Iran-Israel Diambang Perang Total setelah Khamenei Dilaporkan Tewas

1 Maret 2026 12:45 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel dan Amerika Serikat. (Net)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Konflik Iran–Israel kini berada di titik kritis. Situasinya tak lagi sekadar perang bayangan. Ia bergerak menuju konfrontasi terbuka. Berpotensi perang total. Berisiko meluas.

Laporan media pemerintah Iran, kantor berita Tasnim dan Fars, mengonfirmasi Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat serangan udara Israel yang disebut melibatkan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026).

Sebelumnya, seorang pejabat senior Israel mengatakan kepada Reuters, bahwa jenazah pemimpin tertinggi Iran tersebut telah ditemukan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut menyampaikan pernyataan serupa melalui akun Truth Social miliknya.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,” tulis Trump, seraya menegaskan bahwa operasi militer tidak akan dihentikan.

Dalam konteks perang, kabar kematian Khamenei menjadi pukulan struktural. Kini, pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. 

Peristiwa ini tentu saja otomatis memicu eskalasi baru. Dampaknya bukan hanya meningkatkan agresi militer di Timur Tengah. Tapi juga mengguncang fondasi politik Republik Islam Iran.

Sebab, Khamenei bukan sekadar figur simbolik. Ia adalah poros kekuasaan Iran sejak 1989. Pemimpin tertinggi. Sebelumnya menjabat presiden pada 1981–1989.

Selama lebih dari tiga dekade, ia mengendalikan arah politik, militer, dan ideologi negara yang dipimpin oleh struktur ulama Syiah.

Keterlibatan Amerika Serikat memperparah bara konflik. Washington berdiri sebagai pelindung utama Israel. Dukungan politik, militer, dan intelijen mengalir tanpa jeda.

Setiap langkah AS adalah sinyal keras bagi Teheran.

Di tengah situasi panas, China mengecam serangan dan menyerukan gencatan senjata, mengutip laporan Reuters. Beijing menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan Iran.

Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa konflik tak lagi bersifat bilateral. Ia telah berubah menjadi arena tarik-menarik kekuatan global.

Sekutu Jadi Musuh

Hubungan Iran–Israel tidak selalu bermusuhan. Sebelum 1979, keduanya menjalin relasi pragmatis. Iran di era monarki memandang Israel sebagai mitra strategis non-Arab di kawasan Timur Tengah.

Namun, semua berubah setelah Revolusi Iran 1979. Rezim baru menolak eksistensi Israel dan menyebutnya rezim Zionis.

Sejak itu, permusuhan kedua negara itu bersifat ideologis. Bukan sekadar politik luar negeri, melainkan doktrin negara.

Ketegangan meningkat ketika Iran mengembangkan program nuklir pada awal 2000-an. Barat mencurigai ambisi senjata nuklir itu.

Israel melihatnya sebagai ancaman eksistensial. Amerika Serikat menilainya sebagai ancaman stabilitas global.

Maka, sanksi ekonomi dijatuhkan terhadap Iran. Tekanan diplomatik diperketat. Di sisi lain, Iran membangun jaringan pengaruh regional. Teheran mendukung Hezbollah di Lebanon, Hamas di Palestina, serta milisi di Irak dan Yaman.

Blok ini dikenal sebagai poros perlawanan terhadap Israel dan sekutunya. Israel merespons dengan serangan berkala, terutama di Suriah dan Lebanon.

Konflik lama berlangsung dalam bayang-bayang. Perang siber. Operasi intelijen. Serangan terbatas melalui proksi di negara ketiga.

Namun sejak 2024, pola berubah. Iran untuk pertama kalinya menyerang langsung Israel dengan rudal dan drone. Sejak itu, babak perang terbuka dimulai.

Pada 2025, serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dibalas dengan hujan misil. Kini, dengan dugaan operasi militer gabungan dan kabar tewasnya pemimpin tertinggi Iran, perang berisiko meluas dan berkepanjangan.

Dampak Global

Timur Tengah adalah simpul energi dunia. Iran berada di dekat Selat Hormuz. Sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati jalur ini.

Jika konflik Iran–Israel dengan keterlibatan Amerika meluas dan jalur terganggu, harga minyak akan melonjak. Dampaknya langsung terasa pada ekonomi global.

Bagi Indonesia, konsekuensinya nyata. Sebab, Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan BBM. Jika harga global naik, biaya impor membengkak. Beban subsidi meningkat. APBN tertekan. Inflasi merambat ke harga pangan dan logistik.

Dampak lain menyentuh pasar keuangan. Saat konflik global memanas, investor beralih ke aset aman seperti dolar AS dan emas.

Jika situasi berkepanjangan, rupiah berisiko melemah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terancam tertekan akibat arus modal keluar.

Di sisi lain, negara berkembang seperti Indonesia pun selalu lebih rentan terhadap guncangan geopolitik.

Di sisi diplomatik, posisi Indonesia tidak sederhana. Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara.

Namun, jika konflik meluas, tekanan moral untuk bersuara lebih keras akan menguat. Sementara Indonesia tetap harus menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat sebagai mitra dagang dan mitra pertahanan.

Karena itu, ruang manuver politik luar negeri Indonesia harus dihitung cermat dalam merespons ketegangan di Timur Tengah. Prinsip bebas aktif diuji dalam situasi krisis.

Salah langkah bukan hanya berdampak pada diplomasi. Ia bisa menekan ekonomi nasional dan mengganggu stabilitas dalam negeri.***


Penulis : Abdul Halikurrahman/berbagai sumber
Editor : Abdul Halikurrahman

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar