Mangrove Kalbar Terus Dibabat, BRIN Peringatkan Ancaman Serius bagi Ekosistem dan Ekonomi Pesisir
PONTIANAK, insidepontianak.com — Pembabatan hutan mangrove masih berlangsung di berbagai wilayah pesisir di Kalimantan Barat.
Kayunya dimanfaatkan sebagai bahan arang, sementara sebagian kawasan lainnya dikonversi menjadi tambak (kolam buatan).
Praktik ini dinilai mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir, sekaligus masa depan ekonomi masyarakat setempat.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Virni Budi Arifanti mengungkapkan, alasan mangrove kerap dieksploitasi, sebab memiliki nilai kalori tinggi sehingga diminati sebagai bahan baku arang.
“Kayu mangrove memang banyak digunakan untuk arang karena nilai kalorinya tinggi," kata Virni saat diwawancarai usai kegiatan talkshow restorasi mangrove di Hotel Mercure Pontianak, Senin (9/2/2026).
Ia tak menampik, bahwa pengambilan kayu mangrove secara terus-menerus berdampak besar terhadap hilangnya ekosistem penting.
"Kalau kita terus mengambil kayu mangrove, itu berarti kita menghilangkan ekosistem yang sangat vital,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bahwa mangrove tak hanya deretan pohon di pesisir. Ekosistem ini menjadi tempat berkembang biaknya berbagai biota laut, pelindung alami dari abrasi dan gelombang ekstrem, sekaligus penyerap karbon yang efektif.
Karena itu, menurut Virni, pendekatan pelestarian tidak cukup hanya dengan larangan atau penanaman bibit.
Yang lebih penting adalah meningkatkan kesadaran masyarakat serta menyediakan alternatif mata pencaharian agar warga tidak lagi bergantung pada kayu mangrove.
“Kita harus memberikan opsi ekonomi, supaya masyarakat tetap bisa hidup, tapi juga bisa mengonservasi mangrove yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.
Salah satu solusi yang kini didorong adalah pengembangan silvofishery, yakni mengombinasikan tambak dengan keberadaan mangrove.
Virni mengklaim, bahwa konsep ini dapat menekankan pengurangan luasan tambak, namun meningkatkan produktivitasnya.
“Dengan lahan sedikit saja, hasilnya bisa maksimal. Jadi masyarakat tidak perlu lagi mengonversi mangrove menjadi tambak,” jelas Virni.
Kemudian, ia mendorong pengembangan budidaya kepiting, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, hingga produk turunan seperti makanan olahan dan batik mangrove sebagai sumber pendapatan alternatif.
Di samping itu, Virni juga menyoroti praktik restorasi mangrove yang selama ini masih banyak keliru.
Sebab, banyak kegiatan berhenti pada penanaman, tanpa mempertimbangkan kondisi biofisik lokasi.
“Restorasi itu bukan hanya menanam. Harus dilihat pasang surut air, jenis tanah, dan spesies yang cocok," tegasnya.
Karena itu, ia menyarankan agar spesies mangrove lokal dapat juga dikembangkan. Dan tak hanya berfokus kepada satu spesies saja, seperti Rhizophora.
"Kalau bisa, spesies lokal ini juga dikembangkan, jangan hanya Rhizophora saja,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalbar, Setyo Haryani, mengungkapkan bahwa Kalibar menyimpan sekitar lima persen dari total mangrove nasional.
Angka itu, menurutnya menunjukkan potensi dan tanggung jawab besar untuk menjaga kawasan tersebut.
“Kita tahu mangrove Kalbar ini cukup luas, tapi ancamannya juga semakin besar ke depan. Karena itu perlindungan mangrove tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” kata Setyo.
Ia mengungkapkan, bahwa DLHK Kalbar melalui Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) berupaya mengoordinasikan berbagai program lintas sektor serta menggandeng NGO, dunia usaha, dan kelompok masyarakat.
Di Ketapang, Kayong Utara, Bengkayang, Sambas hingga Kubu Raya, sejumlah komunitas telah tumbuh dan aktif melakukan perlindungan mangrove.
“Ini poin plus bagi Kalbar. Inisiatif penyelamatan mangrove sudah tumbuh dari bawah, tidak selalu menunggu pemerintah,” ujarnya.
Namun, Setyo mengakui, persoalan ekonomi masyarakat pesisir masih menjadi tantangan utama.
Karena, belum ada alternatif pendapatan yang jelas, sehingga pembabatan mangrove masih berpotensi terus terjadi.
“Kita terus mencari solusi bersama mitra. Intinya bagaimana masyarakat tetap sejahtera, tapi mangrove juga tetap terjaga,” ucapnya.
Direktur Blue Forests, Rio Ahmad, menambahkan bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove tak seharusnya diukur dari jumlah bibit yang ditanam semata.
“Kita harus bekerja sama dengan alam, mendukung regenerasi alami mangrove,” ujarnya.
Adapun melalui rangkaian Training of Trainer ekonomi restorasi mangrove, ia berharap dapat melahirkan penggerak-penggerak baru di daerah yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap mangrove.
Di mana, yang dulunya mangrove sebagai sumber kayu dan lahan tambak, menjadi penopang kehidupan pesisir jangka panjang.
Namun, satu peringatan serius. Di tengah tingginya target restorasi mangrove nasional, pembabatan mangrove di Kalbar masih terjadi.
Tanpa kolaborasi kuat dan pendekatan ekonomi yang berpihak pada masyarakat, hutan mangrove dikhawatirkan terus menyusut dan dampaknya akan langsung dirasakan oleh generasi hari ini hingga mendatang. (Greg)
Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment