisnis masa depan bertumpu pada human capital dengan budaya industri yang kuat, bukan semata pada lahan dan teknologi.

Transformasi budaya kerja PTPN IV PalmCo yang meleburkan 55 suku bangsa menjadi satu entitas profesional dinilai sebagai implementasi nyata pergeseran pola pikir dari pertanian tradisional menuju korporasi agribisnis modern yang adaptif dan berdaya saing global.

Sementara itu, Guru Besar Agribisnis IPB University, Bayu Krisnamurthi, kerap menekankan pentingnya aspek social sustainability dalam memenuhi standar pasar global. 

Harmonisasi lintas suku dan agama di tubuh PTPN IV PalmCo menjadi bukti konkret penerapan prinsip non-diskriminasi dan kesetaraan peluang kerja, yang menjadi prasyarat sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO maupun RSPO.***


Penulis : Andi Ridwansyah/biz
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar