Cakupan Imunisasi Campak Kubu Raya Stagnan di Angka 50 Persen
KUBU RAYA, insidepontianak.com – Cakupan imunisasi campak di Kabupaten Kubu Raya masih stagnan di angka 50 persen.
Apa penyebabnya?
Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Wan Iwansyah, mengatakan masih banyak orang tua menolak imunisasi. Alasannya, mereka khawatir anak sakit setelah disuntik vaksin.
Kekhawatiran itu muncul akibat informasi keliru tentang vaksin. Padahal, demam ringan atau nyeri setelah vaksinasi merupakan reaksi yang normal. Gejala tersebut justru menandakan tubuh sedang membentuk kekebalan.
“Ini yang harus diluruskan. Justru kalau tidak diimunisasi, risiko anak terkena penyakit jauh lebih besar,” kata Iwansyah, Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan, imunisasi campak merupakan program wajib pemerintah untuk melindungi anak dari penyakit menular yang berisiko menyebabkan kematian maupun kecacatan permanen.
“Vaksinnya gratis, petugasnya ada, fasilitasnya lengkap sampai ke posyandu. Jadi persoalannya bukan akses layanan, tetapi kepatuhan masyarakat yang masih rendah,” jelasnya.
Iwansyah mengingatkan, rendahnya cakupan imunisasi membuat perlindungan kelompok atau herd immunity sulit tercapai. Akibatnya, penyebaran penyakit menular seperti campak menjadi lebih mudah terjadi, terutama pada anak-anak.
“Bayi tidak mungkin datang sendiri ke posyandu. Waktunya hanya sekali dalam sebulan, tetapi masih banyak yang tidak datang,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan peran orang tua menjadi faktor paling menentukan keberhasilan program kesehatan tersebut.
“Ini yang menjadi pekerjaan rumah besar kami,” tambah Iwansyah.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kubu Raya mulai melihat sinyal positif. Kunjungan ke posyandu meningkat sejak adanya program MBG yang menyasar bayi dan balita.
Momentum ini diharapkan dapat mendongkrak cakupan imunisasi secara signifikan.
Iwansyah menyebut Kecamatan Sungai Raya menjadi wilayah dengan capaian imunisasi terendah. Hal itu seiring dengan jumlah penduduk yang paling besar di Kabupaten Kubu Raya.
Dinas Kesehatan menargetkan cakupan imunisasi minimal mencapai 80 persen pada 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi masif serta penguatan layanan di tingkat puskesmas hingga posyandu.
“Kalau kesadaran tidak meningkat, anak-anak kita yang paling berisiko. Imunisasi ini bukan sekadar program pemerintah, tetapi perlindungan bagi masa depan anak,” pungkasnya.***
Penulis : Gregorius
Editor : -
Tags :

Leave a comment