Petani Kelapa Tertekan Harga Anjlok, DPRD Kubu Raya Agendakan Raker dan Audiensi ke Kementan
KUBU RAYA, insidepontianak.com – DPRD Kubu Raya segera mengagendakan rapat kerja bersama Bupati Kubu Raya dan jajaran, menyikapi anjloknya harga kelapa yang membuat petani di Kecamatan Batu Ampar semakin tertekan.
Ketua Komisi IV DPRD Kubu Raya, Muhammad Amri, mengatakan rapat kerja diperlukan untuk membahas langkah-langkah taktis serta solusi jangka pendek bagi petani.
“Rapat kerja nanti juga direncanakan melibatkan pemerintah provinsi agar solusi yang dibahas lebih komprehensif,” ujarnya.
Hasil rapat tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan rencana audiensi ke Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan agar persoalan yang dihadapi petani bisa langsung disampaikan ke pemerintah pusat.
“Kami ingin ada solusi konkret supaya petani tidak terus merugi,” katanya.
Politisi PKS itu menilai anjloknya harga kelapa di tingkat petani, yang kini hanya berkisar Rp1.300 hingga Rp1.500 per butir, sangat memukul penghasilan masyarakat.
“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, bisa menjadi darurat ekonomi bagi petani kelapa. Mereka menggantungkan kebutuhan keluarga dari hasil panen,” ucapnya.
Turunnya harga kelapa disebut diduga dipengaruhi pengetatan pasar ekspor dan belum optimalnya penyerapan hasil panen oleh industri hilir di dalam negeri. Akibatnya, stok kelapa menumpuk di tingkat petani.
“Harga turun karena serapan pasar melemah, sementara industri hilir belum siap menampung hasil panen petani,” ujarnya.
Keluhan Petani
Situasi sulit kini benar-benar dirasakan petani di tingkat bawah. Di Desa Sungai Jawi, Kecamatan Batu Ampar, Effendi Sulaiman bahkan sudah sebulan membiarkan ribuan buah kelapa menumpuk di kebunnya. Sebagian sudah dikupas, tetapi belum juga terjual.
Pasalnya, pengepul yang biasa menampung hasil panen mulai membatasi pembelian karena stok di gudang masih menumpuk dan belum bisa didistribusikan ke perusahaan penampung di Pontianak.
“Sekarang ini, harga kelapa sudah murah, pembeli pun hampir tidak ada,” ujar Effendi kepada insidepontianak.com, Minggu (10/5/2026).
Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, pendapatan petani kelapa kini semakin sulit menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Effendi memiliki sekitar 1.000 pohon kelapa yang dibangunnya sendiri sejak 10 tahun lalu, bukan warisan keluarga. Kebun itu menjadi sumber utama penghidupan keluarganya.
Namun kini, penghasilan tersebut nyaris terhenti. Harga kelapa bulat hanya sekitar Rp1.300 per butir, tak lagi sebanding dengan biaya panen yang terus meningkat.
Upah memanjat satu pohon kelapa kini berkisar Rp3.500 hingga Rp4.000, bahkan di beberapa daerah mencapai Rp6.500.
Artinya, hasil penjualan satu butir kelapa bahkan tidak cukup menutup ongkos memanjat satu pohon.
Harga kopra juga ikut terjun bebas menjadi sekitar Rp7 ribu per kilogram, padahal biaya pengolahannya tidak kecil.
Mulai dari memanen buah, mengangkut ke tempat pengolahan, mengupas, membelah, hingga mencungkil isi kelapa, semuanya membutuhkan biaya tenaga kerja. Hanya proses penyalayan yang masih dikerjakan sendiri.
“Kalau jual kopra sekarang, hanya cukup menutup biaya upah. Kalaupun ada untung, sangat tipis,” katanya.
Menurut Effendi, petani baru bisa bernapas lega jika harga kelapa bulat berada di kisaran Rp5 ribu per butir dan harga kopra minimal Rp12 ribu per kilogram.
“Harga kelapa Rp5 ribu pernah kami rasakan sekitar tiga bulan lalu. Saat itu harga kopra juga tembus Rp12 ribu. Tapi hanya sebentar. Sekarang justru anjlok paling parah,” keluhnya.
Sentra Kelapa Terbesar
Kecamatan Batu Ampar dikenal sebagai kawasan perkebunan kelapa terbesar di Kabupaten Kubu Raya sekaligus salah satu sentra kelapa terbesar di Kalimantan Barat.
Luas areal kebun kelapa di wilayah itu mencapai sekitar 36.827 hektare dengan produksi sekitar 39.105 ton per tahun. Karena itu, sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup dari sektor perkebunan kelapa.
“Dari zaman nenek moyang, kelapa jadi andalan ekonomi kami,” ujar Effendi.
Selama ini, petani menjual kelapa dalam dua bentuk, yakni kelapa bulat dan kopra. Kelapa bulat dijual langsung setelah dipanen dan dikupas, sedangkan kopra merupakan daging kelapa kering yang menjadi bahan baku industri minyak kelapa, kosmetik, sabun, dan berbagai produk turunan lainnya.
Dalam kondisi harga yang terus jatuh, sebagian petani kembali memilih mengolah kelapa menjadi kopra meski prosesnya lebih rumit dan memakan waktu lebih lama.
“Kalau jual kopra dengan harga sekarang, setidaknya masih bisa menutup ongkos produksi daripada kelapa bertunas di kebun,” ujarnya.
Karena itu, Effendi berharap situasi ini tak berlangsung panjang. Pemerintah diminta tidak hanya mendorong hilirisasi, tetapi juga memastikan kebijakan yang diambil tidak memutus rantai penghidupan masyarakat yang selama puluhan tahun bergantung pada komoditas kelapa.***
Penulis : Gregorius
Editor : -
Tags :

Leave a comment