Siswi MTs Pontianak Gantung Diri di Kubu Raya, Pihak Sekolah Bantah Isu Perundungan

29 Januari 2026 13:07 WIB
Ilustrasi

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Pontianak berusia 13 tahun ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (22/1/2026).

Peristiwa tragis ini sempat diikuti berbagai spekulasi di tengah masyarakat, termasuk dugaan bahwa korban nekat mengakhiri hidupnya akibat perundungan di lingkungan sekolah. 

Menyikapi hal tersebut, pihak sekolah melalui Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pontianak memberikan penjelasan dan membantah adanya praktik perundungan di lingkungan madrasah.

Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kemenag Kota Pontianak, Aris Sujarwono, menyampaikan klarifikasi bahwa tidak ditemukan indikasi bullying dalam kasus ini.

“Terkait isu bullying, saya kira tidak ada dan tidak ada indikasi untuk menjustifikasi ke arah sana. Ini murni tekanan pribadi secara personal,” ujar Aris kepada insidepontianak.com, Kamis (29/1/2026).

Perwakilan pihak sekolah menjelaskan, peristiwa ini bermula dari kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) yang dilaksanakan di sekolah pada Sabtu, 17 Januari 2026. Dalam kegiatan tersebut, dilaporkan adanya kehilangan uang kas sekitar Rp200 ribu.

Menurut Aris, dari sudut pandang pihak sekolah, almarhumah diduga berniat meminjam uang kas tersebut untuk keperluan kegiatan, namun lupa menyampaikan informasi kepada pengurus lainnya.

“Pada Selasa, 20 Januari 2026, dari rekaman CCTV memang terlihat almarhumah yang kemudian sempat beredar di beberapa media online,” jelasnya.

Keesokan harinya, siswi kelas VIII tersebut dipanggil wali kelas dan menjelaskan bahwa uang tersebut masih berada di rumah dan akan dikembalikan. Bahkan, salah seorang guru disebut telah bersedia membantu kebutuhan dana yang dimaksud.

Saat bertemu dengan teman-teman PMR-nya, korban sempat menjelaskan bahwa uang tersebut hanya dipinjam sementara. Tanggapan teman-temannya pun dinilai biasa.

“Teman-temannya hanya merespons sederhana, tidak ada perlakuan yang mengarah ke perundungan," ungkap Aris.

Namun, Aris menduga, karena merasa malu dan sedih, korban mengalami tekanan batin.

Pesan Terakhir Korban

Sebelum mengakhiri hidupnya, siswi tersebut sempat menuliskan sebuah surat yang ditujukan kepada orang tuanya. 

Surat itu berisi ungkapan perasaan malu, ketakutan, serta permintaan maaf kepada keluarga.

Dalam surat tersebut, korban menuliskan:

“Ma, maaf ye udah bikin mama kecewa. Kite takut ma besok ke sekolah karne name udah jelek. Kemarin dipanggil guru same kakak kelas. Makenye takut dan malu mau datang ke sekolah lagi.”

Korban juga mengungkapkan bahwa ia merasa tidak mampu menghadapi dampak dari permasalahan yang telah diselesaikan di sekolah.

“Gak kuat ngadepinnya. Makasih ya ma karne udah jadi ibu yang baik. Makasih udah dengerin cerita ini tanpa emosi. Mama gak perlu sedih karena ini dak perlu disedihkan.”

Di bagian akhir surat, korban menyampaikan pesan agar keluarga tetap bahagia dan meminta agar persoalan yang telah terjadi tidak diperpanjang.

“Tolong permasalahan ini jangan diramaikan. (Aku) cuma pengen dikuburkan dengan layak,” ucapnya.

Isi surat tersebut, menurut pihak terkait, tidak menyebutkan adanya tudingan atau kesalahan pihak lain, melainkan menggambarkan tekanan emosional yang dirasakan korban.

Pihak sekolah menegaskan, bahwa telah dilakukan pertemuan dan musyawarah bersama antara orang tua korban, pihak madrasah, serta Kemenag Kota Pontianak.

“Pada intinya keluarga sudah legowo dan menerima kejadian ini sebagai musibah,” tutur Aris.

Diketahui sebelumnya, Kapolsek Sungai Kakap, Ipda Dolas Zimmi Saputra Nainggolan membenarkan adanya peristiwa tersebut dan menyatakan bahwa pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian korban.

“Benar, kejadiannya pada Kamis, 22 Januari 2026, di rumah korban,” ujarnya.

Kanit Reskrim Polsek Sungai Kakap, Ipda Adrianus Ari menambahkan, berdasarkan keterangan sementara, korban merasa malu karena melakukan kesalahan di sekolah. Dugaan lain, termasuk isu perundungan, masih didalami.

“Informasi sementara, korban malu karena melakukan kesalahan di sekolah. Dugaan lainnya masih kami selidiki,” tegas Ari.

Korban ditemukan oleh kakaknya, R sekitar pukul 03.00 WIB dalam kondisi tergantung di pintu rumah. Penemuan itu juga langsung dilaporkan ke polisi. Personel segera turun melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan memeriksa saksi-saksi, termasuk R dan ibu mereka M (41). Sedangkan ayah korban tengah bekerja di Ketapang.

"Pukul 07.00 pagi Kamis itu personel identifikasi Polres Kubu Raya bersama Polsek Sungai Kakap tiba di lokasi untuk olah TKP dan melakukan pemotretan," ujarnya. 

Di samping itu, ia mengungkapkan, pihaknya menemukan surat tulisan tangan berisi permintaan maaf kepada keluarga serta pesan pribadi dari korban.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak dan pentingnya komunikasi terbuka antara anak, keluarga, dan lingkungan sekolah. Semua pihak diimbau untuk tidak berspekulasi dan menghormati privasi keluarga korban. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : Wati Susilawati

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar