Makna Kue Keranjang dalam Perayaan Imlek
PONTIANAK, insidepontianak.com – Setiap perayaan Tahun Baru Imlek, satu hidangan hampir tak pernah absen dari altar sembahyang maupun meja makan keluarga Tionghoa: kue keranjang.
Teksturnya kenyal. Rasanya manis. Bentuknya bulat. Namun, di balik kesederhanaannya, kue keranjang menyimpan filosofi kehidupan yang dalam.
Budayawan Tionghoa asal Singkawang, Dji Sye Lim menjelaskan, bahwa kue keranjang berasal dari tradisi masyarakat Tiongkok Selatan, khususnya Tiociu, Hokkian, dan Hakka.
Dalam bahasa Hakka, kue ini disebut thiam pan, artinya kue manis. Bahan dasarnya beras ketan yang digiling dan dikukus, lalu dicampur gula putih serta gula merah.
Dahulu, adonannya dicetak menggunakan anyaman bambu berlapis daun pisang, sehingga di Indonesia dikenal sebagai “kue keranjang”.
Namun, yang terpenting bukanlah bentuknya, melainkan maknanya.
“Rasa manis itu melambangkan kebahagiaan. Bukan pahit, bukan sengsara,” kata Dji, Selasa (17/2/2026).
Di Tiongkok bagian utara, kue serupa dikenal sebagai nian gao. Kata "nian" berarti tahun, sementara "gao" bermakna tinggi.
Filosofinya, setiap orang berharap kehidupannya di tahun baru meningkat lebih berhasil, lebih bahagia, dan lebih baik dari sebelumnya.
Bulat, Lengket, dan Sarat Makna
Bentuk kue keranjang yang bulat juga bukan tanpa arti. Menurut Dji, bulat melambangkan persatuan keluarga.
“Itu sebabnya hampir setiap keluarga Tionghoa wajib ada kue keranjang saat Imlek. Simbol keluarga harmonis dan harapan hidup lebih sejahtera,” jelasnya.
Dalam kepercayaan Konghucu, kue keranjang juga dipersembahkan kepada Dewa Dapur yang diyakini akan melaporkan perilaku penghuni rumah kepada Dewa Langit.
Dengan menyajikan makanan manis, umat berharap laporan yang disampaikan adalah hal-hal baik.
Sementara, dalam tradisi Hakka, kue keranjang baru dimakan pada hari ke-20 atau ke-21 Imlek.
Bahkan, teksturnya yang lengket dipercaya bisa dimanfaatkan untuk menambal atap rumah bocor. Sebuah simbol bahwa harapan dan keyakinan juga hadir dalam keseharian.
Di Pontianak, tradisi itu masih hidup. Dari klenteng hingga ruang keluarga, kue keranjang menjadi pengikat nilai spiritual dan kebersamaan.
Lebih dari sekedar kudapan musiman, kue keranjang adalah doa yang bisa disantap tentang persatuan, kebahagiaan, dan harapan akan kehidupan yang lebih manis di tahun yang baru. (Greg)
Penulis : Gregorius
Editor : -
Tags :

Leave a comment