Keran Pemda Mampet, Warga Sukadana Terpaksa Beli Air Bersih Ratusan Ribu Setiap Bulan

26 Maret 2026 16:20 WIB
Ilustrasi - Krisis air bersih. (Net)

KAYONG UTARA, insidepontianak.com – Warga Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, kembali mengeluhkan krisis air bersih.

Pasalnya, air yang distribusikan pemerintah tak mengalir. Keran mampet. Namun meteran tetap berputar. Tagihan pun terus datang setiap bulan.

Kondisi ini memaksa warga membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Biayanya mencapai Rp500 ribu hingga Rp800 ribu per bulan. Pengeluaran pun membengkak.

“Bulan ini sudah empat kali saya beli air. Itu pun hanya untuk mandi dan cuci piring. Pakaian terpaksa laundry. Biayanya hampir jutaan per bulan,” keluh Lestari, warga Sukadana, Kamis (26/3/2026).

Ia juga menyoroti sistem buka-tutup aliran air yang dinilai tidak efektif. Meski sesuai jadwal, air tetap tidak mengalir.

“Katanya ada jadwal, tapi tetap tidak mengalir dengan alasan debit kecil,” keluhnya.

Masalah ini muncul sejak pemasangan meteran air pada Desember 2025. Sejak itu, warga wajib membayar retribusi.

Namun, layanan justru memburuk. Air sering tidak mengalir. Warga harus memakai mesin penyedot agar air bisa keluar. Ironisnya, meteran tetap jalan meski air tidak keluar.

“Meterannya mutar sementara yang keluar cuma angin,” ucap Desi, warga Desa Pangkalan Buton.

Ia mendesak Pembda melakukan perbaikan segera. “Kalau tidak diperbaiki, lebih baik meterannya dicabut,” desaknya.

Kepala Dusun Simpang Empat, Andi, menyebut sekitar 70 persen warganya mengalami hal serupa.

“Air jarang mengalir, tapi warga tetap bayar tagihan,” jelasnya.

Tagihan bervariasi. Bahkan ada yang mencapai Rp400 ribu per bulan. Warga juga harus menanggung biaya listrik untuk mesin penyedot.

“Jadi pengeluaran bisa dua kali lipat,” katanya.***


Penulis : Fauzi
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar