Soroti Lama Sekolah di Landak, Bupati Karolin Khawatir Daya Saing Generasi Muda

22 Juni 2026 16:06 WIB
Ilustrasi - siswa/siswi SD di Kabupaten Landak/IST

LANDAK, Insidepontianak.com - Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menyoroti masih rendahnya capaian pendidikan masyarakat di Kabupaten Landak yang tercermin dari rata-rata lama sekolah yang baru mencapai 7,76 tahun.

Menurut Karolin, kondisi tersebut menjadi tantangan serius karena akan berpengaruh langsung terhadap kualitas sumber daya manusia dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Landak yang saat ini berada pada angka 69,92.

Ia menjelaskan, selain rata-rata lama sekolah yang masih rendah, indikator pendidikan lainnya yang juga perlu mendapat perhatian adalah harapan lama sekolah yang baru mencapai 12,55 tahun.

"Rata-rata lama sekolah kita masih 7,76 tahun. Artinya rata-rata masyarakat hanya menempuh pendidikan sekitar tujuh tahun. Ini masih sangat rendah dan harus menjadi perhatian bersama," kata Karolin, Senin (22/6/2026).

Karolin mengaku prihatin karena masih banyak anak yang belum mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang menengah.

Padahal, tuntutan dunia kerja saat ini semakin tinggi dan membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Menurutnya, pekerjaan yang dahulu dianggap sederhana pun kini membutuhkan kemampuan tertentu. Karena itu, pendidikan menjadi bekal penting agar generasi muda mampu bersaing di pasar kerja.

"Harapan kita anak-anak Landak tidak hanya menjadi tenaga kerja kasar, tetapi mampu bersaing dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja," ujarnya.

Karolin juga mengingatkan bahwa Indonesia akan memasuki puncak bonus demografi pada periode 2030 hingga 2045.

Pada masa tersebut, sebagian besar penduduk berada pada usia produktif yang menjadi modal besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, ia menilai bonus demografi bisa berubah menjadi beban apabila tidak diimbangi dengan kualitas pendidikan yang memadai.

"Di satu sisi ini peluang karena jumlah angkatan kerja sangat besar. Tetapi kalau mereka tidak sekolah dan tidak memiliki keterampilan, maka yang muncul adalah tenaga kerja yang tidak terdidik," katanya.

Karena itu, Karolin meminta seluruh pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, orang tua hingga masyarakat, bekerja sama memastikan anak-anak tetap bersekolah dan memperoleh pendidikan yang layak.

Selain meningkatkan akses pendidikan, pemerintah daerah juga terus mendorong perbaikan mutu pembelajaran agar lulusan sekolah memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masa depan.

"Kita berupaya maksimal menyekolahkan anak-anak kita sambil terus meningkatkan kualitas pendidikan," pungkasnya.


Penulis : Ya Wahyu
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar